
Tokoh sesat itu diam-diam mengangguk. Dia pun setuju dengan langkah yang dipilih oleh Pendekar Tangan Dewa. Karena menurutnya, saat ini memang hal itu saja yang menjadi jalan keluar satu-satunya.
Wutt!!
Tiba-tiba Raja Pedang Rembulan dan Pendekar Tangan Dewa melancarkan serangan jarak jauh secara bersamaan. Serangan yang mereka berikan mengandung tenaga hebat, sehingga kalau ditangkis secara langsung, pasti mengandung resiko yang tidak main-main.
Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Zhang Fei juga menyadari akan kehebatan serangan tersebut. Maka dari itu tanpa diberikan komando pun, keduanya segera menghindar dengan jurusnya masing-masing.
Dua tubuh berlompatan ke pinggir sambil mempertahankan diri. Sementara serangan jarak jauh tadi terus menerjang ke depan sampai menghantam pepohonan yang tumbuh di belakang sana.
Blarr!!! Blarr!!!
Dua ledakan besar terdengar secara serempak. Debu dan serpihan kayu berterbangan ke segala arah.
Ketika mendapat kesempatan yang bagus untuk melarikan diri, tiba-tiba saja kedua tokoh sesat itu langsung melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Wushh!!! Wushh!!!
Luncuran tubuh mereka seperti kilat. Hanya sesaat saja sudah lenyap dari pandangan mata.
Saat itu Zhang Fei ingin mengejarnya. Tapi dengan segera Dewa Arak Tanpa Bayangan menahan langkah yang akan diambil oleh anak muda itu.
"Jangan dikejar, anak Fei," katanya dengan lantang.
Mendengar ucapan itu, terpaksa ia menahan langkah kakinya. Zhang Fei kemudian menoleh dan bertanya kepada orang tua tersebut.
"Kenapa tidak boleh dikejar, Tuan Kiang?"
"Aku takut kau akan masuk ke dalam jebakan mereka,"
"Aku belum mengerti," katanya jujur.
Orang tua itu berjalan mendekat ke arah Zhang Fei. Setelah itu dia bicara lagi. "Jangan lupa, kita belum tahu sepenuhnya permainan mereka. Aku hanya takut apabila kau mengejarnya, justru dirimu akan berada dalam bahaya. Bagaimana kalau mereka membawamu ke markas persembunyiannya? Bukankah itu sangat gawat?"
"Tapi, itu juga bagus. Setidaknya kita bisa tahu di mana tempat mereka tinggal selama ini,"
"Memang benar. Tapi, dengan jumlahnya yang tidak sedikit, apalagi mereka juga pasti mempunyai banyak tokoh-tokoh kelas atas, apa yang akan kau lakukan? Hanya mengandalkan kekuatan sendiri, yakinkah kau mampu bebas dari cengkeraman lawan?"
Zhang Fei langsung mematung. Apa yang dikatakan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan ada benarnya. Dia sendiri mengakui akan hal tersebut.
Jangankan dirinya, malah Datuk Dunia Persilatan itu sendiri tidak yakin bisa selamat. Kalau sekelas Dewa Arak Tanpa Bayangan saja begitu lalu bagaimana dengan Zhang Fei sendiri?
Cukup lama dia termenung. Hingga tanpa sadar, sepasang matanya melihat ada sesuatu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Karena merasa penasaran, Zhang Fei kemudian berjalan mendekat dan memungut benda tersebut.
Rupanya benda itu adalah sebuah lencana. Lencana dari sebuah partai dunia persilatan. Di atasnya tertulis nama partai yang terkait.
"Partai Panji Hitam"
Zhang Fei mengepalkan tangannya lebih kencang. Entah kenapa, apabila mendengar atau membaca partai tersebut, nafsunya pasti akan langsung mencuat pada saat itu juga.
Mungkinkah hal itu terjadi karena saking besarnya dendam pribadi kepada Partai Panji Hitam?
Entahlah, Zhang Fei sendiri belum tahu pasti. Hanya saja ia merasa yakin, bahwa itu memang merupakan salah satu alasannya.
"Lencana apa itu, anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Sebelum yang ditanya menjawab, tiba-tiba sebuah suara lain terdengar.
