
"Apakah ada yang aneh dari diriku, Tuan?" karena cukup lama tidak menjawab, pada akhirnya Zhang Fei mengajukan pertanyaan lagi kepadanya.
Ditanya dua kali, orang tua tersebut segera tutup dibuatnya.
"Ah, tidak. Tidak, Tuan Muda. Aku ... aku hanya heran karena merasa baru melihat orang sepertimu," katanya sedikit kesulitan bicara.
Zhang Fei tersenyum. Ia kemudian mengulang lagi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Sebenarnya ... di sini tidak terjadi apa-apa, Tuan Muda. Orang tua itu ... beliau tewas karena dibunuh,"
"Dibunuh? Dibunuh oleh siapa?"
"Emmm ... oleh orang tak dikenal. Ya, yang membunuhnya adalah orang asing. Menurut dugaan, orang itu adalah perampok,"
Zhang Fei menatap tajam ke arahnya. Kini gantian, giliran dia yang menyelidiki orang tua tersebut. Dirinya tidak percaya dengan jawaban yang diberikan. Apalagi dari ekspresi wajah dan nada bicaranya, delapan puluh persen membuktikan bahwa orang tua tersebut sedang berbohong.
"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu. Jangan lupa, urus mayat orang tua itu secepatnya. Kasian dia," kata Zhang Fei sambil tersenyum.
Tidak menunggu lebih lama, dia langsung beranjak pergi dari sana.
Zhang Fei sengaja tidak mencari informasi lebih jauh. Sebab dia telah mempunyai rencana yang selanjutnya. Menurut anggapan pribadi, rencana ini setidaknya akan membantu dia menemukan jawaban yang sebenarnya.
Dalam sekejap saja, Zhang Fei telah lenyap ditelan oleh keramaian.
###
Waktu terus berjalan. Matahari sore memberikan sinar kemerahan di ufuk sebelah barat. Rumput-rumput yang hijau seolah-olah telah berubah menjadi merah menyala.
Cuaca sore ini sangat bagus. Sepertinya malam nanti pun akan banyak bintang yang bertaburan di atas langit.
Zhang Fei sedang berjalan-jalan sambil menikmati suasana sekitar. Di kanan kiri jalan terlihat para pedagang sedang ramai dikunjungi oleh para pelanggan.
Para pedagang kaki lima sesekali berteriak menjajakkan barang dagangannya masing-masing. Anak-anak yang sedang diajak jalan-jalan oleh orang tuanya, terlihat riang gembira karena dobawa ke tempat ramai.
Dari beberapa restoran sekitar, tercium pula bau masakan yang menusuk hidung.
Zhang Fei menikmati semua itu dengan tenang dan santai. Ia berjalan sambil sesekali minum arak yang sempat dibeli sebelumnya.
Tujuan Ketua Dunia Persilatan saat ini adalah kembali mendatangi perguruan yang ia temukan pagi tadi. Setelah beberapa waktu kemudian, akhirnya Zhang Fei sudah tiba di sana.
Dari luar, tampak bahwa keadaan perguruan itu sudah sepi. Di halaman tidak lagi ramai seperti lagi. Mayat orang tua yang bersimbah darah kini telah tiada.
Mungkin pihak perguruan sudah mengurus jasadnya.
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu dibiarkan terbuka begitu saja. Di sana tidak ada penjaganya sama sekali.
Tanpa berlama-lama, Zhang Fei langsung berjalan masuk ke sana. Langkahnya masih tetap tenang dan santai seperti sebelumnya.
Dari dalam bangunan, terlihat ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya. Zhang Fei mengetahui hal itu, tapi dia bersikap masa bodoh dan seolah-olah tidak tahu.
Ketika tiba di pintu utama, dengan cepat pula dia membuka pintu.
Begitu pintu terbuka itulah, Zhang Fei langsung mendapat 'sambutan hangat'.
Tidak kurang dari sepuluh batang tombak sudah dijulurkan ke depan dan hampir mengenai tubuhnya. Jarak Zhang Fei dengan semua tombak itu sangat dekat. Mungkin hanya terpaut satu jari.
Di sekelilingnya, tentu saja ada sepuluh orang pemegang tombak.
"Siapa dan apa tujuanmu kemari? Oh ... aku tahu, kau pasti komplotan pengkhianat itu, bukan?" seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun mengajukan pertanyaan dan berkata dengan nada sinis.
