Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kunjungan Pengemis Tongkat Sakti II


"Aku mengerti jalan pemikiranmu, Ketua Lun. Jangan khawatir, aku tidak akan mengalahkanmu," ujarnya sambil melirik sekilas.


Mereka kemudian membicarakan lebih jauh terkait berita tersebut. Ketua Lin banyak memberikan laporan tentang hal-hal yang sering dilakukan oleh markas cabang Partai Iblis Sesat.


Tidak hanya itu saja, bahkan dia juga memberitahu di mana kau letak markas cabang partai sesat tersebut.


Pada dasarnya, setiap partai yang sudah mempunyai banyak anggota dan nama besar, sudah tentu akan membuka markas cabang di beberapa kota. Partai apapun itu, pasti akan melakukan hal yang sama.


Tujuannya bukan lain adalah untuk membuka lebar-lebar sayapnya dan menjadi penguasa di tempat-tempat tersebut.


Karena alasan itulah, tidak heran apabila di setiap pelosok selalu terjadi perselisihan yang tidak pernah usai antar kelompok tertentu. Kejadian seperti ini terus berulang, mulai dari pertama kali terciptanya dunia persilatan, bahkan sampai sekarang.


"Ketua Lun," Pengemis Tongkat Sakti kembali bicara setelah dia mendengarkan cukup banyak informasi darinya. "Terkait masalah ini, biarkan aku dan setan arak saja yang mengurusnya. Tujuannya supaya kita bisa meminimalisir jumlah korban dan juga agar markas cabang kita terselamatkan dari malapetaka. Kau hanya perlu duduk dan jaga baik-baik nama Partai Pengemis di Kota Gi Nian Jing saja,"


"Tapi, Ketua ..."


"Sudah, sekarang kau boleh pergi. Kami akan membicarakan langkah selanjutnya," ucap Pengemis Tongkat Sakti memotong perkataan Ketua Lun.


"Ah, baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu,"


Ketua Lun bangkit berdiri. Sebelum keluar, dia juga sempat memberikan hormat kepada dua orang tokoh rimba hijau itu.


"Pengemis tua, mengapa kau membawa-bawa namaku dalam masalah ini? Bukankah ini adalah urusan partai kalian?" Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara dengan nada sengit sambil menatap wajah sahabatnya.


"Setan arak, jadi kau tidak mau membantuku? Baiklah. Aku sendiri merasa sangat sanggup kalau hanya mengurus kawanan tikus itu. Alasanku membawa namamu adalah supaya kita bisa menghemat waktu. Sebab masih banyak hal yang perlu dilakukan saat ini,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan tampak kesal kepadanya. Tapi beberapa saat berikutnya terdengar ia menghela nafas panjang.


"Baiklah. Sejak dulu sampai sekarang, kau memang selalu kurang ajar terhadap sahabatmu sendiri,"


"Hahaha ... itu baru setan arak yang aku kenal," kata Pengemis Tongkat Sakti seraya tertawa lantang.


Datuk Dunia Persilatan itu tidak dapat bicara apa-apa lagi. Dia hanya bisa membalas suara tawa sahabatnya.


Memang, hubungan persahabatan di antara mereka berdua sudah sangat dalam. Mungkin lebih dalam dari lautan. Seperti halnya persahabatan antara Orang Tua Aneh Tionggoan.


Dua orang tokoh dunia persilatan itu diam untuk beberapa waktu. Lewat sesaat kemudian, wajah mereka tiba-tiba berubah menjadi lebih serius.


"Setan arak, apa yang kau lakukan selama pengembaraan kemarin?"


meskipun Pengemis Tongkat Sakti tidak ikut terlibat dalam rencana para Datuk Dunia Persilatan, tapi sedikit banyaknya informasi tentang apa yang mereka lakukan sudah sampai ke telinganya. Maka dari itulah dia mulai bertanya mengenai hal tersebut.


Ditanya demikian, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung menjawab dengan serius pula. Ia menceritakan kalau dalam pengembaraannya kemarin, dirinya sering terlibat dalam sebuah pertempuran. Baik itu pertempuran besar maupun pertempuran kecil.


Orang-orang yang terlibat pun mulai beragam, mulai dari anggota partai perorangan, bahkan sampai pasukan Kekaisaran.


