Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran Berdarah II


Jurus pedang kembar yang dimainkan oleh petinggi itu sangat hebat. Zhang Fei sendiri terus didesak sampai dirinya berada di posisi bertahan. Sepertinya petinggi itu sudah mengeluarkan seluruh kemampuan, sehingga setiap serangannya selalu bertambah ganas dan berbahaya.


Namun meskipun ia sudah mengeluarkan kemampuan dan semua jurus yang dimiliki, untuk merobohkan Zhang Fei bukanlah suatu pekerjaan mudah.


Dia baru sadar, ternyata lawannya yang masih berusia muda itu benar-benar hebat. Hal tersebut terbukti sekarang, walaupun ia telah menyerang dengan berbagai macam gaya berbeda dan tipuan yang jarang menemui kegagalan, tapi nyatanya, anak muda itu masih mampu menghindar, menangkis, atau langsung melancarkan serangan balasan yang tidak kalah bahayanya.


Pertarungan antara kedua pendekar itu sudah melewati dua puluh jurus lebih. Peluh dan keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh. Terutama sekali si petinggi Partai Tujuh Warna.


Ia adalah orang yang berpengalaman. Berbagai macam pertarungan pernah ia lewati. Sehingga dia selalu tahu bagaimana caranya menghadapi setiap musuh.


Tapi rasanya, semua hal itu tidak berguna untuk sekarang. Semua usaha yang ia lakukan, selalu berhasil diruntuhkan oleh lawan mudanya tersebut.


Mencapai tiga puluhan jurus, ketika serangan petinggi itu berkurang, tiba-tiba Zhang Fei membentak nyaring. Detik berikutnya dia langsung menggerakkan Pedang Raja Dewa secepat kilat.


Masih dengan jurus yang sama, Zhang Fei mulai mendesak lawannya. Karena kematangan ilmu pedang dan penguasaan jurus miliknya sudah hampir mencapai tahap sempurna, maka hasil yang didapat pun tidak mengecewakan.


Pedang pusaka itu terus berkelebat dengan cepat. Seolah-olah senjata tersebut adalah seorang penari yang sedang memperagakan sebuah gerakan indah namun sangat mematikan.


Tujuh jurus ia mendesak petinggi Partai Tujuh Warna, akhirnya tepat di jurus kedelapan, usaha Zhang Fei membuahkan hasil juga.


Pedang Raja Dewa berhasil menembus jantung lawannya!


Petinggi itu langsung tewas karena tidak kuasa menahan sakit yang teramat sangat.


Setelah berhasil menyelesaikan pertarungan itu, Zhang Fei segera melesat lagi. Dia ingin mencari lawan yang berikutnya.


Tidak berada jauh dari sisinya, tampak ada Orang Tua Aneh Tionggoan yang juga sedang bertarung sengit melawan delapan orang. Tidak tanggung-tanggung, tokoh tua itu langsung melawan dua orang petinggi partai sekaligus.


Kalau melawan satu petinggi saja sudah menyulitkan dan cukup memakan waktu, lalu apa jadinya apabila melawan dua orang sekaligus?


Jika yang berada di posisi itu adalah orang lain, mungkin ia akan kewalahan. Tidak mustahil pula akan tewas dalam medan pertarungan.


Namun yang sekarang berada di posisi tersebut adalah Orang Tua Aneh Tionggoan. Dia bukan orang lain!


Karenanya, dia tidak kalah, apalagi mampus. Justru malah sebaliknya, ia mulai membalikkan keadaan. Yang tadinya diserang dan terus didesak oleh delapan orang musuhnya, Sekarang malah balik menyerang.


Ujung baju longgar itu mengeluarkan deru angin kencang yang mendatangkan bunyi mendengung. Delapan musuh di depannya tercekat. Mereka merasa tubuhnya diterpa oleh satu kekuatan hebat yang sulit dihalau.


Orang Tua Aneh Tionggoan terus bergerak melancarkan serangan mautnya. Kedua tangan yang lebih berbahaya daripada senjata tajam itu, kini mulai menunjukkan taringnya.


Hantaman telapak tangan dan pukulan keras, diarahkan ke setiap titik penting yang terdapat di tubuh manusia. Begitu pertarungannya mencapai dua puluh jurus, sudah ada tiga murid senior yang menjadi korbannya.


Mereka tewas dengan kondisi dada gosong. Tidak ada darah yang keluar dari mulut ataupun lubang lainnya. Sebab darah mereka telah beku lebih dulu, sebelum mengalir keluar.


