
"Ah, baiklah, Tuan Ying. Terimakasih, terimakasih banyak," Yin Yin memberikan hormat beberapa kali. Dia benar-benar senang setelah mendengar bahwa kakeknya akan kembali pulih.
Tidak hanya dia saja, bahkan Zhang Fei, Yao Mei dan Tabib Dewa Dong Ying sendiri juga merasakan hal yang sama.
Kalau si Pengemis Tongkat Sakti benar-benar pulih, itu artinya, dunia persilatan akan kembali mempunyai tokoh angkatan tua yang memiliki kemampuan tinggi.
Beberapa saat kemudian, orang-orang itu segera keluar dari ruangan. Mereka membiarkan si Pengemis Tongkat Sakti sendirian supaya bisa langsung istirahat.
Sementara para tokoh itu, saat ini mereka sudah berada kembali di halaman belakang.
Arak segera dituang ke dalam cawan. Hidangan mewah pun segera disuguhkan.
Setelah bersulang arak beberapa kali, Yin Yin segera berkata lagi.
"Aku sangat tidak menyangka bahwa Kakek akan sembuh. Terimakasih, Tabib Dewa. Kalau tidak ada dirimu, mungkin Kakek akan seperti itu selamanya,"
Gadis cantik itu tidak henti-hentinya berterimakasih. Kesenangan yang dia rasakan saat ini tidak bisa digambarkan lagi.
Mungkin dalam hidupnya, saat ini adalah saat di mana dia benar-benar merasa bahagia.
"Nona Yin tidak perlu berlebihan seperti itu. Semua ini sudah ditakdirkan oleh langit," ucap Tabib Dewa setelah minum arak.
"Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dibutuhkannya, Tuan Ying?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arahnya.
"Biaya apa, Ketua Fei?" tanya orang tua itu.
"Tentu saja biaya pengobatan Tuan Bai,"
"Aih ... tidak perlu, tidak perlu. Ketua Fei tidak perlu membayarku walaupun itu hanya satu keping tembaga," Tabib Dewa Dong Ying memberi isyarat dengan tangannya.
"Mana bisa begitu, Tuan Ying? Kau jauh-jauh datang kemari, masa aku tidak boleh membayarmu?"
"Benar, Tabib Dewa. Katakan saja berapa biayanya. Aku pasti akan melunasinya langsung," sambung Yin Yin membenarkan ucapan Zhang Fei.
"Nona Yin, Ketua Fei, sungguh, kalian tidak perlu membayarku. Apa yang aku lakukan ini memang sudah merupakan kewajiban. Justru akulah yang harus berterimakasih kepada Ketua Fei,"
"Eh, mengapa Tuan Ying harus berterimakasih kepadaku?" tanya Zhang Fei terlihat kebingungan.
"Karena surat yang dikirimkan oleh Ketua Fei itu, aku jadi mempunyai izin dari Kaisar untuk melihat dunia luar sekaligus bertemu dengan sahabat lama," ucapnya seraya tersenyum hangat.
"Aih ... aku jadi bingung sendiri," Zhang Fei menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah, Ketua Fei. Lupakan saja masalah ini. Lebih baik, kita membahas hal lain saja," ucapnya.
"Hemm ... baiklah,"
Empat tokoh dunia persilatan itu segera melangsungkan pembicaraan. Mereka membahas beberapa hal yang berhubungan dengan dunia persilatan dan juga dunia politik.
Dalam pembicaraan tersebut, tidak lupa juga Zhang Fei bertanya tentang rencana Kaisar beberapa waktu lalu yang mengatakan ingin mengundang para Kaisar dari negeri lain.
"Terkait masalah tersebut, sayangnya aku tidak mengetahui sama sekali, Ketua Fei. Kaisar tidak pernah membicarakannya kepadaku," jawab Tabib Dewa sambil menghembuskan nafas berat.
"Oh, jadi begitu. Baiklah, Tuan Ying. Tidak masalah,"
Zhang Fei tersenyum hangat. Ia kemudian mengajak yang lain bersulang arak untuk mencairkan suasana.
Pembicaraan tersebut selesai setelah matahari tenggelam dibalik bukit hijau. Tadinya Tabib Dewa berniat untuk langsung kembali ke Istana Kekaisaran.
