Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran Terakhir di Kuil Seribu Dewa I


Setelah peristiwa barusan, para biksu yang lain langsung segera bersiap-siap. Mereka juga lebih waspada dari sebelumnya.


"Kalian harus lebih hati-hati lagi. Musuh kita sekarang adalah tokoh sesat kelas atas. Menurut dugaanku, minimal kemampuan mereka itu hampir setara dengan pendekar pilih tanding. Terutama sekali adalah mereka," kata Biksu Hung sambil menunjuk ke depan. "Tujuh orang di itu adalah anggota Partai Panji Hitam. Pengalamannya sudah sangat luas. Kalian harus ingat ini,"


Ia membeberkan pendapatnya kepada para biksu yang lain. Dari lima belas tokoh sesat yang ada, tujuh orang di antaranya adalah yang utama. Mereka merupakan anggota senior dari partai sesat nomor dua di Kekaisaran Song.


Itu artinya, kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang tersebut tidak perlu diragukan lagi.


"Baik, Ketua. Kami mengerti," jawab Biksu Lo Jit mewakili yang lainnya.


Kedua belah pihak yang sudah berhadapan itu, saat ini sudah selesai melakukan persiapan.


"Maju!" Raja Telapak Hitam memberikan komando. Empat belas tokoh yang lain segera melesat ke arah para biksu.


Sebelum tiba di hadapan calon lawan, tiba-tiba dari arah lain terlihat ada dua bayangan manusia yang melesat lebih cepat daripada mereka.


Kedua bayangan manusia itu kemudian mengirimkan serangan jarak jauh yang menyebabkan gagalnya usaha lawan.


Blarr!!!


Ledakan besar terdengar. Tanah di sekitar sana sedikit cekung setelah dihantam oleh jurus jarak jauh barusan


Setelah keadaan kembali normal, di sana sudah bertambah dua orang lagi. Mereka bukan lain adalah Zhang Fei dan juga Pendekar Pedang Perpisahan.


"Jangan lupakan kami. Kami juga ingin ikut andil dalam peristiwa ini," kata Zhang Fei kepada pihak lawan.


"Hemm ... sebenarnya kau ini siapa? Mengapa kau datang bersama Pendekar Pedang Perpisahan?" tanya Raja Telapak Hitam.


Walaupun dia sudah mempunyai kemampuan hebat, namun dirinya tidak pernah memandang rendah setiap lawannya. Apalagi setelah dia menyaksikan sendiri bagaimana kehebatan lawan.


Terkait apa yah dikatakan sebelumnya kepada Biksu Hung, hal itu hanya usahanya dalam memancing emosi.


Sayang sekali, usaha itu gagal. Sebab seorang biksu, sudah pasti mempunyai ketenangan batin yang sangat luar biasa.


Apalagi orang yang dia pancing itu merupakan ketua dari sebuah kuil terbesar di Kekaisaran Song.


"Mengapa kau cerewet sekali? Siapa pun aku tidaklah penting. Lagi pula, mau datang dengan siapa pun, itu bukan urusanmu," Zhang Fei berkata sambil mengejek. Dia juga sedang berusaha memancing emosi lawna.


"Bagus. Benar-benar manusia yang sombong. Aku jadi ingin tahu sampai di mana kemampuanmu sebenarnya,"


Wutt!!!


Raja Telapak Hitam langsung menyerang dari jarak jauh. Sayangnya sebelum serangan itu mengenai tubuh Zhang Fei, Biksu Hung sudah turun tangan lebih dulu.


"Kemarilah, lawanmu adalah aku," katanya setelah berhasil menahan jurus tersebut.


Wushh!!!


Biksu Bian Ji Hung bergerak lebih dulu. Dia langsung menyerang Raja Telapak Hitam dari jarak dekat. Karena tidak mau menganggu yang lain, kedua tokoh kelas atas itu akhirnya mencari tempat untuk melangsungkan pertarungan terakhirnya.


Sedangkan yang lain, mereka juga ikut bergerak dan menentukan lawannya masing-masing.


Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han masing-masing sudah mendapat dua orang lawan yang sepadan. Sedangkan Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan, mereka juga mendapat lawan dengan jumlah yang sama.


Pertempuran puncak di Kuil Seribu Dewa telah dilangsungkan kembali. Karena ini adalah pertarungan terakhir, maka mereka yang terlibat tidak berani membuang waktu dengan percuma.


