Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kematian Murid Biksu Sembilan Nyawa


Biksu Sembilan Nyawa yang berada di sisi arena pertarungan, menyaksikan dengan mata tanpa berkedip. Dia sudah tidak sabar ingin melihat Zhang Fei tewas di ujung pedang muridnya.


"Bagus, Wan Yu. Aku percaya, kau bisa membunuhnya. Ayo, buktikan kepada semua orang bahwa murid Biksu Sembilan Nyawa tidak bisa dipandang rendah," gumamnya dengan nada dalam.


Dia mengepalkan kedua lengannya. Ketika jarak Wan Yu dengan Zhang Fei hanya tersisa sedikit, tanpa sadar ia menahan nafasnya.


Di satu sisi lain, Yao Mei terlihat tegang. Pada saat itu dirinya sudah berniat untuk membantu Zhang Fei, tapi rasanya hal itu akan percuma. Sebab ia sudah terlambat.


Jadi, yang dapat dia lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk keselamatan Zhang Fei.


"Jangan mati! Aku mohon. Aku percaya kau mampu mengalahkannya," gumam Yao Mei.


Sementara itu, ketika ujung pedang Wan Yu sudah hampir menyentuh tubuh Zhang Fei, tepat pada saat itulah dia melakukan sebuah gerakan.


Gerakan yang sangat cepat. Gerakan yang sangat tiba-tiba.


Sekelebat cahaya putih keperakan tahu-tahu muncul di tengah udara!


Cahaya itu hanya terlihat satu kali. Sesaat kemudian, cahaya putih keperakan tersebut langsung lenyap. Lenyap tanpa jejak!


Pertarungan langsung berhenti saat itu juga!


Ujung Pedang Raja Dewa ternyata sudah menancap tepat di ulu hatinya!


Wan Yu memelototkan kedua mata. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.


Apakah ini mimpi? Benarkah jurus miliknya telah menemui kegagalan?


Apa yang sedang terjadi di tempat itu membuat Biksu Sembilan Nyawa kaget setengah mati. Dia sendiri hampir tidak percaya dengan pandangan matanya.


Bagaimana mungkin Ketua Dunia Persilatan bisa membunuh muridnya hanya dengan satu kali gerakan saja? Benarkah ia sekuat itu?


Untuk beberapa saat, ia tetap diam di tempatnya seperti patung. Biksu Sembilan Nyawa tidak bergerak barang sedikit pun.


"Bagaiamana, apakah sekarang kau percaya dengan ucapanku?" tanya Zhang Fei dengan nada hambar.


"Ya ... sekarang aku percaya. Kau ... kau memang tidak terkalahkan," kata Wan Yu dengan susah payah.


Pedang di genggaman tangannya kemudian terjatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, nyawanya juga melayang.


Setelah mengetahui Wan Yu telah menghembuskan nafas terakhir, Zhang Fei segera mencabut pedangnya dari ulu hati lawan.


Brukk!!!


Tubuhnya langsung ambruk ke tanah dalam posisi telungkup. Darah segera menggenangi tempat sekitar.


Zhang Fei menghembuskan nafas panjang dan berat. Tanpa sadar, peluh sebesar biji kacang telah keluar di keningnya. Keringat juga sudah membasahi seluruh tubuh Ketua Dunia Persilatan.


Tanpa diketahui oleh orang lain, sebenarnya saat itu Zhang Fei hanya mencoba-coba saja. Dia ingin melihat sampai di mana kehebatan jurus Pedang Tak Kasat Mata itu.


Untung saja jurus barunya tersebut tidak mengecewakan. Ia benar-benar puas dengan apa yang dimilikinya saat ini.


Keadaan di sana menjadi hening. Zhang Fei belum bicara, begitu juga dengan Biksu Sembilan Nyawa.


Kematian Wan Yu benar-benar membuatnya terkejut. Datuk sesat tersebut tidak percaya bahwa kemampuan Ketua Dunia Persilatan ternyata setinggi itu.


Setelah melihatnya, perasaan Biksu Sembilan Nyawa langsung campur aduk. Ada rasa kagum, takut, bahkan marah!


Ia kagum karena di usia mudanya, Zhang Fei telah menjelma menjadi pendekar pilih tanding. Padahal untuk mencapai tahap setinggi itu tidaklah mudah. Tokoh angkatan tua saja belum tentu mampu mencapainya.


