Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dua Pendekar Muda yang Terpilih


"Ketua Fei, bagaiamana? Apakah kau setuju menemani Nona Mei untuk menghadapi tua bangka ini?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menoleh sekilas ke arah si Cakar Maut.


"Ya, aku setuju, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei dengan tegas.


Tentu saja dia tidak akan menolak. Jangankan melawan si Cakar Maut Yao Shi, bahkan kalau harus melawan Raja Iblis sekali pun, Zhang Fei tetap tidak menolak.


Kapan lagi ia bertarung bersama Yao Mei dan melawan Yao Shi?


Selain dari perasaannya, Zhang Fei juga ingin melihat sampai di mana kemajuan Yao Mei selama kurang lebih dua tahun ini. Ia ingin tahu rangkaian jurus-jurus pedang kembar yang merupakan warisan dari tokoh besar di masa lalu tersebut.


"Kalau begitu, sekarang juga, mari kita pergi ke belakang,"


"Baik,"


"Mari,"


Beberapa saat kemudian, para tokoh dunia persilatan itu segera pergi ke halaman belakang. Setelah tiba di sana, mereka yang tidak terlibat segera berdiri di pinggir arena.


Sedangkan tiga orang yang sksn bertarung, saat ini mereka sudah berada di tengah-tengah arena.


Suasana pada saat itu terbilang sepi. Meskipun matahari mulai naik tinggi, tapi panasnya tidak terlalu. Sebab ada gumpalan awan yang menutupi cahaya matahari.


Hembusan angin terasa membelai tubuh. Pakaian para tokoh dunia persilatan berkibar cukup kencang.


"Serang aku dengan sekuat tenaga kalian. Jangan tanggung-tanggung," kata Yao Shi kepada dua pendekar muda di depannya.


"Baik, Tuan," jawab Zhang Fei.


"Kau juga tidak boleh menganggap rendah kami berdua, Ayah. Sebab sekarang, kami sudah jauh berbeda dengan yang dahulu," sambung Yao Mei penuh percaya diri.


Yao Shi segera tertawa. Ia tidak bicara. Datuk sesat itu hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Kau tidak percaya? Lihat ini!"


Yao Mei membengan. Sesaat kemudian dia telah melancarkan serangan lebih dulu. Kedua tangannya memukul dari dua arah. Meskipun pada saat itu tubuhnya masih berada di atas udara, namun pukulannya tetap berbahaya.


Tenaga dalam dan tenaga sakti yang terkandung dalam pukulan itu tidak boleh dipandang rendah. Meskipun tidak akan mampu membunuhnya, tapi Yao Shi tetap harus berlaku waspada.


Ia segera memiringkan serta menarik tubuhnya. Bersamaan dengan itu, si Cakar Maut pun menggeser kaki. Semua pukulan Yao Mei tidak ada yang berhasil mengenai sasaran.


Namun angin pukulan yang dihasilkannya telah mengibarkan pakaian sang ayah.


Baru saja Yao Shi akan melancarkan serangan balasan, tahu-tahu dari arah lain sudah ada gempuran telapak tangan.


Rupanya Zhang Fei sudah ikut melibatkan diri!


Tangannya terus memberikan serangan dengan jurus-jurus kelas atas. Tidak hanya itu saja, bahkan kedua kaki pun ikut ambil bagian.


Pertarungan jarak dekat langsung terjadi. Dua orang pendekar muda itu menyerang dari sisi kanan dan kiri.


Mereka mulai mengerahkan segenap tenaga dan kekuatannya. Tenaga sakti tak kasat mata keluar dari setiap gerakan yang mereka lakukan.


Debu-debu kuning dan dedaunan kering yang ada di sekitar arena ikut berterbangan ketika para tokoh itu bergerak. Gumpalan hawa dari ketiganya terasa dengan jelas.


Pertarungan itu berjalan menegangkan. Walaupun bukan pertarungan hidup dan mati, tapi tetap saja, bahaya selalu mengancam setiap saat.


Lima orang Datuk Dunia Persilatan menyaksikan dari pinggir. Mereka seolah-olah terkesima dengan sepak terjang dua pendekar muda yang sedang tampil tersebut.


Walaupun usianya masih muda, tapi setiap jurusnya sangat berbahaya. Bahkan bisa dibilang hampir mencapai tahap kesempurnaan.


