Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiga Pertarungan Penentuan


Mendapat serangan yang datang secara tiba-tiba, tiga belas orang serba hitam seketika terkejut setengah mati. Sebagian dari mereka buru-buru menarik busur panahnya. Sebagian lagi segera mengambil senjata rahasia yang tersimpan di dalam kantong kulit.


Gerakan mereka terbilang cepat. Sayangnya masih kalah cepat dengan Zhang Fei dan Yao Mei.


Wutt!!!


Anak muda itu memberikan pukulan jarak jauh dengan tenaga hebat. Segulung angin berhembus menghempaskan lima orang. Karena tenaganya tidak main-main, maka hanya dengan satu serangan saja, mereka sudah tidak berdaya lagi.


Sementara Yao Mei, dia memilih menyerang menggunakan pedang tipis miliknya. Pedang yang sangat tajam itu langsung mengeluarkan cahaya terang. Hawa pedang menyebar luas.


Tebasan dilancarkan beberapa kali. Delapan orang sisanya menjadi sasaran ketajaman pedang pusaka itu. Suara menjelang kematian terdengar hampir secara bersamaan.


Satu helaan nafas kemudian, dekapan orang tersebut sudah menjatuhkan semua senjatanya. Kini mereka memegangi leher masing-masing yang telah tergores oleh pedang.


Sayangnya hal yang dilakukan itu sia-sia. Nyawa mereka telah melayang bersamaan dengan hembusan angin gunung.


Tiga belas orang serba hitam bersenjata lengkap itu kini telah tewas. Mereka tewas mengenaskan akibat perbuatan dua orang pendekar muda.


Kejadian barusan berlangsung dengan cepat. Tiga orang tokoh itu tidak ada yang sempat bergerak. Mereka bahkan masih berada di tempatnya masing-masing.


Lagi pula, kalau pun mereka ingin bertindak menghalangi tindakan Zhang Fei dan Yao Mei, sudah tentu Dewa Arak Tanpa Bayangan yang ada di sana juga tidak tinggal diam.


Meskipun ia hanya seorang diri, tapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.


Walau dua orang di antaranya belum mengetahui setinggi apa kehebatan tokoh tua itu, tapi dari tatapan mata saja, setidaknya mereka sudah mempunyai gambarannya tersendiri.


Sementara itu, setelah berhasil membunuh tiga belas orang tadi, Zhang Fei dan Yao Mei pun segera kembali ke tempat semula.


Wajah keduanya masih biasa. Nafasnya juga tidak tersengal. Seolah-olah apa yang mereka lakukan barusan hanyalah hal mudah.


"Sungguh gerakan yang sangat cepat," kata Pendekar Tangan Dewa memuji keduanya. "Serangan yang luar biasa,"


"Kami tidak membutuhkan pujianmu," sahut Yao Mei.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,"


"Ilmu pedangmu sudah cukup tinggi. Sayangnya kau masih belum pantas untuk bertarung denganku, gadis cantik," ujar Raja Pedang Rembulan sambil melirik ke arah Yao Mei.


Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya diam sambil memandang ke arahnya.


"Kau ingin bertarung dengannya?" tanya Zhang Fei.


"Sebenarnya iya. Tapi sayang sekali kemampuannya masih belum cukup,"


"Bagaimana kalau aku yang mewakilinya bertarung? Aku rasa, aku bisa menemanimu bermain untuk beberapa saat,"


"Oh, benarkah?" tanya Raja Pedang Rembulan seperti kurang yakin.


"Kalau kau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya sendiri saja?"


"Hemm, baiklah. Aku ingin melihat apakah ucapanmu itu benar atau tidak,"


Raja Pedang Rembulan kemudian melangkah. Ia baru berhenti setelah berjalan sejauh dua tombak. Melihat itu, Zhang Fei juga segera mengikutinya.


Dua orang pendekar pedang yang berbeda usia sudah saling berhadapan satu sama lain.


"Kalau begini caranya, bagaimana jika kita juga melakukan hal yang sama?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan memancing dua orang tokoh lainnya.


"Usul yang bagus. Nasi sudah menjadi bubur, agaknya memang itu jalan keluar satu-satunya," sahut Pendekar Tangan Dewa.


Tanpa terasa, kentongan keempat sudah terdengar. Itu artinya sebentar lagi fajar akan muncul.


Kini tiga orang sudah mendapat lawan masing-masing. Dewa Arak Tanpa Bayangan memutuskan untuk bertarung melawan Pendekar Tangan Dewa.