Tetapi Zhang Fei, ternyata ia bisa mencapai titik pendekar pilih tanding bahkan ketika usianya kurang dari tiga puluh tahun.


Di samping itu, ia pun merasa takut. Melihat bagaimana kecepatan dan kehebatan jurusnya, tanpa sadar bulu kuduk Biksu Sembilan Nyawa langsung berdiri.


Sekarang, dia jadi tidak punya keyakinan untuk mampu mengalahkannya.


"Biksu sesat, mengapa kau diam saja? Bukankah kau ingin membunuhku?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.


Lamunan Biksu Sembilan Nyawa seketika buyar ketika mendengar pertanyaan Zhang Fei. Dia langsung menoleh dan menatapnya. Tapi, orang tua itu masih diam. Dia belum berbicara lagi.


Tiba-tiba ia melirik sekilas ke arah Yao Mei. Bibirnya memberikan senyuman dingin.


Wushh!!!


Biksu Sembilan Nyawa bergerak secepat angin berhembus. Dia tidak menyerang Zhang Fei. Melainkan menyerang ke arah Yao Mei!


Sepertinya datuk sesat itu memanfaatkan keadaan Yao Mei yang sudah mengalami luka.


Dia yakin, dengan kemampuannya yang sudah sangat tinggi, Yao Mei pasti akan tewas di tangannya.


Sayang sekali, ia telah melupakan kehadiran Zhang Fei di tempat itu.


Wushh!!!


Satu bayangan kebiruan kembali berkelebat. Tahu-tahu Zhang Fei sudah berada tepat di depan matanya.


"Tidak semudah itu, tua bangka," kata Zhang Fei sambil melancarkan serangan telapak tangan.


Blamm!!!


Benturan tenaga dalam terjadi. Biksu Sembilan Nyawa terdorong dua langkah ke belakang. Dia kembali dibuat terkejut. Padahal dirinya sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh setinggi mungkin.


Namun ternyata, Zhang Fei masih bisa menahannya. Ketua Dunia Persilatan masih berada di atas kemampuannya!


'Anak ini benar-benar keparat. Kalau terus hidup, di masa mendatang dia pasti akan membawa bencana,' batinnya berkata.


Sementara itu, Zhang Fei tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ketika Biksu Sembilan Nyawa melamun, saat itulah dia menyerang.


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melamun!"


Wutt!!!


Zhang Fei melepaskan jurus Telapak Dewa Maut. Segulung tenaga dalam langsung menerjang ke arah Biksu Sembilan Nyawa.


Serangan itu mirip seperti ombak besar yang datang secara tiba-tiba. Biksu Sembilan Nyawa tersentak, buru-buru dia menarik tubuh sambil melepaskan pula serangan jarak jauh.


Benturan jurus kelas atas kembali terjadi. Gelombang kejut yang tercipta menciptakan hembusan angin cukup kencang.


Zhang Fei tidak ingin melepaskan lawan begitu saja. Setelah memasukkan kembali Pedang Raja Dewa ke dalam sarungnya, ia segera melanjutkan serangannya lagi.


Pukulan beruntun datang dari segala arah. Tendangan kaki yang dikeluarkan mengandung tenaga dalam tinggi.


Biksu Sembilan Nyawa melayani setiap jurus jarak dekat yang berdatangan. Kedua tokoh kelas atas itu adu jurus untuk beberapa waktu.


Zhang Fei terus mencecar. Dia tidak memberikan kesempatan bagi datuk sesat itu untuk membalas serangannya.


Namun kembali lagi, Biksu Sembilan Nyawa bukanlah lawan yang mudah untuk dilumpuhkan. Apalagi, dia termasuk ke dalam jajaran tokoh yang ahli dalam pertarungan tangan kosong.


Serangan pukulan dan telapak tangannya mengandung hawa panas. Setiap orang yang terkena pukulannya bakal merasa seperti dibakar di atas api membara.


Zhang Fei bisa merasakan kedahsyatan dari setiap serangannya. Maka dari itulah ia segera melindungi seluruh tubuh dengan hawa murni.


"Pukulan Api Bayangan!"


Wutt!!! Wungg!!!


Biksu Sembilan Nyawa mengeluarkan salah satu jurus andalannya. Suara mendengung ikut terdengar ketika kedua tangannya mengibas ke sana kemari.