
Datuk sesat itu tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Seluruh tenaga yang ada di dalam tubuh, sekarang semuanya sudah disalurkan ke telapak tangan.
Tanpa diduga oleh orang-orang yang ada di sana, tiba-tiba si Cakar Maut langsung melancarkan pukulan keras yang berbahaya ke arah Zhang Fei.
Dengan jarak sedekat itu, rasanya siapa pun tidak akan ada yang bisa menghindarinya.
Wutt!!! Plakk!!!
Benturan kembali terdengar. Tepat sebelum pukulan itu mengenai Zhang Fei, ada satu tangan yang telah menahannya!
Tangan itu milik Dewa Arak Tanpa Bayangan!
Ya, rasanya yang mampu menahan serangan barusan hanya dia seorang. Dan orang tua itu telah membuktikannya!
"Setan tua, jangan sekali-sekali kau berbuat bodoh. Satu kali lagi kau menyentuh tubuh Ketua Fei, maka aku sendiri yang akan mematahkan kedua tanganmu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan nada sedingin es.
Si Cakar Maut Yao Shi memandang ke arahnya. Dua pasang mata bertemu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera menarik kembali tangannya.
"Setan arak, kalau kau berada di posisiku, aku rasa kau pun akan memahami perasaanku saat ini," si Cakar Maut berkata dengan nada hambar.
Seluruh tubuhnya terlihat sedikit bergetar. Agaknya dia sedang berusaha menahan nafsunya.
Bagaimanapun juga, dia bukanlah orang bodoh. Walaupun dirinya seorang Datuk Dunia Persilatan aliran sesat yang menduduki urutan pertama, tapi bukan berarti dia tidak bisa dikalahkan.
Dengan adanya Empat Datuk Dunia Persilatan aliran putih, ditambah lagi dengan Zhang Fei sendiri, rasanya kalau harus bertarung, dalam waktu tiga puluh jurus saja dia sudah bisa dikalahkan.
"Aku tahu, aku juga memahami perasaanmu. Tapi sebagai orang yang sudah tua dan banyak pengalaman, setidaknya kau harus bisa bersikap bijaksana,"
"Tapi bagaimana dengan nasib anakku? Kau tahu, bahwa dia adalah permataku satu-satunya? Kau tahu alasanku hidup sampai detik ini, salah satunya adalah karena dia? Sekarang ... dia sudah tidak ada, bagaimana mungkin aku akan terus hidup dan berdiam diri saja?"
Ucapan si Cakar Maut semakin berapi-api. Suaranya tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan. Mirip seperti iblis yang sedang marah besar.
"Ya, aku mengerti apa maksudmu. Tapi, dengarkan dulu ceritaku ini,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan menarik nafas, dia lebih dulu minum arak sebelum bercerita. Setelah habis lima tegukan, dia mulai berbicara panjang lebar.
Orang tua itu menceritakan semua yang telah dia lewati bersama Zhang Fei dan Yao Mei. Termasuk juga tentang penyelidikan dan perebutan benda pusaka yang terjadi di Gunung Lima Jari.
Si Cakar Maut sendiri tidak memotong cerita itu. Dia mendengarkan dengan seksama sampai Dewa Arak Tanpa Bayangan menyelesaikan ceritanya.
"Jadi, kau juga yakin bahwa anakku masih hidup?" tanyanya kemudian.
"Ya, aku percaya,"
"Baiklah. Demi memandang tinggi dan menghormatimu, kali ini aku tidak akan bertindak macam-macam lagi," ucap si Cakar Maut.
Dia kemudian memalingkan wajah ke arah Zhang Fei. Kemudian berbicara lagi, "Dan untukmu, aku harap dalam waktu dua bulan dari sekarang, kau bisa menemukan dan membawa kembali anakku. Kalau dalam dua bulan itu kau tidak berhasil membawanya atau menemukan informasi terbaru, maka aku bersumpah, hidupmu tidak akan pernah tenang untuk selamanya,"
Datuk sesat itu berkata dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut bisa diketahui dari ekspresi wajah sekaligus nada bicaranya.
