
"Jadi kau sudah tahu semuanya?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan semakin penasaran.
"Tahu semua sih tidak, tapi sedikit banyaknya, aku bisa menjelaskan tentang kondisi Ketua Dunia Persilatan,"
"Coba ceritakan semuanya," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan meminta Tabib Dewa Dong Ying untuk menceritakannya.
"Kondisi tubuh Ketua Beng Liong sudah sangat parah. Semua organ penting di dalamnya sudah mengalami pembusukan. Hampir semua jalan darahnya tertutup. Beberapa titik penting malah sudah mati total. Selain itu, titik pusat tenaga dalam dan tenaga sakti miliknya juga sudah hancur. Kesempatan untuk hidup sudah tidak ada. Apalagi, kondisi tersebut semakin hari akan semakin bertambah parah,"
"Ah ..."
Dewi Rambut Putih mengeluh tertahan. Dia merasa kasihan terhadap nasib yang menimpa Ketua Dunia Persilatan tersebut.
"Kalau begitu, hasil pemeriksaanku beberapa waktu lalu memang tidak salah. Aku dulu sempat memeriksa kondisi tubuh Ketua Beng Liong, dan hasilnya sama persis seperti apa yang kau jelaskan barusan," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Tabib Dewa Dong Ying menganggukkan kepala beberapa kali. Dia percaya terhadap ucapan sahabat karibnya tersebut. Apalagi, ia pun tahu bahwa Dewa Arak Tanpa Bayangan sedikit banyaknya mengerti tentang ilmu pertabiban.
"Dan pertanyaanku, apakah kau tahu racun apa yang telah masuk ke dalam tubuh Ketua Beng Liong?" tanyanya lebih jauh.
"Racun Perusak Tubuh Tanpa Penawar," kata Tabib Dewa Dong Ying berkata sepatah demi sepatah.
Semuanya langsung kaget ketika mendengar nama racun tersebut. Walaupun di antara mereka belum ada yang pernah mendengar, tapi para tokoh yang hadir yakin bahwa racun tersebut sangatlah ganas.
"Apa itu Racun Perusak Tubuh Tanpa Penawar?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Racun Perusak Tubuh Tanpa Penawar adalah sebuah racun yang sangat mematikan. Racun itu bukan berasal dari Kekaisaran Song, jadi tidak heran kalau kalian baru mendengarnya," katanya menjelaskan.
"Apakah racun itu benar-benar tidak ada obat penawarnya?"
"Ada, bahkan rasanya, aku sendiri bisa mengobatinya. Tapi bahan-bahan yang diperlukan sangat sulit ditemukan di Kekaisaran Song ini. Lagi pula, waktu yang kita miliki juga sudah tidak ada lagi,"
Para tokoh dunia persilatan semakin menampilkan ekspresi wajah muram. Mereka percaya dengan ucapan si Tabib Dewa Dong Ying.
Suasana di ruangan itu hening beberapa saat. Hingga pada akhirnya keheningan tersebut dipecahkan oleh Pendekar Tombak Angin.
"Manusia mana yang bisa meracuni Ketua Beng Liong? Aku rasa hal itu sangat mustahil,"
"Kalau meracuni secara langsung, mungkin benar. Tapi kalau meracuni secara tidak langsung, aku rasa hal itu masih masuk akal. Jangan lupa, seorang yang sangat teliti pun, suatu ketika dia bisa lengah juga," kata Tabib Dewa Dong Ying menjawab cepat.
Semua orang menganggukkan kepala. Mereka juga merasa setuju dengan ucapannya.
"Tapi, bagaimana cara seseorang itu meracuninya? Pada saat kita baru datang ke Gedung Ketua Dunia Persilatan, si tua bangka Lu pernah bercerita bahwa Ketua Beng Liong sebelumnya tidak melakukan apa-apa. Beliau hanya minum arak seorang diri di dalam ruangannya. Dan tepat setelah arak habis, Ketua langsung jatuh sakit," kata Pendekar Tombak Angin lebih lanjut.
"Mungkinkah racun itu ditaruh di dalam arak?" tanya Tabib Dewa Dong Ying.