Namun karena permintaan Zhang Fei, pada akhirnya dia terpaksa menginap lebih dulu di markas Partai Pengemis.
###
Malam ini sangat indah. Rembulan bersinar dengan sempurna. Belasan ekor kelelawar terbang melintasi atap markas Partai Pengemis.
Di jalan raya yang besar itu, ada banyak orang yang berlalu-lalang. Para pedagang kaki lima berteriak menawarkan barang dagangan mereka.
Tiga pendekar muda itu bukan lain adalah Zhang Fei, Yao Mei dan juga Yin Yin. Saat ini, mereka berniat untuk menuju ke sebuah restoran paling mewah dan favorit di kota tersebut.
"Yin Yin, di mana restoran itu? Apakah masih jauh?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum-senyum.
"Sabar dulu. Sebentar lagi kita akan sampai," jawabnya dengan nada sedikit ketus.
"Eh, galak sekali. Aku jadi takut," Zhang Fei kembali tersenyum. Ia mengejek gadis itu sampai membuatnya cemberut.
Ketiganya terus menelusuri jalan raya yang besar tersebut. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba juga di restoran paling mewah yang menjadi tempat tujuannya.
Yin Yin membawa yang lain naik ke lantai dua. Keadaan di sana lebih tenang daripada lantai satu. Ia segera memesan semua makanan mewah yang terdapat di restoran itu.
Setelah menunggu cukup lama, dari salah satu sudut terlihat ada tiga orang pelayan yang berjalan ke arahnya. Masing-masing pelayan itu membawa nampan cukup besar yang berisi menu pesanan tadi.
"Silahkan, Tuan dan Nona," kata pelayan tersebut sambil menaruh semua makanan di atas meja.
"Terimakasih," jawab Yin Yin mewakili.
"Mari kita makan," seru Zhang Fei.
Tidak mau membuang waktu, dia langsung saja menyantap semua makanan itu dengan lahap. Zhang Fei terlihat seperti orang kelaparan. Apa yang ada di sisinya, pasti akan langsung disantap.
Yin Yin dan Yao Mei memasang wajah cemberut. Dua gadis cantik itu terlihat kesal saat menyadari bahwa Zhang Fei terus-menerus mengejeknya.
"Eh, mengapa kalian tidak mau makan?" tanyanya ketika melihat dua gadis itu tidak ikut menyantap hidangan di atas meja.
"Kami tidak lapar. Kau saja yang makan," jawab Yao Mei dengan nada ketus.
"Hemm ... baiklah. Aku akan menghabiskan semuanya,"
Tanpa membuang waktu lagi, Zhang Fei segera menyantap semua makanan yang tadi dipesan olehnya.
Dia makan dengan lahap. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua hidangan itu hampir habis disantap olehnya.
Yao Mei dan Yin Yin semakin terlihat kesal. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Kau ini benar-benar pemuda yang tidak peka," ucap Yin Yin.
Dia langsung bangkit dari posisinya. Kemudian gadis itu langsung pergi begitu saja. Tidak lama kemudian, Yao Mei pun segera ikut berlalu.
Zhang Fei kaget melihat mereka pergi. Buru-buru dia melanjutkan kegiatannya. Setelah semua makanan habis, Zhang Fei segera pergi menyusulnya.
Namun sebelum keluar dari restoran tersebut, dia lebih dulu bertanya kepada kasir yang terdapat di sana.
"Apakah semua pesananku sudah dibayar?" tanyanya.
"Sudah, Ketua Fei. Ketua Yin sudah membayar semuanya," jawab pelayan itu penuh hormat.
"Baiklah. Terimakasih,"
Ia pun langsung pergi menyusul dua gadis yang sedang marah-marah itu.
Karena mereka berjalan tidak terlalu cepat, maka dalam waktu singkat saja Zhang Fei sudah berhasil menyusulnya.
"Hei, mengapa kalian berdua marah kepadaku?" tanyanya sambil memandang Yao Mei dan Yin Yin.
Dua orang gadis cantik itu tidak menjawab. Mereka terus berjalan lurus ke depan.
"Aih, mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku? Dan lagi ... sekarang kita mau ke mana?"
"Jangan banyak tanya. Ikuti saja," ucap Yin Yin.