Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Penyerangan III


Pertarungan di depan markas Organisasi Bulan Tengkorak semakin berjalan seru dan menegangkan. Sekarang kedua belah pihak sudah saling serang dengan mengandalkan jurus andalannya masing-masing.


Delapan pemimpin dari organisasi itu sudah mendapatkan lawannya tersendiri. Sehingga benturan tangan dan kaki, maupun bertemunya antar senjata, sudah terdengar tanpa pernah berhenti.


Hawa kematian semakin menyelimuti seluruh tempat itu. Bayangan tubuh manusia yang berkelebat sudah tidak bisa disaksikan dengan jelas. Hal tersebut terjadi karena saking banyaknya manusia yang terlibat dalam pertempuran.


Di pihak pendekar, mereka seringkali bahu-membahu satu sama lain. Apabila ada rekannya yang terdesak, dan kebetulan ada pendekar yang berada di posisi baik, maka dia akan membantunya dengan sekuat tenaga.


Hal seperti itu terus terjadi seiring berjalannya waktu.


Tanpa terasa, rembulan di atas langit sudah semakin condong ke sebelah barat. Udara terasa makin dingin. Hembusan angin malam yang bertiup, seolah-olah membawa rasa dingin yang menusuk tulang.


Sayangnya, hal seperti itu tidak bisa dirasakan oleh para pendekar yang terlibat. Mereka justru merasa, semakin lama bertarung, hawa di sana malah makin panas.


Mungkin hawa itu tercipta dari benturan antar jurus yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak.


Sementara itu di sebelah tengah, tampak di sana ada Pendekar Pedang Emas yang sedang berhadapan dengan satu tokoh dari pihak lawan.


Orang yang berdiri di depannya mempunyai postur tubuh tinggi kurus. Usianya sudah tua. Wajahnya saja sudah dipenuhi oleh keriput.


Kalau ditaksir, mungkin orang itu berumur sekitar delapan puluh lima tahun. Lebih tua beberapa tahun dari dia sendiri.


Tapi walaupun usianya sudah tua dan tubuhnya kurus kering, Pendekar Pedang Emas Gan Li tidak berani memandang rendah lawan.


Dia tahu, dibalik penampilannya yang seperti itu, orang tersebut pasti mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Apalagi dia juga bisa melihat dengan jelas bahwa lambang tengkorak di depannya hanya ada satu.


Itu artinya, orang dengan tubuh tinggi kurus tersebut, sudah pasti adalah pemimpin pertama dari Organisasi Bulan Tengkorak!


Berhadapan dengan tokoh sakti sepertinya, Gan Li tidak mau bertindak gegabah. Setidaknya dia harus tetap berada dalam kewaspadaan tinggi.


Karena hal-hal yang tidak mungkin terjadi, bisa terwujud hanya dalam waktu singkat!


"Apakah aku sedang berhadapan dengan Pemimpin Pertama?" tanya orang tua itu dengan nada tenang.


Wajahnya terlihat tenang dan tidak panik. Suaranya juga penuh wibawa.


Padahal yang sebenarnya tidaklah demikian. Hati orang tua itu justru gelisah. Jujur saja, jantungnya juga berdebar kencang.


Mungkin hal seperti itu tercipta karena dirinya baru berhadapan dengan orang seperti Pemimpin Pertama tersebut.


"Benar. Kau sendiri, siapa?" Pemimpin Pertama membenarkan sambil menganggukkan kepala.


Dia juga bersikap sangat tenang. Seolah-olah yang sedang dihadapinya adalah sahabat. Bukan musuh besar.


"Aku yang tua ini bermarga Gan dengan nama Li," jawabnya.


"Oh, si Pendekar Pedang Emas?"


"Tidak berani, tidak berani," katanya sambil menggerak-gerakkan tangan. "Itu hanya julukan yang diberikan oleh orang-orang persilatan saja. Aku sendiri merasa tidak pantas mempunyai julukan seperti itu,"


Bagaimanapun juga, dia adalah orang tua yang mempunyai sifat rendah hati. Meskipun semua orang tahu kemampuannya sangat tinggi, terutama sekali dalam hal ilmu pedang, tapi Gan Li sendiri justru tidak mau mengakuinya secara langsung.


"Hemm, kau terlalu merendah. Bagaimana jika aku ingin mencoba beberapa jurus pedang milikmu?"


