Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mengagumi Kemampuan Lawan


Kibasan tangan yang dihasilkan oleh jurus tersebut mendatangkan angin menderu-deru bagaikan badai di tengah padang pasir. Zhang Fei sedikit kerepotan. Tapi dia tetap berusaha untuk melayani Biksu Sembilan Nyawa.


Harus diakui, kalau dalam masalah ilmu pedang, mungkin Zhang Fei berada cukup jauh di atas Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu.


Namun kalau dalam ilmu tangan kosong, bisa dilihat bahwa Zhang Fei tidak terlalu unggul. Hal itu terjadi karena selama ini, Zhang Fei lebih serius mendalami ilmu pedang daripada tangan kosong.


Sebenarnya bisa saja ia menggunakan pedangnya, tapi Zhang Fei tidak mau melakukan hal tersebut. Sebab hal itu bisa mendatangkan ejekan dari banyak orang karena akan dianggap tidak seimbang.


Di satu sisi lain, Ketua Dunia Persilatan juga sengaja melakukannya dengan tujuan untuk melatih jurus-jurus tangan kosong yang dimiliki.


Sampah sejauh ini, rasanya yang paling banyak adalah Biksu Sembilan Nyawa. Dia tidak pernah berhenti melancarkan jurus-jurus kelas atas.


Untunglah Zhang Fei telah mempunyai bekal yang lebih dari cukup. Sehingga meskipun ia selalu berada di posisi bertahan, namun untuk bisa mengalahkannya, hal itu bukankah suatu perkara mudah.


'Bocah ini benar-benar tangguh. Meskipun aku sudah mengeluarkan rangkaian jurus Telapak Tangan Pencabut Nyawa pun, ia masih tetap bisa mengatasinya. Hemm ... aku tidak bisa terus seperti ini,' batin Biksu Sembilan Nyawa sambil terus menjalankan pertarungan.


Dalam pada itu, ia berniat untuk mengeluarkan jurus yang sedikit lebih tinggi. Dirinya ingin segera menyelesaikan pertarungan tersebut sebelum tenaganya habis.


Wutt!!! Blamm!!!


Biksu Sembilan Nyawa tiba-tiba melemparkan serangan dua buah telapak tangan. Zhang Fei menahannya dengan tepat waktu.


Benturan jurus terjadi. Keduanya sama-sama terdorong ke belakang. Zhang Fei terdorong sejauh tiga langkah. Sedangkan Biksu Sembilan Nyawa tiga langkah lebih sedikit.


'Hemm ... ternyata aku masih kalah dalam soal tenaga,' batinnya sedikit terkejut.


Biksu Sembilan Nyawa tidak menyangka, ternyata tenaga dalam Ketua Dunia Persilatan itu bahkan masih berada di atasnya.


Memang, selama jalannya pertarungan tersebut, Biksu Sembilan Nyawa hanya menang dalam soal pengalaman saja.


Sedangkan terkait tenaga dan kemampuan, ia jelas masih kalah dari Zhang Fei.


"Ternyata Ketua Dunia Persilatan memang merepotkan. Aku tidak menyangka bisa bertarung selama ini," katanya sambil tertawa lantang.


"Ya, aku pun tidak menyangka. Rupanya Biksu Sembilan Nyawa masih kuat bertarung sampai puluhan jurus. Padahal seharusnya, di usia yang begitu tua, tulang-tulangnya sudah harus keropos," Zhang Fei ikut tertawa. Tertawa dengan lantang.


Sementara datuk sesat tersebut, seketika ia memelototkan kedua matanya ketika mendengar ejekan itu. Seumur hidup, rasanya baru sekarang saja ada orang yang berani menghinanya.


Ia jelas tidak terima! Apalagi kalau mengingat kedudukannya sebagai salah satu Datuk Dunia Persilatan.


Namun kalau untuk membalas ejekan itu, ia tidak bisa memastikannya sama sekali!


"Ketua Fei, mari kita akhiri saja pertarungan ini," ucapnya dengan nada dalam.


"Mari, aku juga sudah tidak sabar lagi,"


Wushh!!!


Biksu Sembilan Nyawa langsung meluncur dengan deras. Dia juga melepaskan kalung tasbih yang besar-besar itu ketika berada dalam perjalanannya.


Wutt!!! Wungg!!! Wungg!!!


Kalung tasbih sudah bergerak dari kanan dan kiri. Biksu Sembilan Nyawa menyerang menggunakan "senjata" tersebut.


Zhang Fei tidak berani memandang rendah. Apalagi dia bisa merasakan bahaya besar yang terkandung dalam setiap serangannya.


