
Bersamaan dengan itu, para pendekar aliran hitam yang tadi berada di dekatnya, tiba-tiba juga ikut bergerak, begitu dirinya mengambil tindakan.
Mereka langsung menghadang niat Zhang Fei. Para pendekar itu segera melancarkan berbagai macam serangan menggunakan senjata dan jurusnya masing-masing.
Si Golok Ampuh Ho Nan adalah pemimpin di Kampung Hitam. Tentu saja, semua penghuni yang secara tidak langsung adalah anak buahnya itu, tidak akan membiarkan seorang pun yang ingin membunuh pemimpinnya.
Dalam waktu singkat, untuk yang kedua kalinya, Zhang Fei dikepung oleh para pendekar aliran hitam.
Kali ini, kedua belah pihak sudah sama-sama merah besar. Begitu mendapatkan posisi yang pas, para pendekar aliran sesat itu langsung menyerang membabi-buta.
Zhang Fei tahu posisinya tidak menguntungkan. Karena itulah dia pun tidak mau tinggal diam.
Sebelum semua serangan itu mengenai tubuhnya, ia kembali berteriak nyaring. Pedang Raja Dewa bergetar dengan keras.
Dia telah mengeluarkan jurus keempat! Jurus yang sekarang dia kuasai secara sempurna.
Wushh!!! Wutt!!!
Tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi jejak bayangan. Pedang Raja Dewa di tangan kanannya itu mulai melibas siapa pun, atau apapun yang ada di dekatnya.
Dentingan nyaring terdengar beberapa kali. Namun tepat setelah itu, segera terlihat ada berbagai macam jenis senjata yang terlempar ke tengah udara.
Kejadian seperti itu terus berlanjut. Sehingga menimbulkan kepanikan di pihak musuh.
Melihat usahanya berhasil, Zhang Fei segera menambah tenaga dalam setiap serangannya. Pedang itu langsung menusuk dan menebas kepada musuh yang berada paling dekat dengan dirinya.
Satu-persatu dari mereka mulai tewas menjadi korban. Para pendekar itu juga mengalami luka yang berbeda.
Ada yang tertusuk tepat di bagian jantungnya, ada pula yang berhasil ditebas lehernya, sehingga hampir putus kepala para korban tersebut.
Saat ini, anak muda itu persis seperti harimau yang terluka. Ia terus menyerang siapapun yang ingin membunuhnya.
Banjir darah di Kampung Hitam terjadi!
Gema teriakan kesakitan terdengar. Disusul kemudian dengan keluhan kematian yang menggiriskan hati.
Si Golok Ampuh Ho Nan kaget. Dia tidak percaya anak muda itu, ternyata masih mempunyai tenaga yang terbilang besar.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" katanya sambil menggenggam gagang golok lebih erat lagi.
Wushh!!!
Dia langsung melompat. Di tengah udara, si Golok Ampuh Ho Nan langsung mencabut kembali golok pusaka miliknya.
Bacokan golok datang dari kanan dan kiri. Begitu tiba di depan musuh, tanpa tanggung lagi dia langsung mengeluarkan jurus-jurus golok miliknya.
Hawa golok seketika menyebar luas ke empat penjuru mata angin. Jurus yang ia berikan ternyata benar-benar dahsyat.
Dalam waktu singkat, keadaan di arena pertarungan itu langsung berubah.
Para pendekar aliran sesat berseru girang begitu melihat pemimpinnya turun tangan. Semangat yang hampir hilang itu, sekarang telah kembali lagi!
Wutt!!! Wushh!!!
Deru angin dari serangan lawan terdengar sangat jelas di telinga Zhang Fei.
Posisi anak muda itu seketika berbalik. Sekarang dia jadi berada di bawah angin!
Kalau harus menghadapi serangan para pendekar aliran sesat yang sejak tadi dia lawan, ia yakin masih sanggup untuk bertahan atau bahkan memberikan serangan balasan.
Tetapi kalau harus menghadapi pula serangan golok milik Ho Nan yang hebat itu, Zhang Fei tidak punya keyakinan untuk bisa bertahan lebih lama.
Keadaan ini benar-benar membuatnya panik. Pikirannya mulai kacau. Apalagi setelah dia tidak menemukan jalan keluar dari posisinya sekarang.
"Mana kemampuanmu, anak muda? Ayo keluarkan. Bukankah tadi kau bilang ingin memenggal batok kepalaku?"
