Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dikepung di Tengah Hutan


Zhang Fei mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian melarikan kudanya lebih kencang lagi.


Delapan ekor kuda jempolan berlari menembus jalan hutan belantara itu. Suara derap langkah kakinya terdengar riuh. Setiap langkah itu juga meninggalkan bekas cukup dalam dan debu yang mengepul tinggi ke atas.


Tanpa terasa, matahari pun akhirnya lenyap dibalik bukit. Rembulan pun muncul segera dengan sinarnya yang terang benderang.


Kebetulan, cuaca malam ini sangat cerah. Bulan pun menampakkan diri seutuhnya. Sehingga perjalanan para tokoh dunia persilatan itu masih bisa dilanjutkan.


Namun berselang beberapa waktu berikutnya, tiba-tiba Zhang Fei menghentikan laju kudanya secara mendadak. Pada saat itu, padahal kuda yang ia tunggangi sedang berlari kencang.


Andai saja Zhang Fei kurang ahli, niscaya dia akan langsung jatuh berdebum ke tanah. Begitu juga dengan para tokoh yang lain. Kalau mereka bukan ahli dalam menunggangi kuda, mungkin orang-orang itu pasti akan bertabrakan satu sama lain.


"Anak Fei, ada apa?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kaget bercampur kesal.


"Zhang Fei, kau tidak hati-hati sekali. Hampir saja kau mencelakai kami semua," Yin Yin yang di belakang juga ikut berteriak. Agaknya dia pun merasakan kekesalan yang sama.


Sementara itu, walaupun para tokoh tersebut memarahi dirinya, namun Zhang Fei bersikap seolah-olah tidak mendengar.


Ia tetap diam sambil memandang ke setiap penjuru mata angin. Pohon-pohon tampak tumbuh tinggi, seolah-olah itu adalah raksasa yang menembus langit.


"Kita telah terkepung!" ucap Zhang Fei dengan perasaan kaget.


"Apa maksudmu, anak Fei?" tanya Pendekar Tombak Angin dengan cepat.


"Kita telah gegabah. Ternyata di sini sudah ada orang lebih dulu," Dewa Arak Tanpa Bayangan juga ikut berbicara. Kini dia pun mulai mengerti akan keadaannya.


"Benar, sepertinya sudah tidak ada jalan keluar lagi. Di belakang pun ada orang yang mengepung kita," kata Pendekar Pedang Perpisahan setelah ia menoleh ke belakang.


Mendengar ucapan para tokoh angkatan tua itu, Yao Mei dan Yin Yin terlihat sangat panik. Dua orang gadis itu terus menengok ke sana kemari.


Sepertinya mereka sedang mencari-cari orang yang dimaksudkan. Sayangnya walau sudah mencari beberapa saat, keduanya tidak berhasil menemukan satu orang pun.


Wushh!!! Wushh!!!


Dari balik kegelapan hutan tiba-tiba ada suara decitan nyaring yang datang dengan sangat cepat. Tidak lama setelahnya terlihat ada serbuan cahaya putih keperakan yang tiba secara bersamaan.


Serengan gelap itu tepatnya datang dari arah depan. Mengincar persis ke tubuh Zhang Fei.


Menyadari akan adanya bahaya yang mengancam, buru-buru Ketua Dunia Persilatan itu melompat dari punggung kuda.


Pada saat berada di tengah udara, kedua tangannya langsung diayunkan ke depan.


Segulung tenaga sakti tercipta dan langsung menerjang ke arah datangnya serangan gelap. Setelah berbenturan dengan tenaga sakti itu, serangan gelap tadi langsung rontok tepat di depannya.


Ketika cahaya bulan tanpa sengaja menyinari, Zhang Fei segera tahu bahwa yang datang itu bukan lain adalah serbuan jarum perak yang sangat kecil sekali.


Ia segera berjongkok dan memungut satu batang jarum. Zhang Fei memperhatikan ujung jarum itu lekat-lekat, tidak lupa juga dia pun menciumnya.


"Jarum perak ini mengandung racun yang cukup ganas. Sepertinya orang yang menyerang kita itu tidak main-main," kata Zhang Fei setelah selesai menyelidiki.


Mendengar ucapan itu, yang lainnya segera berseru tertahan. Mereka pun langsung turun dari punggung kudanya masing-masing.