"Ternyata kemajuan keduanya benar-benar luar biasa," kata Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba bicara.


"Benar. Kemajuan Nona Mei juga tidak menyangka. Aku yakin, Tuan Shi pasti bangga melihat pencapaian anak gadisnya," sambung Dewi Rambut Putih.


Hal itu terjadi karena jurus-jurus yang berhasil dikuasai oleh Zhang Fei, adalah jurus-jurus yang terhitung sulit untuk dicapai.


Jangankan mereka, bahkan para tokoh di masa lalu pun, belum tentu mampu menguasainya dalam waktu kurang dari tiga tahun.


"Dunia persilatan saat ini benar-benar telah dianugerahi oleh para Dewa. Ada sepuluh orang pendekar muda seperti Ketua Fei dan Nona Mei saja, aku yakin dunia persilatan akan aman. Bahkan negara kita pun akan tenang dan damai," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan ikut berbicara.


"Ya, kau benar. Aku setuju dengan ucapanmu itu," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


Memang, jika dua orang pendekar muda seperti mereka saja sudah mampu untuk membawa perubahan, lalu apa jadinya kalau ada sepuluh orang?


Bukankah hasilnya akan lebih daripada yang dibayangkan?


Sementara itu, pertarungan antara Zhang Fei, Yao Mei dan Yao Shi sudah mencapai sekitar empat puluhan jurus.


Sampai saat ini, pertarungan itu masih berjalan dengan sengit. Mereka yang terlibat terus saling serang satu sama lain.


'Ternyata yang dikatakan oleh Mei'er memang benar. Mereka berdua sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat,' batin Yao Shi sambil terus menangkis setiap pukulan yang datang.


Tidak bisa dipungkiri lagi, dia pun merasa kagum. Hanya saja, Yao Shi merasa segan untuk membatalkan hal itu secara langsung.


Sebenarnya alasan dibalik dia berkata seperti di ruang pertemuan pada saat itu bukan karena semata tidak ingin memberikan tenaga dalam serta tenaga saktinya.


Melainkan karena Yao Shi sedang mencari cara ingin menguji sampai di mana kemampuan mereka berdua.


Dan sekarang setelah mencobanya, ia sudah tahu sampai di mana kah kemampuannya.


Wutt!!! Plakk!!!


Tiba-tiba Yao Shi dikejutkan oleh satu serangan yang sangat dahsyat karena mengandung tenaga sakti luar biasa. Untung pada saat itu ia tidak lengah, sehingga dirinya masih bisa memberikan tangkisan.


Kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah muntah darah.


Begitu dilihat, ternyata serangan barusan dilancarkan oleh Zhang Fei, sang Ketua Dunia Persilatan. Dewa Pedang Dari Selatan!


Pertarungan berhenti sebentar. Kedua belah pihak itu saling pandang satu sama lain.


"Mengapa kalian tidak mengeluarkan pedang?" tanya Yao Shi setelah beberapa saat.


"Tuan Shi saja tidak menggunakan senjata. Bagaiamana mungkin kami akan mengeluarkannya?" sahut Zhang Fei sambil tersenyum.


"Benar apa katanya, Ayah. Kalau seperti itu, nanti pertarungan ini tidak akan berjalan dengan adil," sambung Yao Mei membenarkan ucapan Zhang Fei.


"Hahaha ... tenang saja. Walaupun tidak menggunakan senjata, tapi aku bisa menghadapinya. Cepat, sekarang keluarkan senjata kalian!" katanya memberi perintah supaya kedua pendekar muda itu mengeluarkan pedangnya masing-masing.


Kedua muda-mudi itu tidak langsung menuruti perintahnya. Mereka seperti tidak enak kalau harus benar-benar mengeluarkan pedangnya tersebut.


"Turuti saja apa katanya. Lawan dia dengan pedang kalian masing-masing," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil berteriak.


Zhng Fei dan Yao Mei segera menoleh. Dia pun melirik kepada Datuk Dunia Persilatan yang lain.


Setelah melihat anggukan kepala dari mereka, keduanya baru mau menuruti perintah Yao Shi.


###


Selamat Hari Kemerdekaan yang ke-78 semuanya ...


Bukan hanya negara kita saja yang merdeka. Semoga kita pun bisa merdeka dari berbagai macam "aliran sesat" yang ada di sekitar ...


Merdeka!!!!