Menurutnya, ia adalah lawan yang cukup sepadan. Apalagi, di antara tiga tokoh sesat itu dirinya merupakan pemimpin.


Sementara Yao Mei saat ini sudah berhadapan dengan si Cambuk Pisau. Terhadap tokoh yang satu ini, gadis cantik tersebut mempunyai keyakinan bisa keluar sebagai pemenang.


"Mulai!" kata Pendekar Tangan Dewa tiba-tiba berteriak lantang. Seruan itu menjadi pertanda bahwa pertarungan tersebut akan digelar.


Wutt!!! Wutt!!! Wutt!!!


Enam bayangan manusia melesat secara serempak. Masing-masing dari mereka melakukan serangan terhadap musuhnya tersendiri.


Para pendekar dunia persilatan itu bertemu di tengah jalan. Benturan senjata dan telapak tangan terdengar dengan jelas.


Di sebelah kanan, ada Zhang Fei dan Raja Pedang Rembulan yang saat ini sudah bertarung menggunakan pedangnya. Dua orang itu telah mengeluarkan jurusnya masing-masing.


Karena sadar sedang berhadapan dengan tokoh tua, maka Zhang Fei tidak mau berlaku sembrono lagi. Begitu pertarungannya dimulai, ia telah menggelar Jurus Pedang Penakluk Jagad!


Senjata di tangannya bergerak-gerak bagaikan kilat. Decitan angin tajam yang memekakkan telinga terus terdengar setiap kali pedang itu bergerak.


Raja Pedang Rembulan cukup terkejut. Dalam hatinya dia memuji kemampuan Zhang Fei. Rupanya anak itu benar-benar hebat.


"Bagus. Aku tidak kecewa bertarung denganmu. Tapi, apakah kau masih mempunyai jurus lain lagi?" tanyanya sambil terus bertahan dari gempuran serangan yang diberikan oleh Zhang Fei.


Sebenarnya saat itu pun dia terlihat cukup kewalahan. Hanya saja karena pengalamannya sudah banyak, ia tetap bisa mengatasi serangan Zhang Fei menggunakan jurus andalannya.


Sementara di satu sisi, Zhang Fei justru merasa sedikit bingung. Setelah bertarung beberapa jurus, tiba-tiba dia menyadari bahwa ilmu pedang tokoh sesat itu cukup berbeda dengan jurus pedang pada umumnya yang tersebar di Tionggoan.


"Dari jurusmu, aku bisa menduga bahwa kau bukan berasal dari Kekaisaran Yuan," kata anak muda itu tanpa menghentikan serangannya.


"Kalau memang iya, kenapa? Kau takut?" tanyanya sambil tersenyum dingin.


"Pantang bagiku takut kepada manusia sepertimu,"


Wushh!!!


Zhang Fei menambah tenaga dan kecepatannya. Serangan yang tercipta menjadi lebih dahsyat lagi. Pedangnya seolah-olah lenyap dari pandangan mata. Yang terlihat hanyalah sinar putih keperakan yang terus bergerak merobek udara hampa.


Menyaksikan lawannya lebih serius, Raja Pedang Rembulan tidak mau menunda waktu lagi. Buru-buru dia pun mengeluarkan jurusnya yang lebih tinggi.


"Seribu Cahaya Purnama!"


Wutt!!!


Serangkaian tebasan pedang dilancarkan. Benturan antar senjata kembali terdengar. Dua hawa pedang yang sama pekat telah menyatu dalam satu gulungan.


Pertarungan itu berlangsung sengit. Dua puluh jurus sudah lewat. Tapi belum ada pihak yang terlibat terdesak. Keduanya terus menyerang dan bertahan secara bergantian.


Sedangkan di satu sisinya, Yao Mei saat ini sedang dicecar oleh Cambuk Pisau. Cambuk itu bergetar di tengah gelapnya malam.


Tiga batang pisau dari ujung cambuk tiga warna tersebut terus mengancam seluruh tubuh Yao Mei. Kalau orang lain yang berada di posisi itu, mungkin dalam beberapa jurus ke depan dia sudah berubah menjadi mayat.


Untunglah Yao Mei tidak termasuk di dalamnya. Meksipun dicecar tanpa henti, tapi ia tetap bisa membebaskan dirinya.


Pedangnya bergerak menangkis tiga batang pisau itu. Yao Mei meringis pelan. Tangannya terasa ngilu setiap kali bertemu dengan senjata lawan.