
Malam sudah datang menyapa bumi. Rembulan muncul hanya sebagian. Sehingga membuatnya terlihat lebih mirip seperti bentuk celurit.
Cahaya kuning keemasannya sedikit pudar. Bintang-bintang yang bertaburan di atas langit juga tidak terlalu banyak seperti biasanya.
Suara lolongan anjing terdengar saling sahut di kejauhan sana. Kehidupan di kota besar itu sudah ramai. Di jalan raya ada banyak orang yang berlalu-lalang. Toko-toko yang pada waktu siang tutup, sekarang sudah buka secara keseluruhan.
Suara hiruk-pikuknya kehidupan malam di kota itu terdengar jelas di telinga.
Udara di malam yang sama juga terasa dingin. Sepertinya, sekarang sudah tiba puncak musim kemarau. Yang mana pada puncak kemarau, cuaca di malam hari memang bisa beberapa kali lipat lebih dingin dari hari-hari biasa.
Di dalam Gedung Ketua Dunia, di sana sudah ada enam orang yang berkumpul dalam satu ruangan. Tidak perlu ditanya lagi siapa mereka itu. Yang jelas, orang-orang tersebut merupakan tokoh ternama dalam rimba hijau.
Ketika para tokoh angkatan tua masih bungkam, dengan segera Zhang Fei mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Bagaimana dengan tugas kalian? Apakah semuanya lancar?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arah Empat Datuk Dunia Persilatan secara bergantian.
"Ya, semuanya lancar. Aku berhasil mengajak cukup banyak para pendekar yang berasal dari daerah Barat,"
"Aku juga begitu. Para pendekar aliran putih dari daerah Timur, sudah berhasil aku ajak,"
"Pendekar di daerah Utara pun tidak terkecuali,"
"Selatan apalagi. Banyak dari yang langsung setuju setelah aku menyampaikan niat kedatangan ke sana,"
Empat Datuk Dunia Persilatan itu menjawab secara bergantian. Masing-masing dari mereka memberikan laporan terkait tugas yang kemarin sudah dibagi-bagi secara merata.
Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia sangat senang mendengar laporan bahwa mereka berhasil menjalankan tugasnya masing-masing.
Dia tersenyum puas. Kalau begini caranya, rencana untuk membentuk aliansi itu pasti akan terwujud nyata.
"Bagaimana denganmu sendiri, Tuan Wu?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arah Pendekar Pedang Perpisahan.
"Aku juga sama dengan yang lainnya. Ada sekitar tiga puluhan pendekar aliran hitam yang berhasil aku ajak untuk masuk ke dalam aliansi nantinya," kata Pendekar Pedang Perpisahan memberikan laporan.
Zhang Fei kembali mengangguk. Kabar ini pun membuatnya senang. Karena kalau semua pihak mau bersatu, maka kekuatan yang akan didapat pun tentunya akan jauh lebih besar lagi.
"Sebenarnya, aku bisa saja mengajak lebih banyak pendekar aliran hitam," kata Pendekar Pedang Perpisahan melanjutkan kembali. "Hanya saja, kebanyakan dari mereka khawatir nantinya pendekar aliran putih akan mengambil tindakan. Terlebih lagi terhadap orang-orang yang memang mempunyai masalah sebelumnya,"
"Kalau sampai hal itu terjadi, maka semuanya akan berantakan. Rencana yang telah kita buat pun akan hancur,"
"Kau benar," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Hal inilah yang sejak beberapa hari aku pikirkan. Aku khawatir, di antara mereka ada yang mempunyai dendam pribadi dan akan main hakim sendiri,"
Menyatukan semua pendekar yang berasal dari berbagai kalangan itu bukan perkara mudah. Yang paling sulit adalah mendamaikan mereka yang mempunyai masalah di masa lalu.
Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri tidak yakin dirinya bisa mendamaikan mereka secara tuntas. Mengingat bahwa setiap orang itu mempunyai sifat dan pemikiran yang berbeda-beda.
Dalam situasi seperti sekarang, tentunya dia tidak boleh mengambil tindakan kekerasan. Sebab hal itu pun bisa membuat kacau segalanya.
Suasana menjadi hening. Para Datuk Dunia Persilatan itu sedang memikirkan hal yang sama.
