Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Amarah Para Tokoh Dunia Persilatan I


Sebelum ucapannya itu diselesaikan, Dewa Arak Tanpa Bayangan malah sudah tidak ada lagi di dalam ruang pertemuan. Seolah-olah orang tua itu menghilang begitu saja.


"Kita juga tidak boleh diam saja. Kita harus segera menyusulnya," kata Orang Tua Aneh Tionggoan kepada yang lain.


"Baik," jawab mereka hampir secara bersamaan.


Wushh!!! Wushh!!!


Para tokoh dunia persilatan tersebut langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka sampai ke titik paling tinggi.


Ketua Cabang Partai Pengemis menggelengkan kepala beberapa kali. Dia benar-benar kagum kepada para tokoh tersebut. Terutama sekali kepada anak muda yang bernama Zhang Fei.


"Di usia muda saja dia sudah sehebat ini, lalu apa jadinya kalau nanti dia sudah tua?" Ketua Cabang tersebut bergumam seorang diri.


Sesaat kemudian dia segera keluar dari ruangan dan mengajak anggota pilihannya. Dia pun ingin menuju ke Gedung Ketua Dunia Persilatan, siapa tahu di sana para tokoh rimba hijau tadi membutuhkan bantuannya.


Sementara itu, dalam waktu singkat saja Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah tiba di Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Keadaan diluar tampak sepi. Tidak ada penjagaan sama sekali. Hal itu menjadikannya semakin curiga.


Wushh!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan melesat masuk ke dalam area Gedung Ketua Dunia Persilatan. Dia dibuat terkejut setelah menyaksikan bahwa di halaman sudah ada setidaknya tiga puluh orang yang saat ini sedang berdiri menghadap ke luar.


Orang-orang itu bersenjata lengkap. Walaupun pakaian yang mereka kenakan berbeda —karena masih dalam penyamaran—, namun masing-masing dari mereka terlihat sudah berada dalam keadaan siap.


Begitu Dewa Arak Tanpa Bayangan memunculkan diri, orang-orang itu langsung mengangkat senjata dan siap untuk menyerangnya.


"Minggir kalian!" Datuk Dunia Persilatan itu membentak sangat nyaring.


Bersamaan dengan hal tersebut dia mengibaskan tangan kanannya. Segulung angin yang mengandung kekuatan besar meluncur deras ke arah mereka.


Serangan jarak jauh barusan setidaknya mengandung enam bagian tenaga dalam miliknya. Jadi tidak heran kalau hasilnya sangat diluar nalar.


Sepuluh orang yang tadi melompat ke depan lebih dulu, selayang mereka terlempar beberapa langkah ke belakang. Meskipun tidak sampai tewas atau mengalami luka serius, namun setidaknya untuk beberapa waktu mereka tidak mampu menggunakan kemampuannya.


Setelah berhasil dengan usaha tersebut, Dewa Arak Tanpa Bayangan meneruskan langkahnya. Pintu besar yang tertutup ia dobrak. Dia kemudian menuju ke ruangan di mana terdapat Ketua Beng Liong yang sedang berada dalam kondisi tidak berdaya.


Brakk!!!


Pintu itu langsung hancur berkeping-keping. Pada saat yang sama, di dalam kamar tersebut juga sedang terjadi pertarungan.


A Wei yang menjadi orang kepercayaannya terlihat sedang melawan salah seorang rekan Tian Lu secar mati-matian. Meskipun seluruh tubuhnya sudah mengalami luka, namun A Wei tetap tidak mau menyerah.


Ketika menyadari kemunculan Dewa Arak Tanpa Bayangan, A Wei segera menoleh ke arahnya.


"Tuan Kiang ... aku ... aku sudah berhasil menjalankan tugasku," A Wei berkata sepatah demi sepatah.


Tepat setelah itu dia langsung ambruk ke lantai. Setelah dilihat lebih teliti, rupanya sebatang jarum rahasia sudah menusuknya tepat di bagian tenggorokan.


Dewa Arak Tanpa Bayangan sangat geram. Apalagi setelah dia menyadari bahwa Ketua Beng Liong sudah tidak terlihat bergerak sama sekali.