Begitu turun tangan, masing-masing langsung mengeluarkan jurus dan kekuatannya tersendiri.


Di mana ada Biksu Lo Jit, maka di situ pasti ada Biksu Lo Han. Begitu juga sebaliknya.


Saat ini, mereka berdua sedang dicecar habis-habisan oleh dua orang tokoh sesat yang menjadi lawannya. Golok dan pedang terbang dengan bebas.


Hawa senjata dari masing-masing musuhnya terasa menekan dan menciptakan keseraman tersendiri.


Untunglah kedua orang biksu tua itu sudah mempunyai pengalaman bertarung yang sudah sangat banyak, sehingga mereka telah terbiasa menghadapi situasi semacam ini.


Wushh!!


Biksu Lo Jit melompat. Golok dan pedang yang memburu ke arahnya bisa dihindarkan dengan mudah. Dia kemudian memberikan serangan menggunakan kedua telapak tangan.


Usaha itu membuahkan hasil, dua orang tokoh sesat berhasil dibuat mundur ke belakang. Dirinya tidak membuang-buang kesempatan, secepat kilat Biksu Lo Jit memburu dan memberikan tendangan susulan secara beruntun.


Di sisinya, yang dilakukan oleh Biksu Lo Han juga tidak berbeda jauh. Jurus-jurus simpanan yang selama ini dia pelajari, kini mulai dikeluarkan secara berurutan.


Walaupun lawannya menggunakan senjata dan mereka hanya mengandalkan tangan, tapi sedikit pun tidak ada keraguan di benaknya masing-masing. Para biksu tidak pernah takut dengan hal-hal semacam itu.


Wutt!!! Wushh!!! Wushh!!!


Halaman luas di dekat hutan itu menjadi ajang pertempuran. Di tempat lain, semua pasukan dari kedua belah pihak sudah berhenti bertempur.


Mereka yang selamat saat ini sedang berdiri di pinggir sambil melihat pertempuran puncak. Sebagian lagi ada yang duduk bersila sambil bermeditasi.


Darah yang keluar dari tubuh manusia tersebar di mana-mana. Bau amisnya terus tercium sampai jarak yang cukup jauh.


Waktu terus berjalan tanpa disadari. Dari beberapa pertempuran yang tadi berlangsung, sekarang hanya tersisa lima pertempuran saja.


Yaitu pertempuran Biksu Lo Jit, Biksu Lo Han, Zhang Fei, Pendekar Pedang Perpisahan dan juga Biksu Bian Ji Hung.


Pertempuran yang lain sudah selesai lebih dulu. Beruntung sekali, pihak Kuil Seribu Dewa keluar sebagai pemenangnya.


Namun walaupun begitu, masing-masing biksu itu juga mendapat luka yang cukup serius.


Di sebelah sana, terlibat kedua biksu tua sedang berusaha mengakhiri pertarungan. Mereka sedang mencecar lawan dengan jurus pamungkasnya masing-masing.


Setelah belasan jurus berusaha, pada akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia. Dua orang lawannya berhasil tewas setelah terkena jurus terakhir dari rangkaian Ilmu khas Kuil Seribu Dewa.


Tidak jauh dari sana, Zhang Fei juga sedang melakukan hal yang sama. Selama ini, dia banyak mengalah kepada lawannya. Tetapi, sekarang adalah saat yang telah untuk membalikkan keadaan.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wutt!!!


Zhang Fei mengeluarkan lagi jurus keenam dari Kitab Pedang Dewa. Dua batang golok yang digenggam di tangan lawan, seketika patah ketika berbenturan dengan Pedang Raja Dewa.


Srett!!!


Dua orang tokoh sesat itu melotot besar. Darah segar langsung menyembur deras setelah dadanya ditebas oleh Pedang Raja Dewa.


Tidak lama setelah itu, mereka langsung ambruk ke atas tanah.


Pendekar Pedang Perpisahan tidak mau ketinggalan, setelah pertempuran yang lain selesai, dia pun mulai memperlihatkan jurusnya yang keji.


Pedang di tangan datuk sesat itu bergetar hebat. Ia kemudian melakukan gerakan berputar yang sangat cepat. Beberapa tarikan nafas kemudian, tahu-tahu dua kepala manusia sudah menggelinding di atas tanah.