
Dalam hatinya, Kaisar Song Kwi Bun sedikit kaget setelah mendengar jawaban Zhang Fei. Tetapi di satu sisi lain, dia juga merasa sangat setuju.
Sekarang ini negerinya sedang kacau balau. Keamanan bahkan keberadaan Kekaisaran Song benar-benar terancam.
Kalau para pendekar aliran putih yang menjadi salah satu pilar utama negara tidak mau memberikan bantuan, lalu apa gunanya keberadaan mereka semua? Kalau tidak mau mengulurkan tangan demi kepentingan tanah air, bukankah keberadaan mereka akan percuma?
Rasanya tidak salah ucapan Zhang Fei yang mengatakan bahwa orang-orang seperti itu lebih baik mati daripada menjadi penghalang.
"Bagus. Aku pribadi merasa puas dengan setiap jawaban yang kau ucapkan," kata Kaisar sambil tersenyum hangat kepada Zhang Fei.
"Terimakasih, Kaisar. Mohon maaf kalau aku masih mempunyai banyak kekurangan,"
Zhang Fei kemudian bangkit berdiri. Dia membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya kepada Sang Kaisar.
Kaisar Song Kwi Bun sendiri hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Setelah itu dia melirik ke arah Empat Datuk Dunia Persilatan yang sejak tadi menjadi pendengar.
"Kalian benar-benar hebat. Sekarang aku mulai mengerti, mengapa Empat Datuk Dunia Persilatan memilih Zhang Fei sebagai Ketua berikutnya,"
Keempat orang tua itu semakin tersenyum lebar. Mereka juga merasa bahagia karena sekarang Kaisar sudah setuju dengan keputusannya.
"Jadi, kapan Kaisar akan menguji anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Barusan. Secara tidak langsung, aku sedang menguji kecerdasan dan jiwa kepemimpinan Zhang Fei dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan hasilnya sangat memuaskan diriku,"
Kaisar tidak sedang memuji Zhang Fei. Dia mengatakan hal yang sebenarnya.
"Dan salah satu modal utama untuk menjadi Ketua Dunia Persilatan memang sudah ada di dalam diri anak ini," ucapnya sambil melirik sekilas ke arah Zhang Fei.
Empat Datuk Dunia Persilatan saling pandang. Mereka tidak menyadari bahwa tadi, ternyata Kaisar sedang menguji Zhang Fei.
"Jadi, sekarang hanya tinggal menguji soal kemampuannya saja?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Benar. Dan ujian tersebut akan diadakan tujuh hari mendatang. Tempatnya adalah di halaman utama Istana Kekaisaran,"
"Apakah tidak boleh diadakan di tempat yang sepi, Kaisar?" tanya Dewi Rambut Putih.
"Tidak boleh," tegas Kaisar.
"Kenapa?"
"Karena hal ini akan sangat mempengaruhi saudara Fei untuk ke depannya nanti. Semua orang harus melihat bagaimana kemampuan Ketua Dunia Persilatan yang baru. Jadi jika ada seseorang yang tidak puas, dia bisa turun tangan secara langsung,"
Tujuan Kaisar sangat baik. Dia melakukan hal tersebut supaya ke depannya tidak ada lagi orang yang menolak Zhang Fei sebagai Ketua Dunia Persilatan selanjutnya.
Dengan demikian, anak mudq itu hanya perlu menjalankan tugas-tugasnya saja, tanpa memikirkan persoalan kecil lainnya.
"Bagaimana anak Fei, apakah kau setuju?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada Zhang Fei.
"Setuju, Tuan Kiang," jawabnya dengan cepat dan penuh keyakinan.
"Baiklah. Semuanya sudah diputuskan. Tinggal satu langkah lagi, maka kau akan resmi dilantik menjadi Ketua Dunia Persilatan. Aku harap selama menunggu waktu yang ditentukan, kau bisa melatih dan mempersiapkan diri sebaik mungkin," ucap Kaisar mengingatkan.
"Baik, Kaisar. Aku pasti akan memanfaatkan semuanya debauk mungkin,"
Pertemuan di antara mereka pun akhirnya selesai ketika hari sudah masuk siang. Sebelum berpisah, mereka sempat mengadakan makan siang bersama lebih dulu.
Setelah itu, mereka segera kembali ke tempat masing-masing.
Sore harinya, ketika Zhang Fei berada di dalam kamar, tiba-tiba pintu kamar diketuk orang.
