Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Amarah Para Tokoh Dunia Persilatan II


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan manusia meluncur dengan cepat. Dewi Rambut Putih dan Pendekar Tombak Angin langsung memberikan serangan terakhirnya.


Tebasan pedang dan tusukan tombak hampir tiba secara bersamaan. Jerit kematian kembali terdengar. Semburan darah segar juga terlihat sangat jelas di tengah udara hampa.


Dalam waktu yang tidak lama, setidaknya dua puluh tiga orang saat ini sudah terkapar di atas tanah tanpa nyawa.


Di sisi yang lain, masih ada satu lagi pertarungan yang sudah mencapai puncaknya.


Di sana, Zhang Fei juga sedang bertempur sengit melawan tujuh orang pendekar kelas satu. Selama berjalannya waktu, Zhang Fei telah berhasil menorehkan luka di tubuh beberapa orang musuhnya.


Sepak terusng anak muda itu tidak mau kalah dari para Datuk Dunia Persilatan. Ketika mendapat posisi yang sangat baik, dengan segera Zhang Fei melompat ke depan sambil mengeluarkan jurusnya di tengah udara.


"Murka Pedang Dewa!"


Wushh!!! Wungg!!!


Suara mendengung segera terdengar. Hawa pedang yang sangat menekan juga tertawa dengan jelas. Tujuh orang pendekar kelas satu tercekat. Gerakan mereka menjadi sedikit melambat karena tekanan dari hawa pedang itu.


Pedang Raja Dewa saat ini telah bergerak bagaikan seekor naga. Setiap gerakannya mampu mendatangkan kematian mengerikan.


Tujuh orang pendekar kelas satu berusaha untuk menyelematkan selembar nyawanya masing-masing. Namun naasnya usaha itu tidak berjalan dengan mulus.


Pedang pusaka yang digenggam oleh Zhang Fei terus mengejar dan memberikan ancaman kepadanya. Walaupun sudah berusaha menangkis, tapi usaha itu percuma.


Malah senjata yang mereka gunakan dibuat patah ketika berbenturan dengan Pedang Raja Dewa.


Seiring berjalannya waktu, sepak terjang Zhang Fei semakin menakutkan. Kecepatan serangannya makin bertambah. Lima belas jurus kemudian, tujuh orang pendekar kelas satu itu semuanya sudah tewas. Tewas dengan berbagai macam luka di tubuhnya.


Ada yang tertidur di bagian jantung, ulu hati, bahkan tertusuk di bagian tenggorokan.


Tidak hanya itu saja, malah ada satu orang musuh yang lehernya hampir putus akibat ditebas oleh Pedang Raja Dewa.


Sekarang, tiga puluh orang yang tadi berada dalam posisi siap, mereka telah tewas diamuk oleh empat tokoh dunia persilatan.


Zhang Fei dan yang lainnya berniat untuk masuk ke dalam dan mengetahui apa yang sedang terjadi di sana, namun para saat itu terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan telah berbicara.


"Tahan dulu, lihat di sana!" ia menunjuk ke halaman lain. Di mana pada saat itu ada enam orang pria tua yang baru saja melompat dari dalam sebuah ruangan.


"Itu si tua bangka Lu!" seru Zhang Fei cukup lantang.


"Mari kita ke sana," ajak Pendekar Tombak Angin.


Wushh!!!


Mereka bergerak cepat. Dalam waktu singkat keempatnya sudah ada di sana dan segera mengelung enam orang pria tua tadi.


Tidak lama setelah itu, dari dalam ruangan terlihat pula Dewa Arak Tanpa Bayangan yang baru saja melompat keluar.


Suasana di sana langsung menjadi tegang. Hawa pembunuh dan hawa kematian yang bercampur mampu membuat orang awam pingsan.


Di antara kedua belah pihak yang saat ini ada di sana, belum satu pun dari mereka yang membuka mulut. Masing-masing masih diam dan menakar kemampuan lawannya.


Menurut pandangan Dewa Arak Tanpa Bayangan, keenam orang tersebut setidaknya sudah termasuk ke dalam jajaran pendekar pilih tanding. Sedangkan khusus Tuan Lu, dia termasuk dalam pendekar tanpa tanding.


