
Melihat semua pemandangan yang memprihatinkan itu, Zhang Fei merasakan hatinya sakit. Seperti diiris-iris oleh pisau yang sangat tajam. Andai saja dia bukan pendekar, mungkin sekarang air matanya sudah mengalir dengan deras.
Siapa pun orangnya, apabila dia menyaksikan pemandangan yang dilihat oleh Zhang Fei sekarang, niscaya orang itu akan merasakan perasaan yang sama dengannya.
Sejauh ini, yang bisa dia lakukan hanya menghela nafas saja.
"Apakah masih jauh?" tanyanya kepada Yu Yuan.
Ia lebih memilih untuk bicara saja. Hal itu dilakukan sebagai pengalihan dari apa yang dilihat serta dirasakannya saat ini.
"Tidak jauh, itu dia di sana,"
Pendekar wanita itu menunjuk ke depan. Di sana, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terdapat sebuah bangunan tua yang bisa dikatakan tidak layak huni.
Bangunan tua itu tak lain adalah Perguruan Teratai Putih. Tempat tinggal Yu Yuan selama ini.
Di depan gapura ada dua orang murid wanita yang sedang berjaga. Ketika melihat kedatangan Yu Yuan, mereka tampak senang. Senyuman hangat segera tercipta.
"Kakak Yu apa kabar?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku baik. Kalian tugas yang betul, aku ada urusan," jawabnya sambil tersenyum.
Gadis itu kembali berjalan. Zhang Fei masih mengikuti di belakangnya.
Di halaman depan juga terdapat belasan anak murid yang sedang berlatih. Kalau dihitung-hitung, jumlah semua murid Perguruan Teratai Putih mungkin hanya mencapai tiga puluhan orang saja.
"Apakah di Perguruan Teratai Putih, hanya ada wanita saja?" tanya Zhang Fei penasaran.
"Benar. Di sini hanya terdiri dari wanita,"
"Pantas saja aku tidak menemukan seorang pria pun," gumam Zhang Fei sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yu Yuan tidak bicara lagi. Dia hanya menahan senyum lalu segera melanjutkan langkahnya.
Setelah melewati beberapa waktu, akhirnya dua orang itu segera tiba di halaman utama.
Karena Yu Yuan adalah murid senior, maka semua murid yang ada tidak menaruh curiga terhadapnya. Apalagi, terkait masalah yang sedang dideritanya itu tidak semua murid mengetahui.
Maka dari itu, semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya tiba di ruang penerima tamu. Yu Yuan menyuruh Zhang Fei untuk duduk di kursi yang tersedia. Sedangkan dia sendiri berjalan menuju ke sebuah ruangan.
"Guru, apakah kau ada di dalam?" gadis cantik itu bertanya sambil mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Siapa diluar?" sebuah jawaban terdengar dengan segera.
"Ini aku, Yu Yuan,"
Begitu kalimat terakhir selesai, pintu segera terbuka. Disusul kemudian dengan munculnya seorang wanita yang sudah berusia sekitar tujuh puluh lima tahunan.
Wanita tua itu mengenakan pakaian serba putih dengan dua buah bunga teratai yang diselipkan di sela-sela rambutnya yang telah beruban.
Dia langsung memeluk Yu Yuan dengan erat. Seolah-olah ia memang sudah merindukannya sejak lama.
"Anak Yuan, bagaimana kabarmu selama ini?" tanyanya sambil melepaskan pelukan.
Ditanya seperti itu, gadis cantik tersebut segera menceritakan semuanya. Ia bicara jujur dan terbuka. Tanpa ada sedikit pun yang ditutupi.
"Apakah pemuda itu yang sudah menyelamatkan nyawamu?" tanyanya setelah Yu Yuan selesai bercerita.
"Benar, guru. Dia adala pemuda yang aku ceritakan barusan,"
Wanita tua itu kemudian segera berjalan menghampiri Zhang Fei. Dia memerintahkan seorang murid untuk menyiapkan makanan serta arak terhadap tamunya tersebut.