"Baik, Tuan Shi. Aku akan berusaha semaksimal mungkin demi bisa menemukan kembali Nona Mei. Kau jangan khawatir, kalau pencarianku selama dua bulan tidak mendapatkan hasil, maka kau boleh memperlakukanku dengan cara apapun juga,"
"Baik. Janji seorang pendekar, pasti tidak akan diingkari. Apalagi, sekarang kau sudah menjadi Ketua Dunia Persilatan,"
"Ya, aku berjanji," jawabnya sambil mengangguk.
Si Cakar Maut langsung menarik diri. Satu helaan nafas selanjutnya, dia langsung beranjak pergi dari sana dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Lima tokoh dunia persilatan itu juga segera kembali ke dalam gedung.
Malam harinya, setelah semua pekerjaan di hari itu selesai, mereka kembali berkumpul di ruang pribadi Zhang Fei untuk membahas beberapa persoalan lain.
Baru saja hendak bersulang arak, tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam ruangan. Dia lalu memberikan secarik surat yang ditulis di atas kulit menjangan.
"Anak Fei, ini ada surat untukmu," kata Dewi Rambut Putih sambil memberikan surat itu kepada Zhang Fei.
"Terimakasih, Nyonya Ling," jawabnya sambil menerima surat.
Tanpa berlama-lama, Zhang Fei segera membuka surat tersebut.
"Ketua Fei, berhati-hatilah. Menurut matanata, pihak musuh sudah kembali menunjukkan pergerakan. Kali ini mereka akan menyerang dari setiap sisi yang ada. Dalam usahanya sekarang, mereka juga telah menyatukan kekuatan dan membentuk sebuah aliansi. Kaisar sendiri sudah menurunkan bala tentara di beberapa titik. Selain itu, beliau juga ingin meminta bantuanmu untuk menghadapi masalah ini."
"Penasihat Kekaisaran,"
Zhang Fei sangat serius dalam membaca surat tersebut. Empat Datuk Dunia Persilatan saja memandangnya dengan rasa heran.
Setelah dia melipat kembali surat tersebut, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung bertanya kepadanya.
"Anak Fei, siapa yang mengirim surat itu? Bagaimana pula isinya?"
Zhang Fei tidak menjawab. Dia menyodorkan tangan dan memberikan surat tersebut ke arahnya. "Silahkan Tuan Kiang baca sendiri,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menerima dan membaca isi surat tersebut. Sama seperti Zhang Fei, ekspresi wajahnya pun seketika berubah setelah membacanya.
Tidak hanya itu saja, bahkan tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain pun mengalami hal serupa setelah masing-masing dari mereka membaca surat itu secara langsung.
"Gawat, ini tidak bisa dibiarkan. Kalau begini caranya, kita juga harus ikut turun tangan," kata Orang Tua Aneh Tionggoan bicara lebih dulu.
"Rupanya manusia-manusia keparat itu belum jera juga," Pendekar Tombak Angin merasa geram. Tanpa sadar dia telah meningkatkan tenaga dalamnya sehingga membuat retak kursi yang diduduki.
"Sekarang harus bagaimana? Kalau aku terus duduk di sini, tentu aku tidak akan bisa. Apalagi, kalian tahu sendiri apa yang telah dikatakan oleh si Cakar Maut sebelumnya," kata Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang dan berat.
Zhang Fei kembali dirundung oleh kebingungan. Kalau dia turun tangan langsung ke lapangan, siapa yang akan menjaga Gedung Ketua Dunia Persilatan? Tapi kalau dia terus berdiam di sana, bagaimana pula dengan tugas-tugasnya yang belum selesai?
Suasana di ruangan itu menjadi sepi. Lima orang tokoh yang ada saling membungkam mulutnya masing-masing.
Mereka juga merasa bingung harus mengambil langkah yang mana.
"Begini saja," di saat seperti itu, tiba-tiba Dewi Rambut Putih berkata dengan nada tegas dan cukup lantang. "Selama situasinya nanti masih bisa dikembalikan, maka biarlah aku yang berdiam di Gedung Ketua Dunia Persilatan. Tapi kalau semuanya sudah diluar kendali kita, maka terpaksa, aku pun harus ikut terlibat di dalamnya,"
Dia kemudian memandang empat orang lainnya. Dewi Rambut Putih seolah-olah sedang meminta pendapat mereka.