Saat ini, dirinya tidak bisa memastikan apakah Ketua Beng Liong masih hidup atau tidak. Yang jelas, amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kepala.


Ia kemudian memandang Tian Lu dan lima orang yang ada di dalam kamar tersebut.


Wutt!!! Wutt!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan tampil seperti harimau ganas yang terluka parah. Setiap satu pukulan dan tendangan yang dia lancarkan mampu membunuh seorang pendekar kelas dua.


Enam orang tua yang ada di sana langsung gentar. Mereka sudah mencoba menangkis semua serangan itu dengan kemampuannya masing-masing. Tapi sayangnya usaha tersebut sia-sia. Apalagi kamar itu terlalu sempit sehingga membatasi gerakan mereka.


"Kita keluar!" kata Tian Lu kepada lima orang rekannya.


Mereka mengangguk setuju. Enam orang tersebut kemudian menjebol jendela kamar.


Sementara di sisi lain, bersamaan dengan pertarungan singkat barusan, saat itu Zhang Fei dan Tiga Datuk Dunia Persilatan juga sudah tiba di halaman Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Begitu melihat ada puluhan orang yang berdiri dengan posisi siapa, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, mereka segera menyerangnya dengan jurus-jurus yang dimiliki.


Orang Tua Aneh Tionggoan menyerang sembilan orang pendekar kelas satu. Tanpa segan-segan dia langsung mengerahkan segenap kemampuannya.


Dua buah tangan yang sangat luar biasa dan ditakuti oleh banyak orang itu sudah bergerak. Pukulan yang diberikan bagaikan sambaran petir dari langit. Cepatnya bukan main.


Sembilan orang tersebut berseru tertahan. Masing-masing dari mereka merasakan ketakutan yang sama. Tapi karena sudah menjadi tugasnya untuk menjaga keamanan, mau tak mau mereka harus berjuang dengan keras.


Berbagai macam senjata bergerak bebas di tengah udara. Serangan demi serangan diberikan secara bersama-sama.


Sayangnya serangan mereka tidak begitu berarti bagi Orang Tua Aneh Tionggoan. Walaupun musuhnya setara dengan pendekar kelas satu, akan tetapi sekarang dia sudah marah besar. Sehingga kekuatan yang timbul dari dalam dirinya pun semakin hebat dari biasanya.


Trangg!!!


Tangan kanannya berhasil menangkap sebatang tombak sepanjang satu depa. Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah besar kepada tombak tersebut.


Sesaat kemudian tombak biasa itu berubah menjadi luar biasa.


Dentingan nyaring terdengar beberapa saat. Delapan macam senjata milik lawannya, dalam waktu singkat saja sudah berhasil dia patahkan.


"Mampus kalian!" katanya sambil berteriak.


Orang Tua Aneh Tionggoan mengambil ancang-ancang. Begitu siap, dia segera mengeluarkan jurusnya.


"Dua Naga Utusan Malaikat Maut!"


Wushh!!!


Tubuhnya meluncur ke depan dengan deras. Kedua tangan itu bergerak sangat cepat. Deru angin kencang bercampur hawa kematian terasa begitu jelas.


Delapan orang pendekar kelas satu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka hanya mampu menerima takdir buruk yang menimpanya.


Suara jerit kematian terdengar. Delapan tubuh manusia terlempar hampir secara bersamaan. Begitu menyentuh tanah, masing-masing nyawa yang terkandung di dalam tubuh tersebut langsung melayang detik itu juga.


Di sisinya, sepak terjang Dewi Rambut Putih dan Pendekar Tombak Angin juga tidak kalah dari Orang Tua Aneh Tionggoan.


Pedang lemas dan tombak pusaka melesat bagaikan kilat. Jurus-jurus kelas atas yang mereka miliki sudah dikeluarkan. Tujuh orang pendekar kelas satu yang menjadi lawannya langsung berada di posisi terdesak hebat.


Mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya menangkis setiap serangan yang datang. Sayangnya hal itu hanya berlaku sesaat saja. Karena pada saat yang berikutnya, masing-masing senjata yang mereka genggam sudah patah atau terlempar cukup jauh.