
"Orang-orang seperti mereka baru akan bertobat dan menyesali perbuatannya ketika nyawa sudah berada di kerongkongan, Ketua Fei," kata Biksu Hung sambil tersenyum ke arah Zhang Fei.
Ketua Dunia Persilatan mengangguk sebagai tanda setuju. Hal semacam ini sudah sering terjadi. Bahkan dari dahulu sampai sekarang, masih tetap berlaku.
"Lalu, apakah kau sudah mempersiapkan semuanya, Biksu Hung?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan kembali ke inti pembahasan saat itu.
"Ya, aku sudah melakukannya, Tuan Wu," jawab Biksu Hung dengan cepat. "Setidaknya aku akan menurunkan murid-murid kelas atas dalam jumlah yang sama persis,"
Pihak penyerang diperkirakan berjumlah lima puluh orang. Kalau Biksu Hung menjawab seperti barusan, itu artinya dia pun setidaknya telah menyiapkan lima puluh orang murid kelas atas dari Kuil Seribu Dewa.
"Dalam hitungan tersebut, ada aku dan juga petinggi yang lain," lanjut Biksu Hung sebelum yang lain bicara.
"Eh? Biksu juga akan turun tangan?" Zhang Fei mengerutkan kening. Dia cukup terkejut mendengar ucapannya.
"Ya, aku akan ikut dalam pertempuran itu, Ketua Fei," Biksu Hung menganggukkan kepalanya. "Bagaimanapun juga, aku adalah ketua dari Kuil Seribu Dewa. Dan orang-orang itu, pasti akan mencariku. Supaya meminimalisir korban, tentu saja aku harus ikut terlibat,"
"Hemm ... benar juga," kata Zhang Fei membenarkan ucapan itu.
Tiga orang tokoh itu kemudian saling terdiam. Mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Biksu Hung, kalau boleh tahu, berapa jumlah murid yang ada di kuil saat ini?" tanya Zhang Fei setelah terdiam beberapa waktu.
"Mungkin kurang dari seribu orang, Ketua Fei,"
"Ke mana murid-murid yang lainnya, Biksu Hung?"
Zhang Fei cukup kaget mendengar jawaban itu. Dia tidak menyangka bahwa murid yang berada di dalam kuil, ternyata jumlahnya kurang dari angka seribu.
"Murid-murid yang lain ada di setiap pelosok negeri ini, Ketua Fei. Asal kau tahu saja, setiap anak murid yang sudah lulus, mereka akan segera aku suruh untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan secara langsung. Bukan hanya itu saja, bahkan sebagian besar juga ada yang menjadi prajurit Kekaisaran,"
"Oh, benarkah? Wah, hebat sekali," Zhang Fei memuji dengan tulus. Dia baru tahu, ternyata di Istana Kekaisaran terdapat anak murid dari Kuil Seribu Dewa.
Biksu Hung hanya tersenyum menanggapi pujian tersebut. "Ah, semua itu bukan apa-apa, Ketua Fei. Harta dan jabatan hanya titipan. Sebenarnya kita tidak memiliki apa-apa, jadi, apa pula yang bisa kita sombongkan?"
Semua yang kita miliki saat ini hanya titipan sementara. Sewaktu-waktu, semua hal itu bisa lenyap hanya dalam waktu singkat.
Jika Tuhan mau, maka Dia bisa mengambil semuanya tanpa kau duga sebelumnya.
Ketiga orang tersebut melangsungkan pembicaraan sampai sore hari tiba. Mereka juga membahas banyak hal terkait persiapan yang telah dilakukan.
Tidak lupa juga, ketiga orang itu membicarakan tentang keadaan dunia persilatan saat ini.
Tentunya, apa yang sedang terjadi sekarang juga telah diketahui oleh Biksu Hung. Bahkan beberapa waktu sebelumnya, dia juga telah menyuruh cukup banyak murid untuk membantu pasukan Istana Kekaisaran di medan laga.
Sayangnya, Ketua Kuil Seribu Dewa itu menyuruh murid-muridnya untuk membantu secara diam-diam. Jadi, wajar kalau hal ini masih belum diketahui oleh banyak orang.