Si Pemimpin Pertama tidak mau bicara panjang lebar. Secara tidak langsung, dia telah memberikan tantangan kepada Wakil Ketua Partai Gunung Pedang itu.


"Kalau Tuan tidak keberatan, maka aku tidak punya alasan untuk menolaknya," jawabnya seraya tersenyum.


Karena lawan bicara dengan sindiran halus, maka Pendekar Pedang Emas pun melakukan hal yang sama.


Selamanya, dia tidak mau menyerah. Apalagi menyerah sebelum bertarung.


Pemimpin Pertama Organisasi Bulan Tengkorak mengangguk. Ia tampak tersenyum. Sesaat kemudian, tiba-tiba di tangan kirinya sudah terdapat sebatang pedang.


Pedang dengan panjang satu depa. Sarungnya berwarna hitam. Gagang pedangnya juga sama.


Pada gagang pedang itu, terdapat ukiran berbentuk bulan tengkorak yang menyeramkan!


Walaupun ukurannya kecil. Tapi hawa kematian yang dikeluarkannya justru terasa sangat pekat.


Sebagai ahli pedang, tentu saja Pendekar Pedang Emas bisa merasakan hawa kematian yang dikeluarkan oleh pedang itu dengan sangat jelas.


'Pedang itu benar-benar berbahaya. Sebisa mungkin, jangan sampai aku terluka olehnya,' batin orang tua tersebut sambil menatap ke pedang pusaka yang digenggam oleh lawan.


"Kau sudah siap?" tanya Pemimpin Pertama.


Pertanyaan itu telah menyadarkan Gan Li dari lamunan. Dia tersentak sedikit. Setelah berhasil menguasai dirinya lagi, ia segera menjawab.


"Aku siap," katanya diikuti anggukan kepala.


Dia langsung melakukan kuda-kuda. Pedang pusaka melintang di depan dada. Tubuhnya sendiri sedikit merendah.


Sedangkan di pihak lawan, si Pemimpin Pertama justru tidak terlihat melakukan persiapan apapun. Ia tetap berdiri dengan tenang dan santai.


Namun meskipun lawan bersikap demikian, orang tua itu tahu, bahwa dibalik sikapnya yang tanpa persiapan tersebut, ada suatu bahaya yang sulit dihindari.


"Lihat serangan!"


Pemimpin Pertama berteriak memberikan peringatan. Belum selesai ucapannya, dia sudah meluncur ke depan dengan pedang di tangan.


Serangan pertama yang dia berikan berupa tusukan yang mengarah ke dada. Satu titik penting yang berada di tubuh manusia.


Trangg!!!


Pendekar Pedang Emas Gan Li menangkis tusukan itu dengan senjatanya pula.


Benturan pertama terjadi. Tapi itu hanya berjalan sebentar saja. Sebab pada detik berikutnya, musuh sudah melancarkan kembali serangan susulan.


Sementara di sisinya, bersamaan dengan percakapan yang berlangsung di antara dua tokoh tersebut, tepat pada saat itu, para pendekar yang lain sudah mulai melangsungkan pertarungan puncak.


Mereka telah bertempur puluhan jurus. Korban jiwa dari kedua belah pihak pun sudah tercipta kembali.


Di pihak Organisasi Bulan Tengkorak, tak kurang dari lima orang sudah menjadi korban. Para petinggi itu tewas dengan luka parah di seluruh tubuh.


Darah segar menggenangi tubuhnya. Bekas sayatan maupun tusukan senjata tajam terlihat dengan jelas.


Yang tewas itu merupakan petinggi dengan kemampuan terendah. Mulai dari Pemimpin Sepuluh, sampai Pemimpin Lima.


Dengan tewasnya lima pemimpin tersebut, harusnya pihak pendekar berada di posisi yang menguntungkan.


Namun sayangnya, kali ini kenyataan berkata lain. Tewasnya lima pemimpin tersebut harus digantikan dengan bayaran yang sangat mahal.


Dari belasan pendekar yang tadi terlibat dalam pertempuran, sekarang hanya tinggal tersisa empat orang saja. Itu pun mereka sudah mengalami luka yang tidak ringan.


Dengan keadaan seperti itu, tentu saja dalam waktu yang tidak lama, pihak pendekar pasti akan mengalami kekalahan telak.


Apalagi pihak musuh yang tersisa saat ini, merupakan orang-orang yang mempunyai kemampuan sangat tinggi.


Tentunya, kenyataan itu malah menambah beban penderitaan di benak para pendekar yang ada.