Darah itu beku akibat tekanan hawa panas yang teramat sangat!


Jurus yang dia gunakan untuk membunuh tiga orang itu diberi nama Telapak Neraka Jahanam!


Sesuai dengan namanya, jurus itu memang mengandung tenaga keras dan berhawa sangat panas sekali. Maka dari itu, tidak heran apabila kematian tiga murid senior Partai Tujuh Warna benar-benar mengenaskan.


Melihat tiga rekannya tewas dengan kondisi seperti itu, murid senior yang tersisa langsung merasa gentar. Peluh dingin sudah mengucur deras. Wajah mereka pucat pasi, persis seperti mayat.


Sebenarnya kedua petinggi yang ikut terlibat pun merasakan hal yang sama. Tetapi karena mereka merasa gengsi, mengingat kedudukannya cukup lumayan, maka kedua orang itu berusaha sekeras mungkin untuk menutupi rasa takutnya.


Orang Tua Aneh Tionggoan tahu bahwa semua musuhnya sudah terpojok. Karena itulah dia tidak pernah mengurangi serangannya.


Wutt!!! Wutt!!!


Bayangan telapak tangan memenuhi udara hampa. Hawa panas semakin merasuk ke tubuh lima orang itu.


Beberapa waktu kemudian, jerit kematian kembali terdengar. Tiga orang murid senior yang tersisa, kini telah menyusul rekannya yang pergi lebih dulu.


Kematian mereka persis seperti dua rekan sebelumnya!


"Hebat juga kemampuanmu, tua bangka," ujar salah satu petinggi sambil terus melancarkan serangan dengan goloknya.


"Jangan banyak bicara. Bersikaplah lebih serius lagi. Aku takut, tidak lama lagi kalian akan menyusul mereka," sahutnya sambil tersenyum dingin.


"Omong kosong! Kau bisa membunuh mereka, karena mereka adalah orang-orang bodoh. Tapi jangan harap kau bisa membunuh kami berdua,"


Petinggi yang berada di sisinya merasa tidak terima dengan ejekan itu. Dia berkata dengan nada tinggi sambil meningkatkan kemampuannya.


Golok yang berbentuk seperti bulan sabit itu langsung berputar-putar menciptakan cahaya tajam. Bayangan golok segera menyelimuti tubuh Orang Tua Aneh Tionggoan.


Meskipun dia bertarung melawan dua musuh yang menggunakan senjata, tapi sedikitpun tidak tersisa rasa takut di benaknya. Walaupun kedua senjata itu sangat tahan dan bisa membunuh tanpa berkedip, tapi Orang Tua Aneh Tionggoan tidak pernah gentar.


Sebab dia tahu betul bahwa kedua senjata itu belum ada apa-apa jika dibandingkan dengan sepasang tangannya!


Sepasang tangan itu terlampau mengerikan! Lebih mengerikan daripada apapun juga!


Plakk!!!


Satu orang dari dua petinggi terdorong mundur empat langkah ke belakang. Dada sebelah kanannya terkena hantaman telapak tangan dengan telak.


Darah segar langsung menyembur keluar dari mulutnya.


Tidak mau memberikan kesempatan bagi lawan, Orang Tua Aneh Tionggoan segera memburu ke depan. Serangan terakhir langsung dia lancarkan!


Bukk!!!


Petinggi itu memelototkan kedua matanya. Dua helaan nafas kemudian, tubuhnya langsung ambruk ke atas tanah.


Ia telah tewas! Tewas dengan membawa perasaan takut!


"Sekarang kau percaya akan ucapanku, bukan?" Orang Tua Aneh Tionggoan kembali memberikan ejekan setelah dia berhasil membunuh salah satu petinggi.


"Bedebah! Aku akan membunuhmu!"


Wutt!!!


Golok melengkung itu kembali berkelebat dengan cepat. Tapi sebelum serangan dan jurusnya benar-benar keluar, tangan kanan Orang Tua Aneh Tionggoan telah menangkpnya lebih dulu.


Sekali dia menggetarkan lengan lawan, senjata itu langsung jatuh ke atas tanah.


Wushh!!! Bukk!!!


Telapak tangan kanannya kembali menerjang. Petinggi itu hanya mengeluh tertahan. Dia tidak terlempar, sebab pergelangan tangannya masih digenggam oleh Kai Luo.


"Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan menghancurkan ilmu silatmu," katanya lagi-lagi sambil mengejek.