###
Dua hari sudah berlalu lagi. Sinar mentari pagi sudah mencorong di ufuk sebelah timur. Walaupun Sang Surya belum menampakkan dirinya kepada seluruh makhluk di muka bumi, tapi sinar kehangatannya sudah bisa dirasakan dengan jelas.
Keadaan di Kuil Seribu Dewa tampak sepi. Seolah-olah kuil yang megah itu tidak berpenghuni.
Hal itu terjadi karena Biksu Hung telah menyuruh murid-murid Junior untuk bersembunyi di ruang rahasia yang memang telah diciptakan semenjak kuil itu berdiri.
Sekarang, murid yang tersisa dan masih menampakkan diri, jumlahnya mungkin hanya sekitar tiga ratus orang saja.
Di setiap sudut area kuil, di sana sudah ada murid-murid kelas atas yang ditugaskan untuk menyambut serangan nanti.
Biksu Hung sengaja melakukan hal itu. Dia telah membagi-bagi tugas kepada masing-masing murid. Tujuannya supaya pertempuran berdarah nanti bisa berlangsung diluar kuil.
Baginya, Kuil Seribu Dewa adalah tempat yang benar-benar suci. Jangankan ada banyak darah, bahkan ada setetes darah yang berasal dari pertempuran pun, hal itu tidak boleh terjadi karena dinilai akan mengurangi kesuciannya.
Maka dari itu, sejak awal mula Kuil Seribu Dewa berdiri sampai saat ini, satu kali pun tidak pernah terjadi pertempuran berdarah.
Karena hal itu pula, dia cukup kesal terkait kesalahpahaman yang menimpa Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan beberapa hari lalu.
Tanpa diketahui oleh orang lain, Biksu Hung telah memarahi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Saat ini, Zhang Fei dan para petinggi yang lain sudah ada di ruang makan. Mereka baru saja selesai sarapan pagi.
Sebenarnya pada saat itu, Zhang Fei sangat ingin minum arak. Apalagi kebiasaannya setiap selesai makan adalah minum air kata-kata.
Tetapi sayang sekali, di sana dia tidak bisa melakukan hal tersebut. Selain karena araknya tidak ada, alasan lainnya adalah karena para biksu tidak pernah minum arak.
"Biksu Huang, apakah kau sudah menyelesaikan semuanya?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan di tengah-tengah kesunyian yang terjadi di ruangan tersebut.
"Sudah, Tuan Wu. Setiap murid yang akan terlibat nanti, sudah aku letakkan di tempat-tempat strategis untuk menyambut kedatangan mereka,"
"Bagus. Aku rasa, kemenangan akan berpihak kepada kita," katanya penuh percaya diri.
"Ya, semoga saja begitu, Tuan Wu. Maka dari itu, aku sangat meminta bantuan kalian berdua," ujar Biksu Hung sambil memandang ke arah Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan secara bergantian.
"Tidak berani, tidak berani. Bantuan kami nanti, mungkin tidak akan berarti apa-apa bagi kalian. Apalagi, kemampuan kami berdua jelas berada jauh di bawah Biksu Hung," kata Zhang Fei tidak enak karena mendengar ucapan itu.
"Ah, Ketua Fei terlalu merendah. Kami sudah tahu sampai di mana kemampuanmu," orang tua itu berkata sambil tersenyum lembut.
Zhang Fei tidak berkata lagi. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Untunglah pada saat itu Pendekar Pedang Perpisahan segera berbicara lagi.
"Sudahlah. Yang penting nantinya kita harus bekerja sama," ia bicara dan menengahi mereka berdua.
"Benar,"
"Setuju,"
Mereka kemudian melanjutkan pembicaraannya sampai mentari pagi menampakkan dirinya. Setelah itu, para tokoh dunia persilatan tersebut langsung keluar dari dalam ruangan.
Mereka berjalan ke tengah halaman. Tanpa ada yang berkata apapun, tiba-tiba saja orang-orang tersebut langsung melesat ke berbagai penjuru yang ada.
Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan pun tidak terkecuali. Keduanya melompat dan bersembunyi di atas dahan pohon yang cukup tinggi.
Selain tempat itu nyaman untuk bersembunyi, alasan lainnya adalah supaya mereka bisa melihat pergerakan musuh dengan jelas.