Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Restoran Kayu Hitam


"Tidak, Tuan Kiang. Aku takut yang mengundang kita itu adalah lawan. Kalau sampai hal buruk terjadi, maka tidak ada harapan lagi jika kita berdua mendapat celaka. Tetapi malau hal buruk itu menimpa salah satu di antara kita, kan masih mending," jawab Zhang Fei sambil tertawa ringan.


Dewa Arak Tanpa Bayangan juga ikut tertawa. Namun sebentar kemudian, tawanya itu langsung berhenti. Ia segera berkata, "Aku akan tetap ikut ke sana," orang tua itu berkata dengan tegas.


"Hemm ... baiklah, Tuan Kiang. Tapi, kau jangan ikut sampai ke Restoran Kayu Hitam. Kau cukup mengawasiku dari jarak tertentu," ucap Zhang Fei tidak bisa melarangnya lagi.


"Baik, setuju,"


Kedua tokoh dunia persilatan itu kemudian segera kembali ke dalam gedung. Mereka lalu membersihkan diri masing-masing dan melakukan istirahat barang beberapa waktu.


Setelah malam menyapa bumi dan rembulan menampakkan diri, Zhang Fei bersama Dewa Arak Tanpa Bayangan segera pergi dari Gedung Ketua Dunia Persilatan untuk menuju ke Restoran Kayu Hitam.


Kepergian keduanya untuk menemui seseorang tak dikenal itu tidak diketahui oleh yang lain. Ketika ditanya, mereka hanya mengatakan akan bertemu dengan sahabat lama.


Zhang Fei menganggap bahwa ini adalah urusan pribadinya. Sehingga dia berpikir orang terdekatnya tidak ada yang perlu tahu.


Beberapa saat kemudian, dua ekor kuda tampak berlari dengan kencang di bawah pancaran bulan purnama.


Karena jaraknya tidak begitu jauh, maka dalam waktu sepeminum teh saja, Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan telah berhasil tiba di dekat Restoran Kayu Hitam.


"Tuan Kiang, kau tunggu di sini saja. Kalau dalam waktu tiga jam kedepan aku belum muncul juga, itu artinya sesuatu telah terjadi padaku," ujar Zhang Fei setelah berhasil menghentikan kudanya.


"Baik, anak Fei. Aku mengerti," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan seraya mengangguk.


Ia lalu turun dari punggung kuda dan mengikatkan tali kekang binatang itu di bawah pohon besar. Sedangkan dia sendiri kemudian masuk ke dalam warung arak yang kebetulan terdapat di sana.


Sementara itu, Zhang Fei juga telah kembali menjalankan kudanya ke Restoran Kayu Hitam. Setelah tiba di depan restoran, ia segera turun.


Dua orang pelayan menyambut kedatangannya. Mereka memberikan hormat yang begitu mendalam.


"Silahkan masuk, Ketua Fei. Biarkan kuda ini kami yang simpan," kata salah satu pelayan.


"Baiklah, maaf telah merepotkan kalian," ucap Zhang Fei sambil tersenyum hangat.


"Ah, Ketua Fei tidak perlu sungkan,"


Si pelayan segera menuntun kuda. Ia akan menyimpang hewan itu di tempat yang telah disediakan.


Suasana di restoran pada saat itu terhitung ramai. Di lantai bawah, hampir semua meja telah terisi oleh para pelanggan setia.


Kedatangan Zhang Fei kembali disambut oleh seorang pelayan. Pelayan itu adalah gadis cantik yang usianya paling-paling baru berumur dua puluh tahunan.


"Selamat datang, Ketua Fei. Semoga Ketua panjang umur," ucap si gadis sambil membungkukkan badan.


"Terimakasih, Nona manis," Zhang Fei menjawabnya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, apakah di lantai dua masih ada meja kosong?"


"Aku rasa masih, Ketua Fei. Bahkan saat ini, di lantai dua tidak ada pengunjung lain, kecuali hanya sekelompok orang,"


"Sekelompok orang?" Zhang Fei mengerutkan keningnya. Ia penasaran setelah mendengar perkataan si pelayan. "Siapa mereka? Berapa jumlahnya?"


"Aku tidak tahu siapa mereka, Ketua Fei. Tapi, semuanya ada enam orang,"


"Enam orang?" Zhang Fei bertanya kepada dirinya sendiri. Rasa penasaran dalam benaknya semakin menjadi.


