Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Nenek Seribu Jarum


Melihat rekannya mulai terdesak oleh lawan, sosok serba hitam yang satu lagi segara melompat. Dia memutuskan supaya terlibat dalam pertarungan itu.


Wushh!!! Sringg!!!


Satu kali kakinya menjejak tanah, dia sudah melesat ke tengah udara. Bersamaan dengan itu, dirinya juga mengeluarkan pedang yang sama tipis dari punggungnya.


Pada saat orang itu melibatkan diri, kebetulan Zhang Fei sedang mendesak lawannya. Sehingga perhatiannya hanya ditujukan kepada orang tersebut.


Untunglah tubuhnya sudah terbiasa dengan ancaman yang berkaitan dengan keselamatan nyawa, secara tiba-tiba kepalanya menengadah ke atas.


Begitu melihat ada orang yang berniat menyerang ke arahnya, dengan sigap anak muda itu menarik langkah mundur sebagai upaya menyelamatkan diri.


Setelah berhasil terhindar dari serangan, ia segera membalasnya.


Wushh!!!


Pedang Raja Dewa bergetar. Dia telah mengeluarkan jurus Langit Biaskan Cahaya Surya. Dengan pengerahan tenaga lima bagian, tentu jurus kedua itu mampu berakibat lebih bahaya lagi.


Cahaya putih keperakan datang bergulung-gulung. Dua anggota Partai Panji Hitam terkejut. Mereka tidak percaya bahwa anak muda itu ternyata mempunyai jurus pedang yang dahsyat.


Saat ini keduanya sedang berusaha keras untuk menangkis atau menghindari serangan Zhang Fei.


Sayangnya mereka hanya mampu bertahan sebentar. Paling-paling cuma tujuh jurus saja. Sedangkan tepat pada jurus berikutnya, tiba-tiba terdengar robekan kain sebanyak dua kali.


Srett!!! Srett!!!


Ujung pedang pusaka itu berhasil memberikan luka di perut lawannya. Mereka meringis menahan sakit.


"Kurang ajar. Ternyata dia bukan pemuda kosong," kata salah satu dari mereka.


"Jangan banyak bicara, kita habisi saja dia,"


Dua orang itu menyerang lagi. Sayangnya serangan yang sekarang tidak berbahaya seperti sebelumnya. Mungkin hal tersebut terjadi karena mereka terlalu memaksakan diri.


Wutt!!! Srett!!!


Zhang Fei menyambut serangan keduanya. Dengan gerakan yang cepat dan rumit, ujung pedangnya kembali berhasil menorehkan luka di tubuh lawan.


Dua orang itu menjerit keras lalu roboh ke tanah. Darah segar seketika mengalir keluar dari dada yang tergores cukup dalam tersebut.


Keadaan menjadi hening lagi. Zhang Fei sudah kembali ke posisi semula. Namun ia belum menyarungkan Pedang Raja Dewa, pendekar muda itu masih menggenggam pusaka tersebut di tangan kanannya.


Sementara itu, kentongan kedua terdengar sudah dibunyikan. Itu artinya malam semakin larut.


Udara dingin yang menusuk tulang, sudah terasa dengan jelas.


Tiba-tiba, raut wajah Dewa Arak Tanpa Bayangan berubah cukup hebat. Beberapa kali dirinya menoleh ke setiap penjuru mata angin. Seolah-olah sedang mencari sesuatu.


"Ada apa, Tuan Kiang?" tanya Zhang Fei penasaran.


"Sepertinya tempat ini sudah dipenuhi oleh tokoh-tokoh kelas atas," jawabnya serius.


"Benar. Dan nampaknya, mereka sengaja menunggu waktu yang tepat untuk memunculkan diri," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


Di satu sisi lain, terlihat Hartawan Ouw sedang tersenyum mengejek ke arahnya. Sepertinya dia sendiri sudah tahu akan hal ini. Hanya saja ia memilih untuk diam.


"Keparat, berani sekali kau mengejek kami," kata Zhang Fei merasa tidak terima.


Wushh!!!


Ia langsung melesat ke depan. Salah satu jurus dari rangkaian Kitab Pedang Dewa langsung digelar secara sempurna.


"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"


Hawa pedang langsung memenuhi arena sekitar. Zhang Fei menyerang Hartawan Ouw dengan gagah perkasa. Pedang pusaka miliknya terus berkelebat menyeramkan seperti petir yang menyambar di tengah malam.


Seluruh tubuh itu menjadi incaran utamanya. Selain menyerang dengan pedang, sesekali dia pun menyerang lawannya menggunakan kedua kaki.