Ketika mendapat kesempatan untuk mengambil langkah, dengan segera ia mengeluarkan Pedang Raja Dewa dari sarungnya.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan antar senjata pusaka terdengar nyaring. Percikan bunga api membumbung ke tengah udara.


Setiap benturan yang terjadi itu selalu keras dan bertenaga. Sampai-sampai gelombang kejut pun ikut tercipta ketika terjadinya benturan tersebut.


Ia semakin marah. Biksu Sembilan Nyawa membentak dengan keras. Tubuhnya melompat tinggi lalu menerjang ke depan. Kalung tasbih bergerak dengan sangat cepat. Dalam waktu yang bersamaan, ia pun turut melancarkan pukulan dengan tangan kirinya.


Beberapa serangan maut datang sekaligus!


Zhang Fei semakin waspada. Dalam pada itu, ia segera mengeluarkan jurus Murka Pedang Dewa!


Wutt!!! Trangg!!!


Kedua tokoh dunia persilatan itu sama-sama bergerak dengan sangat cepat sekali. Tiada seorang pun yang mampu melihatnya dengan jelas.


Yao Mei yang melihatnya dari pinggir pun ikut merasa tegang. Tapi di satu sisi, ia juga merasa kagum karena ternyata kemampuan Zhang Fei sudah meningkat sangat pesat sekali.


"Hebat sekali. Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata kemampuan Zhang Fei sudah meningkat," gumamnya sambil tersenyum girang.


Sementara di tengah arena, saat ini terlihat Zhang Fei mulai mendominasi pertarungan. Pedang Raja Dewa telah menunjukkan taring.


Beberapa kali ia mendapat kesempatan untuk memberikan luka di tubuh Biksu Sembilan Nyawa. Hanya saja, orang tua itu mempunyai kemampuan gesit sehingga bisa selalu selamat dari maut.


'Tidak heran dia dijuluki Biksu Sembilan Nyawa, ternyata ketika nyawanya ada di ujung tanduk, ia selalu bisa menyelamatkan diri,' batin Zhang Fei merasa kagum kepadanya.


Dalam pada itu, pertarungan masih terus berlanjut. Mereka terus saling serang satu sama lain. Semakin lama jalannya pertarungan, maka semakin hebat dan menegangkan pula keadaan di sekitar arena.


Kalung tasbih itu terus menyambar-nyambar. Hawa panas yang dihasilkannya mampu membuat kain terbakar.


Zhang Fei tidak mau kalah. Pedang Raja Dewa diputar semakin kencang sehingga menciptakan gulungan angin dan bunga pedang yang mengincar seluruh tubuh.


Sekitar lima belas jurus kemudian, Biksu Sembilan Nyawa semakin terdesak. Ia tidak bisa melepaskan diri dari jeratan jurus Murka Pedang Dewa.


Wutt!!! Blarr!!!


Pada saat detik-detik penentuan itu, tiba-tiba dirinya mengibaskan kalung tasbihnya dengan kencang. Gulungan hawa panas menyerbu keluar. Ledakan besar seketika terjadi pada saat dua tenaga dalam bertemu.


Kepulan debu mengepul tinggi menutupi pemandangan.


Biksu Sembilan Nyawa memanfaatkan hal itu. Dengan segera ia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh dan pergi dari sana.


Zhang Fei tidak percaya, ternyata sekelas Datuk Dunia Persilatan sepertinya berani melakukan tindakan pengecut.


Ia baru mengetahui hal itu setelah kepulan debu lenyap.


Karena lawan sudah melarikan diri, maka Zhang Fei memutuskan untuk menghampiri Yao Mei.


"Mengapa kau tidak mengejarnya?" tanya gadis itu ketika Zhang Fei sudah tiba di hadapannya.


"Aku sudah kehilangan jejak. Untuk apa mengejarnya? Lagi pula ... aku mengkhawatirkan kondisimu, Nona Mei," jawab Zhang Fei sambil tersenyum lembut.


Wajah Yao Mei kembali memerah karena malu. Ia menundukkan kepalanya sedalam mungkin.


"Kau selalu saja menggodaku," katanya lirih.


"Aku tidak menggoda. Aku mengatakan yang sebenarnya,"


Zhang Fei segera merangkul gadis cantik itu. Ia membawanya pergi dari sana.


"Ke mana kita pergi?" tanya Yao Mei tanpa melepaskan rangkulan tersebut.


"Ke Gedung Ketua Dunia Persilatan,"


"Lalu, bagaiamana dengan yang lain?"


"Kau tidak perlu khawatir. Anggota Organisasi Pedang Cahaya akan mengurusnya,"