"Siapa diluar?" tanyanya.
"Oh, Tuan Kai? Ada apa?"
Zhang Fei berjalan sambil membuka pintu kamar. Ia segera melihat diluar ada Orang Tua Aneh Tionggoan yang sedang tersenyum hangat kepadanya.
"Ikut aku sekarang, yang lainnya sudah menunggu di hutan belakang Istana Kekaisaran,"
"Sekarang?"
"Tidak. Minggu depan," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan dengan nada dingin. "Tentu saja selayang!" ia menegaskan nada bicaranya.
"Hehehe ... baik, Tuan Kiang. Mari," Zhang Fei menjawab tanpa merasa bersalah seidkit pun.
Keduanya kemudian berjalan keluar dan segera menuju ke tempat yang dimaksud.
Sekitar sepuluh menit berikutnya, Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan sudah tiba di hutan yang terdapat di belakang Istana Kekaisaran.
Hutan itu ukurannya tidak terlalu besar. Hanya saja, semua yang ada di sana sudah diatur sedemikian rupa sehingga membuat siapa pun akan merasa betah.
Di kanan kiri ada banyak deretan pohon dengan tinggi hampir sejajar. Ada pula tiga taman bunga dengan berbagai jenis tanaman di dalamnya. Selain itu, ada lagi dua kolam lengkap dengan air mancur dan ikan-ikan hias yang sedap dipandang.
Di sebelah depan sana halaman cukup luas yang biasa digunakan untuk berlatih ilmu silat. Keadaan halaman tersebut sangat asri. Terlebih karena setiap hari, ada tukang kebun yang selalu merawatnya.
Tiga Datuk Dunia Persilatan sudah duduk di atas batu hitam yang tersedia. Mereka sedang menantikan kedatangan Zhang Fei. Ketika melihat kedatangan anak muda itu, ketiganya secara bersamaan langsung bangkit berdiri.
"Apakah kalian memanggilku?" tanya Zhang Fei dengan sopan.
"Benar, anak Fei," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ada apa, Tuan Kiang?"
"Ada beberapa hal lagi yang perlu kami sampaikan. Duduklah,"
Zhang Fei kemudian duduk di batu hitam yang masih tersedia.
"Anak Fei, perlu kau tahu, ujian kemampuan nanti bukan hal sepele. Aku yakin Kaisar akan menghadirkan pendekar Istana Kekaisaran yang kemampuannya sangat tinggi sekali. Maka dari itu, kau harus banyak berlatih sebelum bertarung dengannya,"
Ujian kemampuan nanti adalah ujian terkahir yang harus bisa dilewati oleh Zhang Fei jika ingin menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan.
Empat Datuk Dunia Persilatan sangat yakin bahwa Kaisar Song Kwi Bun pasti akan menghadirkan tokoh kelas atas. Minimal, kemampuan tokoh tersebut pasti tidak jauh dari kemampuan mereka sendiri.
Maka dari itu, supaya bisa melewatinya, mereka harus benar-benar melatih Zhang Fei agar bekal yang dia miliki bisa lebih mumpuni lagi.
Meskipun waktu yang disediakan tidak terlalu banyak, tapi keempatnya sangat yakin bahwa Zhang Fei akan sanggup melakukannya.
Apalagi mereka tahu bagaimana kecerdasan dan bakat dalam diri Zhang Fei.
"Kami berencana untuk membantumu mempersiapkan diri. Baik itu dari segi latih tanding, maupun hal-hal lainnya. Apakah kau bersedia?"
"Ya, aku bersedia, Tuan Kiang,"
"Bagus. Kita mulai sekarang juga,"
Bertepatan dengan ucapan tersebut, Tiga Datuk Dunia Persilatan segera mundur tiga langkah. Sedangkan satu orang masih tetap di posisi semula.
Yang akan menjadi lawan Zhang Fei pertama kali adalah Dewi Rambut Putih. Dewa Arak Tanpa Bayangan sengaja menyuruhnya menjadi lawan pertama Zhang Fei dengan tujuan supaya anak muda itu bisa belajar sedikit-sedikit tentang ilmu pedang.
"Cabut pedangmu, anak Fei," kata Dewi Rambut Putih. "Aku ingin melihat, sampai di manakah kemampuan ilmu pedangmu sekarang,"
"Baik, Nyonya Ling," Zhang Fei mengangguk. Dia segera mencabut Pedang Raja Dewa miliknya.