Walaupun dalam hati, dia yakin pihaknya mampu mengalahkan mereka, tapi rasanya waktu yang dibutuhkan pun tidak sedikit.


Di samping itu, juga harus mengorbankan banyak tenaga demi meraih kemenangan.


"Aku benar-benar bodoh karena telah tertipu olehmu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada Tuan Lu.


"Tapi sayangnya sandiwara ini harus berakhir dengan cepat," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Ya, aku pun sangat menyayangkannya. Dan ini semua gara-gara kalian," dia menunjuk ke arah lima orang yang hadir.


"Bukan karena aku, melainkan karena kebodohanmu sendiri," Zhang F sudah tidak bisa menahan diri. Dia pun ikut angkat bicara.


"Apa? Kau bilang aku bodoh?" Tian Lu sedikit kesal, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.


"Ya, kau memang bodoh," tegas Zhang Fei.


"Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Karena secara tidak langsung, justru kau sendiri yang sudah memberitahukan rencana busuk ini kepada kami semua,"


"Oh, benarkah?"


"Tentu. Coba saja kau pikirkan sendiri,"


Tian Lu tidak menjawab. Dia benar-benar langsung membungkam mulutnya. Orang tua itu saat ini sedang memikirkan apa saja yang telah dia lakukan dan bicarakan kepada lima orang tersebut.


"Kau benar. Aku memang bodoh," katanya setelah sekian lama berpikir. Nadanya terdengar lemah, seolah-olah dia sedang menyesal.


"Bagus, akhirnya kau sadar," ucap Zhang Fei sambil tersenyum dingin.


"Tapi aku tidak perlu khawatir soal itu," tiba-tiba Tian Lu berkata dengan lantang lagi. "Walaupun kalian sudah berhasil membongkar sandiwara ini, tapi setidaknya tugasku sudah selesai. Aku berhasil mencelakai Ketua Dunia Persilatan sekaligus membantu para sahabat dalam menjalankan tugasnya masing-masing,"


"Apa yang kau maksudkan?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tidak perlu bertanya. Aku yakin kalian sudah mengerti perkataanku,"


Mereka tiba-tiba terdiam lagi. Suasana semakin tegang, apalagi sekarang situasinya juga makin memanas.


"Setan tua, sebutkan siapa kau sebenarnya dan dari pihak mana kau berasal?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap lekat ke arahnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Dan kau juga tidak akan pernah tahu dari mana aku berasal,"


"Baiklah. Mungkin kalau terus bicara tidak akan ada selesainya. Jadi, mari kita bersenang-senang barang beberapa saat,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan menenggak dulu arak yang ada di dalam Guci Emas Murni. Setelah merasa puas, dia langsung memberikan serangan kepada Tian Lu.


"Dewa Arak Meminta Air Kata-kata (arak),"


Salah satu jurusnya sudah digelar. Itu adalah jurus pertama dari rangkaian Ilmu Dewa Mabuk Utara yang dia ciptakan sendiri ketika dulu bertapa di Gunung Thai San.


Kedua tangannya bergerak seperti seseorang yang meminta-minta. Bersamaan dengan itu dia pun sekaligus melancarkan pukulan ke berbagai titik penting.


Serangannya seolah-olah tidak beraturan. Padahal yang sebenarnya, serangan tersebut sangat berbahaya. Apalagi sekarang dia telah mengerahkan sembilan bagian tenaganya.


Tian Lu tercekat. Sebagai orang persilatan, tentu saja dia pernah mendengar tentang kehebatan jurus milik Dewa Arak Tanpa Bayangan tersebut.


Namun karena ia sendiri bukan orang sembarangan, maka dengan segera dirinya memberikan sambutan.


Wutt!!! Plakk!!!


Benturan telapak tangan seketika terjadi. Tian Lu terdorong dua langkah ke belakang. Sedangkan Dewa Arak Tanpa Bayangan hanya setengah langkah.


Dari sini, bisa dilihat bahwa kemampuan mereka mempunyai selisih yang tidak terlalu jauh. Sehingga dapat dipastikan bahwa pertarungan yang berlangsung akan sengit.