Tanpa diberi komando, para tokoh itu segera melakukan persiapan.


"Awas!" Yao Mei tiba-tiba berseru. Dia sangat kaget ketika ada tiga batang pisau terbang yang datang tepat ke arah Yin Yin.


Trangg!!! Trangg!!!


"Tuan yang ada dibalik kegelapan, kalau memang kalian mempunyai nyali, silahkan keluar dan tampakkan diri," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan dengan suara nyaring.


Mereka menunggu untuk beberapa saat. Tapi ternyata tidak ada jawaban dari ucapan tersebut.


Karena kesabarannya sudah mulai habis, tanpa basa-basi lagi, Orang Tua Aneh Tionggoan langsung mengambil tindakan.


Kedua tangannya didorong ke depan. Tepat ke arah yang ia curigai ada seseorang.


Blarr!!!


Ledakan keras terdengar. Cahaya putih menyilaukan sempat menerangi malam meskipun itu hanya sesaat.


Pada saat yang bersamaan, orang tua itu pun sempat melihat ada dua buah bayangan yang berkelebat dengan cepat.


Tidak lama setelah itu, hujan senjata rahasia kembali terjadi. Kali ini bukan hanya jarum perak saja, bahkan senjata-senjata rahasia lainnya pun ikut melesat dari setiap penjuru.


Kecepatan semua senjata rahasia itu tidak bisa dipandang enteng. Kalau di sana ada pendekar kelas satu, niscaya ia akan langsung tewas seketika.


Untunglah orang-orang tersebut sudah melebihi tingkatan itu. Sehingga masing-masing dari mereka bisa menangkis atau menghindari serangan yang datang dari balik kegelapan.


Hanya saja sebagai gantinya, kuda jempolan yang mereka tunggangi harus rela menjadi korban dari hujan senjata rahasia itu.


Suara ringkik kuda sempat meramaikan keadaan di tengah hutan belantara. Delapan ekor kuda jempolan itu langsung roboh dengan luka-luka di beberapa bagian tubuhnya.


Para tokoh yang ada semakin geram. Mereka paling tidak suka kalau menghadapi musuh yang hanya berani bermain di dalam gelap.


"Tuan Kai, keluarkan jurus-jurus jarak jauh yang kau miliki," kata Pendekar Pedang Perpisahan dengan nada serius.


"Untuk apa? Kita masih belum tahu di mana posisi musuh," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Lakukan saja. Nanti kau akan segera tahu,"


"Baiklah," karena ia sadar situasinya sudah tidak memungkinkan, maka Orang Tua Aneh Tionggoan memutuskan untuk menuruti saja ucapan Pendekar Pedang Perpisahan.


Walaupun dia belum tahu apa dan bagaimana rencananya. Tapi dalam hati kecilnya, Orang Tua Aneh Tionggoan yakin dan percaya kepada datuk sesat tersebut.


Wushh!!!


Kedua telapak tangannya di dorong ke depan dan ke arah lain. Ledakan besar langsung terdengar beberapa kali. Kilatan cahaya putih juga sempat menerangi kegelapan di tengah hutan.


Pada waktu yang bersamaan itulah, Pendekar Pedang Perpisahan telah bergerak secepat kilat. Suara pedang yang menebas sesuatu langsung terdengar. Disusul kemudian dengan jeritan yang memilukan hati.


Bukan hanya dia saja, bahkan ternyata, Zhang Fei pun tidak tinggal diam.


Bertepatan dengan Pendekar Pedang Perpisahan bergerak, ia pun segera melakukan hal yang sama.


Zhang Fei melesat bagaikan kilat menuju ke tempat di mana ia melihat ada sekilas bayangan manusia.


Meskipun cahaya itu hanya terjadi sepersekian detik saja, namun hal tersebut sudah lebih daripada cukup.


Beberapa jeritan ngeri terdengar. Suara tubuh yang ambruk ke tanah pun segera terjadi sebanyak beberapa kali.


Kejadian itu berlangsung singkat. Tapi apa yang diakibatkannya benar-benar membuat siapa pun terkejut.


"Sepertinya orang yang hadir di sini cukup banyak juga," kata Zhang Fei setelah dia kembali ke tempat semula.