"Rupanya kau lagi,"
Bersamaan dengan ucapannya, datuk sesat itu juga berjalan mendekat ke arah Zhang Fei. Diam-diam dirinya sudah menyiapkan satu serangan yang kemungkinan akan berakibat fatal apabila ia benar-benar melancarkannya.
Menyadari ada gelagat yang tidak baik, tiba-tiba Yao Mei berlari ke arah ayahnya.
"Ayah, jangan bertindak gegabah. Jangan dulu berprasangka buruk. Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan," ucap gadis cantik itu sambil berteriak.
Sementara di satu sisi, Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan seketika langsung menoleh ke arah si Cakar Maut. Keduanya cukup terkejut melihat tokoh sesat itu.
"Apa maksudmu, anak Mei?" tanya tokoh sesat tersebut sambil bertanya kepada anak kesayangannya.
"Nanti Ayah akan segera tahu sendiri,"
Yao Mei terus melanjutkan langkah kakinya. Dia baru berhenti setelah berada di sisi Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Tuan Kiang, tolong ceritakan semuanya kepada Ayahku. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman dalam kejadian ini," pintanya sedikit khawatir.
Yao Mei jelas merasa panik. Apalagi setelah menyaksikan bahwa di sana ada Zhang Fei yang dulu sempat terlibat persoalan dengannya.
Sebagai seorang anak, tentu saja ia tahu bagaimana sifat ayahnya itu. Karenanya dia ingin semuanya jelas sebelum terjadi salah paham yang lebih jauh lagi.
"Baik, Nona Mei. Aku mengerti,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian berhadapan dengan si Cakar Maut.
"Tua bangka, umurmu sudah tua. Jadi jangan terlalu memburu nafsu, aku takut kau cepat mampus," katanya sambil tertawa. Ia kemudian menenggak arak cukup banyak.
"Kau pun sama saja, setan arak. Cepat ceritakan saja semuanya, kalau tidak aku akan bertindak sesuka hati," jawab si Cakar Maut.
Walaupun nada bicaranya terdengar dingin, tapi bagi keduanya, hal itu bukan sesuatu yang aneh. Mereka justru terlihat akrab di tengah-tengah perbedaan yang membentang luas.
"Sabar, sabar. Minum dulu arak ini supaya kau lebih tenang," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil melemparkan guci ke arahnya.
Si Cakar Maut tidak menjawab. Tapi dia pun tidak menolak. Dengan cepat tangan kanannya meraih guci emas tersebut. Setelah itu ia langsung menenggak arak cukup banyak.
Begitu merasa puas, tokoh sesat itu melemparkannya kembali kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Coba ceritakan," ucapnya mengulangi lagi.
Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. Dia kemudian menceritakan semua kejadian yang berlangsung di Gunung Lima Jari tersebut. Mulai dari awal, sampai pada akhirnya tibalah pembunuhan masal yang menyebabkan kematian puluhan pendekar dunia persilatan Tionggoan.
Sepanjang dirinya bercerita, si Cakar Maut Yao Shi tidak memotong. Dia tetap mendengarkan cerita dengan penuh perhatian.
Malah terlihat beberapa kali ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang-kadang dia terkejut, kadang merasa marah. Terkadang terlihat juga seperti tidak percaya terhadap cerita yang disampaikan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan tersebut.
"Aku tahu, kau pasti tidak percaya sepenuhnya terhadap ceritaku. Tapi, coba tanyakan sendiri saja kepada anakmu sendiri," ucap orang tua itu setelah dia selesai bercerita.
Datuk sesat itu kemudian menoleh ke arah Yao Mei. Walaupun mulutnya tidak bicara, tapi tatapan mata itu sudah mengungkapkan semuanya.
"Apa yang Tuan Kiang sampaikan itu memang benar, Ayah. Aku sendiri menyaksikan semua kejadian itu mulai dari awal sampai akhir," ucap Yao Mei menjelaskan kepada ayahnya.
"Rumit ... benar-benar rumit," katanya seraya menggelengkan kepala.
###
Mohon maaf ya selamat itu salah kamar, maksudnya untuk novel yang satu lagi, wkwk. Maklum, sudah mengantuk pula. Tapi tetap update untuk kalian, hehehe ...
Anggap aja kesalahan itu sebagai promosi, ya. Wkwk