Di tengah jalannya pertarungan, terdengar si Golok Ampuh Ho Nan berkata dengan nada sinis. Ia mengejek anak muda itu tepat di sisi telinganya.
Zhang Fei yang bisa mendengar dengan jelas, tentu saja semakin tidak terima. Hawa amarah di dalam tubuhnya semakin memuncak. Rasa panas yang membara semakin menjadi.
Melihat hal itu, si Golok Ampuh Ho Nan tersenyum dingin. Itu artinya, rencana yang ia lakukan tadi, kini berjalan dengan mulus dan sempurna.
"Bagus. Penggal kepalaku kalau memang kau mampu," katanya memanas-manasi Zhang Fei lagi.
Anak muda itu tidak menjawab dengan mulut. Ia menjawab dengan tindakan nyata!
Wutt!!!
Sinar pedang berkelebat ke arah si Golok Ampuh Ho Nan. Tapi sebelum mengenai tubuhnya, lagi-lagi sudah ada pendekar aliran sesat yang melindunginya.
Kejadian seperti itu terus berlangsung sampai waktu yang cukup lama. Pertempuran semakin seru. Tapi Zhang Fei juga semakin terdesak.
Beberapa bagian tubuhnya sudah menjadi sasaran lawan. Luka yang beberapa waktu lalu belum benar-benar sembuh, sekarang sudah terbuka lagi.
Darah segar membasahi pakaian. Keringat dingin mengucur dengan deras.
Pertarungan ini benar-benar memerlukan perjuangan keras. Untunglah usaha Zhang Fei selama ini cukup membuahkan hasil yang memuaskan.
Dari puluhan, sekarang pendekar sesat yang masih hidup tinggal sembilan orang saja.
Dan yang tersisa itu adalah para pendekar kelas satu!
Maka dari itu, walaupun sekarang jumlah musuhnya sudah sedikit, tapi yang sedikit itu justru yang paling sulit.
Wushh!!! Trangg!!! Bukk!!!
Sebuah pukulan keras datang dari arah depan. Pukulan tersebut dengan telak mengenai dadanya. Zhang Fei terlempar ke belakang. Belum lagi dia mendapatkan posisi, sudah ada tendangan lain yang menyambutnya dari arah belakang.
Anak muda itu terombang-ambing. Keadaannya persis seperti sebuah ranting pohon di tengah sungai.
Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi!
Srett!!!
Dalam keadaan yang sudah tersiksa, tiba-tiba sebatang golok menggores paha sebelah kanannya. Luka yang ditimbulkan akibat goresan itu cukup dalam.
Rasa perih langsung menggerogoti tubuh Zhang Fei.
'Kalau terus berada di sini, bisa-bisa aku mampus,' batinnya berkata.
Sadar akan hal tersebut, mendadak ia menguatkan tekad di dalam dirinya.
Tekad Zhang Fei sekarang bukan untuk membunuh semua orang itu. Melainkan membebaskan diri dari mereka.
Mau tidak mau, ia harus lari!
"Jangan berpikir kau bisa lari dari sini," teriak salah seorang pendekar sesat yang mengetahui bahwa ia mempunyai niat untuk pergi.
Selesai berkata, pendekar itu segera menyerang lagi. Tapi, serangan itu terpaksa berhenti.
Sebab sebelum usahanya berhasil, Pedang Raja Dewa sudah lebih dulu menembus perutnya.
Wushh!!!
Zhang Fei langsung melesat secepat kilat setelah ia bisa keluar dari kepungan sepuluh pendekar sesat itu. Ia terus berlari lebih dalam, menuju ke kaki Gunung Awan Putih.
"Kejar bocah itu! Jangan biarkan dia lolos!" si Golok Ampuh Ho Nan memberikan perintah kepada anak buahnya yang tersisa.
Sembilan pendekar sesat mengangguk. Mereka langsung mengejar ke arah perginya Zhang Fei.
"Bocah itu ternyata cukup hebat. Kalau tidak dikeroyok, aku yakin dia bisa memberikan perlawanan berarti," gumamnya sambil memandangi keadaan di sekitar sana.
Keadaan di halaman depan warung arak itu sudah berubah. Puluhan mayat manusia bergelimpangan. Mayat-mayat itu berserakan begitu saja di atas tanah.
Darah segar menggenang. Bau amis darah mulai tercium dengan jelas.