Dalam pada itu, tiba-tiba Zhang Fei mendehem perlahan. Kemudian dia langsung berkata.
"Terkait hal ini, kalian tenang saja. Aku sudah mempunyai rencana yang menurutku bisa menjadi jalan keluar dari persoalan ini," katanya kepada para tokoh angkatan tua tersebut.
Mereka yang mendengarnya segera mengangkat wajah dan memandang Zhang Fei dalam diam.
"Tiga hari lagi, Ketua Fei," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili yang lainnya.
"Lalu, bagaiamana dengan pendekar aliran hitam sendiri?" tanya Zhang Fei sambil melirik Pendekar Pedang Perpisahan.
"Sama, tiga hari lagi, Ketua Fei,"
"Baiklah. Jadi, sekarang kita hanya bisa menunggu tiga hari kemudian. Aku ingin melihat, seberapa banyak para pendekar yang akan hadir nanti,"
Ucapan Zhang Fei disambut dengan anggukan kepala. Pada saat itu, sebenarnya dia ingin melanjutkan lagi pembicaraannya.
Namun terpaksa hal itu harus dihentikan, sebab secara tiba-tiba, Zhang Fei merasakan adanya kehadiran orang lain di sekitar sana.
Sepasang matanya melirik ke setiap penjuru. Ia mepertajam indera pendengarannya.
"Di atas!" Zhang Fei berteriak cukup lantang.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya langsung meluncur ke atas atap.
Brakk!!!
Atap Gedung Ketua Dunia Persilatan langsung jebol seketika. Begitu sudah berada di sana, Zhang Fei tidak berhasil melihat ada orang lain.
Namun begitu matanya menatap lebih jauh, ia segera menemukan ada dua orang manusia yang sedang berusaha untuk melarikan diri.
Wushh!!!
Ia langsung melesat. Mengejar dua orang yang dilihatnya sudah mulai menjauh. Zhang Fei melakukan pengejaran beberapa saat. Awalnya dia tertinggal dan hampir kehilangan jejak.
Namun karena kegigihan usahanya, ditambah lagi dengan tingginya ilmu meringankan tubuh yang ia miliki, akhirnya Zhang Fei berhasil juga mengejar kedua orang penyusup tersebut.
Dia kemudian melompat tinggi dan turun tepat di hadapan dua orang yang sedang dikejarnya tadi.
Dua orang itu terkejut. Secara serentak mereka langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Zhang Fei dengan tajam.
"Hebat! Ternyata Ketua Dunia Persilatan yang masih berusia muda ini, mempunyai pendengaran dan kepekaan yang luar biasa," kata salah satu dari mereka.
Orang yang berbicara itu adalah pria berusia lima puluhan tahun. Ia mempunyai badan kekar dengan tinggi sedang. Sorot matanya benar-benar tajam. Setajam mata pedang!
"Siapa kalian ini?" tanya Zhang Fei tanpa menghiraukan ucapan orang itu.
"Siapa pun kami tidaklah penting," sahur orang yang satunya lagi.
Zhang Fei segera meliriknya. Tentunya, orang itu adalah nenek tua dengan usia enam puluhan tahun. Meskipun usianya sudah lanjut, namun justru dia masih terlihat segar bugar.
Badannya memang sedikit bungkuk, ia pun membawa tongkat kayu di tangan kanannya.
Tetapi meskipun begitu, Zhang Fei tahu bahwa dia bukan nenek tua biasa. Lebih daripada itu, Zhang Fei cukup kaget setelah merasakan bagaimana pekatnya hawa sesat yang mampu ia keluarkan.
"Nenek tua, kau jangan ikut bicara. Lebih baik, sekarang pulang atau pergi sejauh mungkin. Aku sarankan supaya kau duduk santai sambil menikmati sisa hidupmu," ujar Zhang Fei dengan nada hambar.
"Persetan!" nenek tua itu membentak. Dia tidak terima dengan ucapan yang disampaikan oleh Zhang Fei. "Yang harusnya bicara seperti itu adalah aku. Lebih baik, kau pergi dari sin. Cuci bersih kakimu, lalu tidur dipelukan ibumu,"