"Selama itu, aku juga sering menghabisi orang-orang asing yang memang ditugaskan untuk mengacau di negeri kita ini," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan menyelesaikan bicaranya.


"Lalu, bagaiamana dengan yang lainnya?"


Yang dimaksud oleh Pengemis Tongkat Sakti, tentu saja adalah mereka yang terlibat dalam perencanaan tersebut.


"Aku rasa mereka pun sama. Malah anak Fei juga tidak jauh berbeda dengan kami,"


Teringat akan pendekar muda itu, tiba-tiba saja Pengemis Tongkat Sakti juga ingat kepada cucunya sendiri, Chen Liu Yin.


"Aih ... Yin Yin juga sudah lama pergi. Sejak kepergiannya ke Gunung Lima Jari, sampai sekarang dia masih belum pulang ke rumah," ucapnya seraya menghela nafas.


"Benar. Dia sangat ingin pergi ke sana, aku tidak tega kalau harus menahannya terus. Karena itulah aku izinkan dia pergi seorang diri,"


Dalam nada bicaranya, seolah-olah Pengemis Tongkat Sakti sedikit menyesali keputusannya tersebut. Apalagi dia tahu betul bahwa Yin Yin belum pernah mengembara dalam dunia persilatan sebelumnya.


"Jangan terlalu khawatir. Dia pasti masih baik-baik saja,"


"Tapi ... aku takut dia ikut menjadi korban dalam pembantaian para pendekar di Gunung Lima Jari," katanya dengan nada sedih.


"Percayalah, pengemis tua. Cucumu masih hidup. Jangan khawatir. Sekarang lebih baik kita urus saja masalah di kota ini," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mengalihkan pembicaraan.


"Hemm ... baiklah. Aku setuju," katanya mengangguk.


Dua tokoh rimba hijau itu kemudian membicarakan rencananya untuk membuat perhitungan kepada markas cabang Partai Iblis Sesat.


"Tapi aku rasa, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita menyamar saja. Tujuannya supaya mereka tidak mengenal siapa kita sebenarnya," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan usul.


Dengan penyamaran, rasanya pihak musuh tidak mungkin bisa mengenali identitasnya.


Alasan Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan usul tersebut bukan karena dia merasa takut. Tidak, dia sama sekali tidak takut.


Dengan kemampuan yang dia miliki sekarang, memangnya apa pula yang harus dia takutkan?


Tapi di satu sisi, dia tidak mau masalah ini akan berbuntut panjang. Apalagi kondisi sekarang sangat tidak mendukung.


Jadi rasanya, untuk saat ini lebih baik mencari aman daripada mencari mati!


"Baiklah, aku setuju dengan usulku. Tapi, kapan kita akan pergi ke sana?" tanya Pengemis Tongkat Sakti setelah berpikir beberapa saat.


"Kalau kau sudah mengetahui informasi keberadaan mereka, untuk apa ditunda-tunda lagi? Lebih cepat malah lebih baik. Setelah urusan ini selesai, kita kan bisa melakukan hal lainnya lagi,"


"Benar juga," katanya merasa setuju. "Baiklah, malam nanti kita akan langsung menuju ke sana,"


Dua orang tokoh tersebut sudah menemukan jalan keluar dari masalah yang akan dihadapi. Tapi belum lagi mereka berbicara lebih jauh, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk orang dari luar.


"Siapa?" tanya Pengemis Tongkat Sakti.


"Ini aku, Ketua," suara yang terdengar diluar itu milik Ketua Lun. Yakin akan hal tersebut, ia langsung menyuruhnya masuk.


Pintu ruangan terbuka. Seseorang kemudian berjalan dan segera memberikan hormat.


"Ketua, aku membawa sepucuk surat yang ditujukan langsung untuk Ketua," katanya sambil memberikan surat yang dimaksud.


"Siapa pengirim surat ini?" tanya orang tua itu sambil menerimanya.


"Ketua Bu. Dia adalah Ketua Cabang dari kota yang berdekatan dengan Rawa Iblis,"


"Oh, baiklah. Terimakasih, Ketua Lun,"


Ketua cabang itu mengangguk. Setelah selesai memberikan surat, dia pun kembali keluar dari dalam ruangan.


Sementara itu, Pengemis Tongkat Sakti segera membuka dan membaca isi surat tersebut.


Begitu mulai membaca, ia langsung terkejut setengah mati.


"Ada apa, Pengemis tua?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.