"Tidak mungkin. Sebab guci arak tersebut masih tersegel sempurna,"
"Ah, aku tahu," Zhang Fei yang sejak tadi diam tiba-tiba berseru. Hal itu membuat semua orang yang hadir langsung menoleh ke arah dirinya.
"Apa yang kau ketahui, anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Orang itu mungkin tidak menaruh racun ke dalam arak dari tutupnya. Tapi, aku rasa masih ada cara lain agar bisa memasukkan racun tersebut ke dalamnya," jelas Zhang Fei.
"Maksudmu?"
"Maksudku adalah kemungkinan orang tersebut memasukkan racunnya dari bawah guci arak menggunakan jarum tipis atau semacamnya,"
"Kalau begitu, sekarang juga aku akan membawa guci arak itu,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung bangkit berdiri. Sebelum semua orang menjawab, dia malah sudah menghilang dari ruangan tersebut.
"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Tabib Dewa Dong Ying.
"Dia akan melakukan yang seharusnya," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tersenyum penuh makna.
Sekitar lima belas menit kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah kembali lagi ke dalam ruang pertemuan. Ilmu meringankan tubuh yang dia miliki sudah sangat sempurna, jadi tidak heran kalau dirinya bisa bergerak lebih cepat daripada yang seharusnya.
"Kau berhasil?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Ya, aku berhasil," ia kemudian menaruh sebuah guci arak ke atas meja.
Tabib Dewa Dong Ying kemudian memeriksa guci arak tersebut. Beberapa helaan nafas kemudian, dia berseru kaget.
"Ternyata apa yang dikatakan oleh anak Fei memang benar. Orang itu telah memasukkan racunnya dari bawah guci arak ini,"
Sembari berkata demikian, Tabib Dewa Dong Ying segera memperlihatkan sebatang jarum perak yang sudah berkarat kepada orang-orang yang hadir.
"Aih, pantas saja Ketua bisa diracun," kata Pendekar Tombak Angin menahan kemarahannya.
"Anak Fei, dari mana kau bisa tahu akan hal ini?" tanya Tabib Dewa Dong Ying sambil melirik ke arahnya.
"Aku sempat mengalami kejadian yang sama. Lagi pula, sebelumnya Kakek Liong juga pernah mengajariku tentang ilmu-ilmu pengobatan,"
"Pantas saja," katanya sambil tersenyum.
Jarum perak berkarat itu kemudian ditaruh di atas meja. Jarum yang dimaksud tidak besar, malah sangat kecil sekali. Panjangnya juga hanya sekitar satu jari telunjuk.
Namun walaupun bentuknya kecil, tapi musibah yang dia bawa justru sangat besar dan berefek serius.
"Kalau begitu, tidak salah lagi. Si tua bangka Lu itu benar-benar pengkhianat," kata Dewi Rambut Putih sambil mengepalkan tangannya dengan kencang.
Suasana di dalam ruangan menjadi campur aduk. Hawa kemarahan dan aura pembunuh tanpa sadar telah dikeluarkan oleh para tokoh dunia persilatan tersebut.
Sebelum mereka melanjutkan lagi pembicaraan, tiba-tiba pintu ruangan diketuk orang dari luar.
"Siapa?" tanya Ketua Cabang Partai Pengemis.
"Aku, orang suruhan A Wei. Aku ingin bertemu dengan Tuan Kiang," jawab orang yang berada diluar tersebut.
"Masuklah," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Ada apa?" tanyanya setelah orang itu berada di dalam.
"Celaka, Tuan. Celaka, si tua bangka Lu saat ini sedang berada di dalam kamar pribadi Ketua. Dia datang bersama beberapa orang rekannya, aku datang kemari karena disuruh oleh A Wei,"
"Kenapa dia tidak datang sendiri kemari?"
"Karena ... karena sekarang A Wei sedang berhadapan dengan tua bangka dan rekan-rekannya itu. A Wei tahu mereka datang dengan niat buruk. Jadi, dia memutuskan untuk tetap berada di sana dan melindungi keselamatan Ketua,"
"Gawat!" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sangat terkejut. "Kita harus ke sana sebelum terlambat,"