Dalam pada itu, dia yakin bahwa sekelompok orang yang dimaksud oleh si pelayan, adalah orang yang telah mengundangnya.


"Benar," pelayan tersebut mengangguk. "Dari mana Ketua Fei bisa tahu?" ia bertanya sambil memasang ekspresi bingung.


"Ah, tidak. Ini hanya kebetulan saja," ucap Zhang Fei dengan celah. "Aku masuk dulu, selamat bekerja kembali, Nona manis,"


Tanpa banyak basa-basi lagi, Zhang Fei segera melangkahkan kakinya ke dalam. Dia segera menuju ke lantai dua di Restoran Kayu Hitam.


Begitu tiba di sana, ternyata bener apa kata pelayan gadis tadi. Di lantai dua hanya ada satu meja yang terisi. Tepatnya di meja nomor enam. Orang yang ada di sana pun berjumlah enam.


Semuanya mengenakan topeng yang terbuat dari kayu.


Zhang Fei memperhatikan mereka dari ambang pintu masuk. Tiga orang di antaranya berjubah merah terang. Sedangkan tiga orang sisanya berjubah putih bersih.


Rambut keenam orang itu rata-rata panjang sepundak dan diikat oleh kain sutera.


"Ehemm ..." Zhang Fei mendehem perlahan.


Keenam orang itu seperti terkejut. Buru-buru mereka menoleh ke asal suara. Ketika menyadari bahwa di sana ada seseorang, salah satu dari keenam orang tersebut langsung bangkit berdiri.


"Aih, rupanya Ketua Fei sudah datang. Mohon maaf kami tidak menyambut Ketua Fei karena keasyikan bicara," ucap orang tersebut sambil berjalan menghampirinya.


"Ah, Tuan terlalu sungkan. Tidak papa, aku tidak mempermasalahkannya," jawab Zhang Fei bersikap seolah-olah dia sudah kenal akrab.


"Baiklah, Ketua Fei. Mari kita ke sana,"


Orang itu kemudian membawa Zhang Fei berjalan ke mejanya. Tidak lupa, dia memberikan satu buah meja untuk diduduki oleh Zhang Fei.


Salah seorang yang lain segera menuangkan arak dan menyuguhkannya kepada Zhang Fei. Tidak lupa, dia pun memenuhi cawan yang lainnya.


"Ketua Fei, untuk menghormati kedatanganmu, mari kita bersulang," kata pria bertopeng berjubah putih.


"Baik, Tuan," Zhang Fei segera mengangkat cawannya.


Ketujuh orang tersebut lalu bersulang arak sebanyak beberapa kali.


Arak sudah masuk ke dalam perut. Zhang Fei mulai merasakan tubuhnya hangat.


"Ketua Fei, mari kita santap makanan ini sebelum benar-benar dingin," kata pria itu berkata lagi.


Zhang Fei mengangguk canggung. Dari wajahnya, siapa pun bisa melihat bahwa ia masih belum percaya seratus persen.


Pria itu paham dengan ekspresi tersebut, maka dari itu dia berkata lebih lanjut. "Jangan khawatir Ketua Fei, makanan ini semuanya aman. Sekarang, kita makan saja dulu. Bicaranya nanti setelah makan,"


Dia kemudian menuangkan berbagai macam lauk yang ada di sana. Hal itu dilakukan supaya kecurigaan Zhang Fei berkurang.


Dan ternyata memang benar, setelah melihat itu, Ketua Dunia Persilatan pun akhirnya percaya. Mereka segera melakukan malam bersama.


Lewat beberapa waktu kemudian, setelah semuanya selesai, salah satu dari mereka kembali bertanya kepadanya.


"Ketua Fei, ngomong-ngomong, mengapa kau datang sendiri? Di mana Tuan Kiang?"


"Dia masih mempunyai urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi terpaksa aku datang sendiri," jawabnya setelah minum arak.


"Aih, sayang sekali," pria bertopeng itu mengeluh perlahan. "Padahal, kami sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi, baiklah. Walaupun tidak ada Tuan Kiang, di sini tetap ada Ketua Fei. Maka dari itu, aku mewakili yang lain ingin mengucapkan rasa terimakasih," orang tersebut segera bangkit. Dia membungkukkan badan sebagai tanda hormat.