Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Hua Ting


Ketika Zhang Fei sudah tiba di ruangan tadi, ia masih melihat si murid itu tetap berada di tempatnya. Dia tidak bergeser bahkan walau hanya setengah jengkal.


Kematian si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming benar-benar merupakan pukulan terhebat baginya. Ia sendiri masih tidak percaya bahwa gurunya akan tewas dalam pertarungan ini.


Padahal, dirinya juga yakin bahwa Ketua Partai Gunung Pedang itu telah mempunyai kemampuan hebat.


Tapi mengapa ia bisa tewas?


Sungguh, murid kepercayaannya tersebut masih merasa tidak terima dengan kematian gurunya.


Dia menganggap bahwa langit tidak adil.


Mengapa yang harus tewas adalah si Pedang Angin Puyuh? Mengapa bukan musuhnya saja?


Cukup lama Zhang Fei berdiri di sudut ruangan. Dia tidak berbicara apapun. Seakan-akan dirinya sengaja memberikan waktu untuk murid itu menenangkan pikiran dan perasaannya.


Saat ini, di dalam ruangan itu hanya ada dia dan di murid kepercayaan saja. Sedangkan tiga orang murid lainnya, sudah tidak terlihat batang hidungnya.


Sekitar lima belas menit kemudian, sepertinya murid itu sudah merasa tenang. Ia mendadak bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Zhang Fei.


"Saudara Fei, kau berhasil menemukan mereka?" tanyanya dengan hambar.


Mereka yang dimaksud olehnya, tentu saja adalah orang-orang serba hitam tadi!


"Aku tidak berhasil menemukannya. Mereka sudah lenyap begitu saja," jawab Zhang Fei dengan cepat.


Ia berhenti sebentar. Mengawasi wajah orang di depannya dengan teliti. Terlihat olehnya ada raut wajah kecewa yang tidak bisa dilampiaskan.


"Tapi kau jangan khawatir," katanya melanjutkan lagi bicaranya. "Walaupun aku tidak menemukan orang-orang itu, tapi aku telah menemukan petunjuk,"


"Petunjuk apa?"


Murid itu bertanya dengan cepat. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui maksud ucapan Zhang Fei.


"Sabar dulu, rasanya aku belum mengetahui siapa namamu, Kakak," tukas anak muda itu sambil tersenyum hangat.


Murid kepercayaan Gouw Ming tiba-tiba tertawa juga. Walaupun dia sebenarnya sedang berduka, tapi ia tidak mau membuat orang lain merasakan apa yang ia rasakan.


Karenanya ia memilih untuk membalas tawa Zhang Fei.


"Baiklah, maafkan aku, aku lupa. Margaku Hua, namaku Ting," katanya sambil tersenyum. "Kau bisa memanggilku Kakak Ting,"


"Oh, baiklah, Kakak Ting,"


"Nah, sekarang coba ceritakan petunjuk apa yang kau temukan itu," ujarnya meminta Zhang Fei menjelaskan lebih jauh.


"Aku berhasil menemukan ini," dia berkata sambil memperlihatkan lencana yang tadi dia temukan.


Hua Ting mengambil lencana tersebut. Dia mengawasinya sebentar. Setelah melihat ukiran dan tulisan yang terdapat di atasnya, tiba-tiba wajah Hua Ting mengalami suatu perubahan.


"Partai Iblis Sesat ..." desisnya diiirngi sedikit rasa takut.


"Kalau aku tidak salah, bukankah partai itu, adalah partai sesat yang terdapat di negeri kita?" tanya Zhang Fei memastikan.


Meskipun sebelumnya dia pernah mendengar tentang nama-nama partai besar di Tionggoan dari guru dan kakeknya, tetapi karena belum pernah bertemu secara langsung, maka ia tidak mau mengambil kesimpulan.


Karenanya dia memutuskan untuk bertanya dan berpura-pura tidak tahu.


"Adik Fei, kau tahu? Kalau urutannya tidak berubah, maa Partai Iblis Sesat itu justru menempati di urutan pertama sebagai partai sesat terbesar di Tionggoan," ujar Hua Ting menjelaskan.


Sambil berkata demikian, ia juga memandang ke jendela luar. Melihat langit malam yang mulai kelam.


