
Untuk beberapa saat, pertarungan di antara mereka berhenti. Dua orang tokoh sesat yang menjadi lawan Biksu Bian Ji Hung masih berdiri termenung. Mereka seakan-akan sedang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kejadian barusan itu, benar nyata? Atau mimpi?
"Rupanya orang tua itu mempunyai tenaga sakti yang mampu menyedot tenaga sakti lawannya," kata tokoh sesat yang berdiri di sebelah kiri.
"Ya, kau benar. Setiap orang yang tenaga saktinya berada di bawah dia sendiri, tua bangka itu pasti akan mampu menyedotnya," rekannya tidak menampik. Dia pun mengetahui akan hal tersebut.
Dalam dunia persilatan, ilmu seperti ini sebenarnya cukup banyak. Biasanya, yang memiliki ilmu tersebut adalah tokoh-tokoh kelas atas.
Tetapi, ilmu daya penyedot yang dimiliki oleh Biksu Hung itu benar-benar sempurna. Mereka sendiri dibuat terkejut setengah mati.
"Ah, sudahlah. Mungkin dia ahli menyedot tenaga lawan. Tapi, belum tentu dia juga ahli dalam segi kecepatan,"
"Hemm ... kau benar. Tidak semua orang ahli dalam segala bidang," rekannya mengangguk setuju. Setelah berpikir seperti itu, semangat yang sempat hilang, kini telah datang kembali. "Sekarang, mari kita serang dia secepat mungkin,"
"Baik. Mari,"
Wushh!!! Wushh!!!
Mereka kembali melesat ke depan setelah selesai mempersiapkan dirinya. Dua batang senjata berupa golok panjang tiba-tiba berkelebat di tengah udara dan mengarah ke tubuh Biksu Hung.
Sambaran golok yang datang begitu cepat. Angin yang tercipta juga terasa tajam menyayat kulit. Keduanya yakin, dengan jurus golok pamungkasnya, maka mereka mampu membunuh Biksu Hung dengan cukup mudah.
Namun sayangnya, mereka terlalu terburu nafsu sehingga lupa siapa orang tua yang menjadi lawannya saat ini.
Sebagai Ketua dari sebuah partai besar, sudah tentu kemampuannya tidaklah rendah. Apalagi dengan usianya yang sudah tua, ditambah pula dengan kematangan ilmunya. Baik itu lahir maupun batin.
Dengan segala modal yang ada tersebut, rasanya dalam dunia persilatan dewasa ini, yang mampu mengalahkannya hanya mereka yang satu generasi. Itu pun tidak banyak.
Wutt!!! Wutt!!!
Dua batang golok datang dari atas. Dilanjutkan lagi dengan tebasan beruntun dari kanan dan kiri. Tidak hanya itu saja, bahkan mereka juga turut serta melepaskan tendangan maut ke beberapa titik tertentu.
Menghadapi semua itu, Biksu Hung tidak merasa takut sama sekali. Sambil tersenyum lembut, dia mulai menyambut serangan lawan.
Kedua tangannya bergerak cepat mengikuti irama. Kakinya bergeser mengikuti gerakan tangan. Semua gerakan tersebut dilakukan dengan tenang dan santai.
Seolah-olah Biksu Bian Ji Hung tidak datang bertempur. Melainkan seperti sedang berlatih.
Tetapi anehnya, semua usaha yang dilakukan oleh lawan, satu pun tidak ada yang berhasil. Jurus golok mereka gagal menemui sasaran. Begitu juga dengan serangan-serangan lainnya.
Supaya tidak membuang waktu, ketika mendapat kesempatan, dengan gerakan kilat Biksu Hung langsung menurunkan tangan keras.
Kedua telapak tangannya lebih dulu memapak golok lawan. Begitu golok berhasil ditangkis, ia segera mematahkannya.
Clangg!!!
Suara nyaring terdengar. Dua batang golok itu telah patah menjadi dua bagian. Selesai dengan hal tersebut, Biksu Hung melanjutkannya lagi.
Kedua telapak tangannya didorong ke depan. Serangan tersebut mengenai ulu hati lawan tanpa bisa dihindari.