Belum lagi mendapat jawaban, dia sudah melepaskan hawa pembunuh yang cukup pekat dari tubuhnya.
Bagi dirinya, hawa pembunuh itu mungkin sudah bisa dibilang hebat.
Tetapi bagi Zhang Fei sendiri, itu belum apa-apa. Bahkan kalau hawa pembunuh sepuluh orang itu digabungkan sekali pun, mungkin masih belum cukup untuk menyamai hawa pembunuh miliknya.
Zhang Fei melirik mereka secara bersamaan. Ia mendapati bahwa orang-orang tersebut setidaknya hanya merupakan pendekar kelas dua saja.
Untuk membebaskan diri dari ancaman saat ini, hal itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan.
Sayang sekali, Zhang Fei tidak mau melakukan hal tersebut. Dia ingin rencananya berjalan dengan mulus sesuai keinginan.
"Namaku, kalian belum pantas untuk mengetahuinya. Tapi terkait pertanyaan kedua, jujur saja, aku sendiri tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. Kedatanganku ke sini bukan bermaksud jahat. Aku hanya ingin bertemu dengan orang tua yang aku temui pagi hari tadi," kata Zhang Fei menjawab pertanyaan tadi.
"Bohong! mana mungkin kau mau bicara jujur?" orang itu tersenyum dingin ke arahnya. Tapi, tak urung dia melanjutkan lagi pertanyaan yang lain. "Orang tua siapa yang kau maksud? Di sini kebanyakan sudah berusia di atas tiga puluh. Bisa dibilang, semuanya sudah tua,"
Zhang Fei tersenyum. Meskipun posisinya sekarang sedang berada dalam ancaman, namun dia tidak terlihat panik. Zhang Fei segera menjawab dengan tenang. "Aku rasa, orang itu usianya paling tua di tempat ini. Kalian pun pasti tahu siapa dia,"
"Hemm ... aku tidak tahu," jawab pria itu dengan sengit. "Sudahlah, mari kita beli pelajaran manusia bertopeng ini,"
Ia memberi perintah kepada sembilan orang rekannya. Begitu ucaoan itu dilontarkan, secara serempak sepuluh batang tombak tadi langsung menusuk ke depan.
Anehnya, tusukan tombak tersebut juga mengenai tempat kosong.
Ke mana orang bertopeng tadi? Mengapa dia tiba-tiba tidak ada di tempatnya? Apakah dia bisa menghilang? Mungkinkah dia hantu?
"Apakah kalian sedang mencariku?" Zhang Fei bertanya. Tiba-tiba dia telah berada di belakang sepuluh orang tersebut.
Mereka melirik secara bersamaan. Sepuluh wajah manusia, saat ini terlihat memberikan ekspresi kebingungan yang sama.
Bagaimana mungkin orang itu bisa berpindah tempat sedemikian cepatnya? Kapan pula dia bergerak?
Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sudah berputar-putar di kepala. Tapi di antara mereka tidak ada satu pun yang mengajukannya.
Tanpa diperintah, orang-orang itu kembali melancarkan serangan. Sepuluh batang tombak lagi-lagi datang secara bersamaan. Seluruh tubuh Zhang Fei menjadi sasaran mereka.
Wuttt!!!
Zhang Fei mengeluarkan tenaga dalamnya. Sepuluh batang tombak tersebut tiba-tiba berhenti tepat sebelum mengenai tubuhnya.
Para pemegang tombak kaget setengah mati. Mereka ingin menarik kembali senjatanya, namun hal itu sia-sia. Sebab tombak tersebut sama sekali tidak bisa ditarik. Bahkan sedikit pun tidak bergerak.
Ketika Zhang Fei hendak mematahkan semua tombak, mendadak dari belakangnya terdengar ada orang yang berbicara.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Suara itu suara yang pernah didengarnya. Tidak salah lagi, itu pasti suara orang tua yang sedang dia cari.
Menyadari akan hal tersebut, Zhang Fei langsung mementalkan sepuluh tombak tadi. Tombak berikut pemiliknya terdorong ke belakang sejauh tiga langkah.
Sedangkan Zhang Fei sendiri langsung membalikkan badan.
"Kita bertemu lagi, Tuan," ucapnya sambil tersenyum.