Zhang Fei tersenyum. Setelah itu dia pun segera bicara. "Nyonya Lien tidak perlu seperti itu. Lagi pula, sudah kewajiban kita selaku manusia untuk saling tolong menolong," jawab pemuda itu.
Lien Hua membalas senyuman. Baru pertama kali bertemu pun, dia sudah merasa senang terhadap anak muda di hadapannya tersebut.
Mereka bertiga kemudian duduk bersama. Tidak lupa juga, berbagai macam cerita ikut meramaikan suasana. Sesekali, orang-orang itu juga menyantap suguhan yang sudah disediakan.
Setelah puas bercengkrama, Zhang Fei segera memulai obrolan menjadi lebih serius lagi.
"Nyonya Lien, sebenarnya aku mempunyai beberapa pertanyaan kepadamu. Aku harap kau mau menjawabnya,"
"Silahkan tanya saja, Tuan Muda. Kalau aku tahu, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur,"
Anak muda itu mengangguk. Ia kemudian bertanya tentang di mana kediaman Hartawan Wang dan beberapa hal lain yang terkait dengan dirinya.
"Kediaman Hartawan Wang ini terletak di tengah kota. Kediamannya sangat besar, hampir sama besarnya dengan istana kecil. Di setiap penjuru rumahnya pasti terdapat penjaga. Selain itu, dia juga mempunyai banyak anak buah," kata Lien Hua menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Zhang Fei.
"Apakah semua anak buah Hartawan Wang, merupakan orang-orang persilatan?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi yang paling berbahaya di antara semua anak buah Hartawan Wang, tak lebih hanya sepuluh orang saja,"
"Siapa mereka itu?"
"Mereka adalah pelindung pribadinya. Kalau aku tidak salah, orang-orang itu mempunyai julukan Bayangan Hitam,"
"Apakah kemampaun mereka sangat tinggi?"
"Kalau tidak tinggi, bagaiamana mungkin dia bisa hidup sampai saat ini?"
Lien Hua tertawa. Tawa yang masam.
Sebenarnya orang-orang persilatan sudah banyak yang menginginkan kematian hartawan itu. Sayang sekali, sampai sekarang belum ada satu pun orang yang berhasil dalam usaha tersebut.
Lebih dari itu, mereka juga tentunya tidak mau berurusan langsung dengan Hartawan Wang. Apalagi semau orang juga tahu bahwa dia mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Partai Panji Hitam.
Zhang Fei segera menghela nafas. Agaknya rencana untuk membunuh Hartawan Wang tidaklah mudah.
Tetapi karena dia sudah berjanji kepada Yu Yuan, maka diam-diam ia telah bertekad untuk melakukannya. Dia siap mengambil resiko untuk mengatasi masalah ini.
"Nyonya Lien, apakah kau mempunyai sahabat pria yang juga ingin menghabisi Hartawan Wang?" tanya anak muda itu lebih jauh.
"Ada," katanya menganggukkan kepala. "Mereka berjumlah tiga orang,"
"Bisakah kau mengundangnya datang kemari?"
"Untuk apa?" tanya wanita tua tersebut merasa penasaran.
"Nanti kau akan tahu sendiri,"
Zhang Fei bicara dengan ekspresi wajah serius. Dia sangat berharap bahwa Lien Hua mau mengabulkan permintaannya tersebut.
Di satu pihak, guru dari Perguruan Teratai Putih itu sendiri sebenarnya sedikit ragu terhadap Zhang Fei. Apalagi dengan kenyataan bahwa usianya masih muda.
Namun karena ia melihat Yu Yuan yang seperti mengharapkan agar dia mau menurutinya, maka secara terpaksa Lien Hua pun meluluskan permintaan Zhang Fei.
"Baiklah. Dalam waktu tiga hari, mereka pasti akan tiba di perguruan milikku ini,"
"Baik. Terimakasih,"
Keadaan di ruangan tersebut hening beberapa saat. Tidak terdengar suara apapun juga, kecuali hanya suara arak yang masuk ke dalam kerongkongan.
"Arak yang nikmat," kata Zhang Fei memuji.