Tubuh mereka terlempar kembali. Kali ini keduanya langsung bergulingan di atas tanah. Dari mulutnya terlihat ada cukup banyak darah segar yang keluar. Wajah mereka pucat pasi. Persis seperti mayat.
Meskipun tidak sampai mati, tapi kondisinya saat ini justru terasa lebih buruk daripada orang mati.
Hal itu terjadi karena Biksu Hung telah menghancurkan ilmu silat mereka!
Wushh!!!
Sementara di sisi lain, Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han saat ini juga sedang menjalani pertarungannya masing-masing. Mereka berdua melawan satu orang pendekar pilih tanding.
Dua macam pertarungan itu sudah menghabiskan puluhan jurus banyaknya. Tetapi sampai saat ini, kedua belah pihak yang terlibat masih tetap bisa memberi ataupun membalas serangan.
Suara benturan tulang terdengar nyaring. Biksu Lo Jit mulai memainkan jurus-jurus pamungkas miliknya. Tidak mau kalah dari rekannya, Biksu Lo Han juga mengambil langkah serupa.
Mereka mulai mengeluarkan serangkaian jurus tangan kosong. Serangan telapak tangan yang membawa kabar maut sudah digelar. Dua orang pendekar pilih tanding semakin bertindak lebih waspada lagi.
Perlu diketahui, hampir semua jurus tangan kosong yang berasal dari Kuil Seribu Dewa, lebih menekankan kepada gerakan menyerang dengan telapak tangan. Mereka tidak menekankan kepada gerakan pukulan seperti jurus tangan kosong pada umumnya.
Hal itu karena menurut leluhurnya terdahulu, menyerang dengan telapak itu jauh lebih efektif daripada menyerang dengan pukulan.
Akibat yang ditimbulkan kepada si pengguna tidak terlalu berisiko. Namun akibat bagi korban, tentunya sangat tinggi sekali.
Maka dari itulah, sejak dahulu sampai saat ini, mereka tetap memegang teguh hal tersebut.
Saat ini, pertarungan mereka berdua semakin berjalan seru. Rupanya tokoh-tokoh sesat yang dilawan oleh kedua biksu tersebut mempunyai pengalaman bertarung yang cukup banyak.
Hal itu bisa dilihat dari cara bagaimana mereka menangkis atau menghindari serangan lawannya.
Gerakan mereka benar-benar cepat. Serangan balasan yang diberikan juga tidak kalah berbahayanya.
Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han saling pandang sesaat. Walaupun mulut tidak bicara, tapi tatapan mata mereka sudah mengungkapkan semuanya.
Wushh!!!
Mereka berdua melompat mundur sejauh lima langkah. Dua orang tokoh sesat itu tidak memberikan waktu jeda. Mereka terus memburu saat melihat kedua biksu itu mundur.
Dalam hatinya masing-masing, mereka menganggap bahwa pihak lawan saat ini sudah mulai kewalahan.
Sayangnya anggapan itu salah besar. Yang sedang terjadi pada saat itu justru adalah sebaliknya.
Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han sebenarnya sedang mempersiapkan jurus pamungkas. Dan mereka makin gembira ketika mengetahui bahwa lawan ternyata tidak ingin melepaskannya.
"Bagus. Majulah kalian!" kata Biksu Lo Jit sambil membentak nyaring.
Wutt!!!
Kedua biksu itu menerjang ke depan. Di tengah perjalanan, mereka langsung menggelar jurus-jurusnya.
Dengan posisi yang seperti itu, tentu saja dua tokoh sesat tersebut tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak mampu bertahan dari jurus pamungkas Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han.
Sekitar sepuluh jurus kemudian, keduanya langsung terlempar. Mereka muntah darah cukup banyak. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan sekali.
Sebenarnya pada saat itu mereka mati belum mati. Walaupun benar kondisinya sangat parah, tapi nyawanya toh masih di kandung badan.
Namun Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han tidak bisa membunuhnya. Sebab bagi para biksu, membunuh adalah suatu larangan dan merupakan dosa yang sangat besar.
Siapa pun biksu yang membunuh makhluk hidup, khususnya manusia, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Kecuali, Kalau situasinya benar-benar terdesak. Maka hal itu bisa dijadikan pengecualian.