Hartawan Ouw pada awalnya tidak merasa takut. Sebab dia merasa yakin mampu menghadapi anak muda tersebut.


Apalagi, pada dasarnya ia merupakan orang persilatan yang cukup mempunyai kemampuan.


Dengan kepercayaan penuh dia mulai mengimbangi gerakan Zhang Fei. Pedang pendek yang terselip di pinggangnya sudah diloloskan keluar.


Benturan nyaring mewarnai pertarungan mereka. Sepuluh jurus pertama, Hartawan Ouw masih bisa mengimbangi atau bahkan mendesak Zhang Fei.


Tapi lima jurus berikutnya, ia mulai merasa kewalahan. Terutama sekali setelah gerak serangan anak muda itu berubah.


Wutt!!! Slebb!!!


Ujung Pedang Raja Dewa tahu-tahu sudah menusuk tenggorokannya dengan telak.


Hartawan Ouw melotot besar, ia kaget setengah mati. Dengan jurus dan gerakan bagaimana, anak muda itu mampu menusuknya?


Ia tidak tahu. Ia pun tidak bisa berpikir lebih jauh, sebab beberapa saat kemudian, nyawanya sudah melayang.


Setelah berhasil membunuh Hartawan Ouw, dirinya segera kembali ke tempat tadi.


Tidak lama setelah itu, mendadak dari beberapa tujuh berlompatan orang-orang berpakaian serba hitam. Ada pula satu tokoh tua yang mengenakan pakaian berbeda.


"Ternyata ucapanmu benar, Tuan," katanya kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tentu saja,"


Datuk Dunia Persilatan itu tertawa lantang. Ia kemudian meneguk arak yang berada di dalam Guci Emas Murni.


Tidak hanya dirinya saja, bahkan orang tua itu membagi pula dua rekannya. Mereka asyik minum arak secara bergantian.


Sementara delapan orang yang ada di depannya, sama sekali tidak mereka lirik. Seolah-olah di sana sudah tidak ada lawan tangguh lagi, kecuali hanya puluhan anak buah Hartawan Ouw yang pada saat ini sudah ketakutan.


"Cih, kalian ini memang manusia-manusia yang tidak bisa menghargai sesama," kata salah satu dari mereka. Suaranya cempreng. Mirip seperti kaleng yang dipukul beberapa kali.


Yang berbicara barusan itu adalah seorang wanita. Usianya sudah sangat tua. Mungkin tidak terpaut jauh dari Orang Tua Aneh Tionggoan dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri.


Wajahnya dipenuhi oleh keriput, deretan giginya sudah ada yang menghitam. Rambutnya yang berwarna putih panjang itu, dia biarkan terurai dan awut-awutan begitu saja.


Si nenek tua tersebut mengenakan pakaian ringkas warna merah.


Dengan penampilan seperti itu, sekilas pandang dirinya tidak menyerupai manusia. Melainkan mirip setan yang datang dari neraka.


"Aih, ternyata di sini pun ada Nenek Seribu Jarum Cui Ni," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan seolah-olah terkejut. "Maaf, maaf. Kami terlalu asyik minum arak,"


"Hemm .." tokoh tua yang barusan disebut Nenek Seribu Jarum itu mendengus kesal.


"Kau mau minum arak juga?" tanyanya lebih jauh.


"Aku tidak sudi minum arakmu," katanya sinis.


"Hahaha ... lagi pula, aku pun tidak ada niat memberikannya kepadamu,"


Mereka bertiga kemudian tertawa senang. Di tengah gelak tawa itu, tiba-tiba Zhang Fei bicara.


"Tuan Kiang, kau terlalu kasar. Bagaimana kalau nenek bau ini mati mendadak? Bisa-bisa, nantinya kau akan dihantui setiap malam,"


Mereka tertawa lagi. Malah sekarang sampai seluruh tubuhnya ikut terguncang.


Nenek Seribu Jarum seketika merasa marah ketika mendengar ejekan Zhang Fei barusan.


"Anak setan. Berani sekali kau memaki aku,"


Wutt!!!


Dia menggerakkan tangan kanannya. Sesaat kemudian segera meluncur tujuh batang jarum perak yang berukuran sangat kecil.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan bergerak lebih dulu. Ia menahan semua jarum perak itu dengan guci arak miliknya.


"Hati-hati, anak Fei. Nenek tua ini adalah salah satu Datuk Dunia Persilatan aliran sesat," katanya memberitahu.