"Setahuku tidak. Selama ini, guru tidak pernah punya persoalan dengan siapa pun. Bahkan Partai Gunung Pedang juga tidak memiliki musuh. Apalagi setelah dunia persilatan kacau seperti sekarang, sebisa mungkin kami selalu menghindari sesuatu yang dapat menimbulkan malapetaka,"


Memang, kebanyakan partai dunia persilatan dewasa ini tidak pernah mau terlibat dalam berbagai macam persoalan.


Hampir semua partai hanya memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Tidak pernah memikirkan nasib orang lain.


Karena itulah begitu mendengar penjelasan barusan, Zhang Fei juga tidak cukup kaget. Sebab dia sudah tahu sebelumnya.


"Kalau begitu memang benar, dibalik peristiwa ini pasti ada sesuatu yang masih tersembunyi,"


"Aku juga berpikir begitu. Menurutmu, siapa orang-orang tadi? Apakah benar mereka adalah anggota Partai Iblis Sesat?"


Hua Ting mengajukan pertanyaan lebih jauh kepada anak muda itu. Walaupun dia tahu usia Zhang Fei jauh lebih muda dari dirinya, tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa pemuda yang baru dikenalnya itu, mempunyai kecerdasan jauh di atas dia sendiri.


Terkait hal tersebut, dia sudah mengetahui sendiri sebelum peristiwa berdarah ini terjadi.


Di satu sisi, sebenarnya Zhang Fei juga tidak mau ikut campur dalam persoalan ini. Apalagi ia hanya mempunyai urusan dengan Pendekar Pedang Emas Gan Li.


Tetapi karena situasinya tidak mendukung, ditambah lagi secara tidak sengaja, ia sudah terjerat dalam lingkaran masalah dunia persilatan, maka mau tidak mau ia pun harus ikut terlibat.


Mungkin memang sudah seperti itu nasibnya. Dia harus melewati masa mudanya dengan persoalan-persoalan pelik!


"Kakak Ting, sebenarnya aku tidak mau terlibat dalam masalah ini," ucap Zhang Fei sambil menghela nafas berat.


"Tapi sekarang, mau tidak mau kau harus melibatkan diri juga,"


"Ya, kau benar," ujarnya menganggukkan kepala.


"Jadi, bagaiamana pandanganmu terkait kejadian ini?"


"Kalau menurutku, sekarang lebih baik kita kuburkan dulu jasa Ketua Gouw Ming dan mencari tiga murid lainnya. Setelah urusan ini selesai, kita harus bisa melanjutkan diskusi ini. Bagaimana?"


"Hemm, baiklah. Kalau begitu, aku yang menguburkan jasad guru, kau yang mencari jejak murid lainnya,"


"Baik. Aku setuju,"


Dua orang itu kemudian segera memulai tugasnya masing-masing. Hua Ting menguburkan jasad Gouw Ming di halaman belakang Partai Gunung Pedang.


Sedangkan Zhang Fei segera mencari jejak tiga murid lainnya. Awal mencari, ia merasa bingung. Sebab dia sendiri sama sekali tidak tahu ke arah mana mereka pergi.


Tapi setelah teringat bahwa di sekitar tempat itu ada sebuah hutan, maka ia memilih untuk mencarinya di sana.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, usahanya tidak sia-sia. Dia berhasil menemukan tiga murid yang dicari.


Sayangnya, mereka sudah berada dalam keadaan tewas. Ketiganya ditemukan persis di tengah-tengah hutan.


Zhang Fei tidak mau membuang waktu. Dia segera membawa ketiganya kembali dan langsung menguburkannya di pinggir kuburan si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming.


Dua orang itu baru selesai mengerjakan tugasnya masing-masing setelah mentari pagi sudah muncul di ufuk sebelah timur.


Tidak lama kemudian, mereka memutuskan untuk pergi dari sana dan mencari warung makan yang sepi.


Karena Hua Ting sudah lama tinggal di Kota Luoyang, maka dalam waktu sebentar saja dia sudah bisa menemukan warung makan yang diinginkannya.


Warung makan tersebut terletak di sebuah desa pinggiran. Keadaan di sana memperihatinkan. Ekonomi rakyat benar-benar berada di bawah.


Zhang Fei sendiri merasa miris. Akhirnya dia membagikan sedikit uangnya kepada warga yang membutuhkan.


Setelah itu, dia dan Hua Ting segara masuk ke warung makan kecil dan langsung memesan menu makanan.