Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Si Mata Serigala


"Manusia mana yang berani membuat kekacauan di tempatku?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dan mengalun di tengah udara. Sepertinya pemilik suara itu mempergunakan tenaga sakti, sehingga walaupun manusianya belum terlihat, namun ucapannya bisa didengar jelas oleh semua orang yang berada di halaman depan tersebut.


Zhang Fei tersenyum dingin. Akhirnya dia berhasil memancing si pemimpin keluar.


'Aku ingin melihat manusia macam apakah dia itu,' batinnya sambil menatap tajam ke arah pintu utama.


Tidak lama setelah itu, dari dalam bangunan sana, terlihat ada seseorang yang berjalan keluar dengan langkah ringan.


Orang itu belum terlalu tua. Umurnya paling banyak baru menginjak lima puluhan.


Kumisnya tebal, wajahnya sangar. Bola matanya hitam. Tatapan mata itu liar seperti serigala di tengah hutan. Dari sini, Zhang Fei sudah bisa menilai bahwa orang tersebut setidaknya mempunyai kemampuan tinggi.


Mungkin ia masuk dalam jajaran pendekar kelas satu.


"Siapa yang mencari si Mata Serigala?" tanyanya sambil bertolak pinggang.


Dia berdiri tepat di depan pintu, orang yang mengaku berjuluk si Mata Serigala itu, menyapu pandang ke tengah halaman.


Diam-diam hatinya terkejut saat melihat puluhan anggotanya sudah terkapar di tanah. Walaupun mereka tidak sampai tewas, tapi hal ini tetap mengejutkan.


Menurutnya, hanya orang-orang berilmu tinggi saja yang bisa melumpuhkan mereka dalam waktu singkat.


"Oh, jadi pemimpin Kelompok Bunga Merah ini berjuluk Mata Serigala?" tanya Zhang Fei sambil mengangkat alis.


"Benar. Memang aku, siapa kau?" si Mata Serigala balik bertanya.


"Zhang Fei," jawab anak muda itu dengan singkat.


"Mau apa kau kemari?"


"Aku memang sedang mencarimu,"


"Oh, jadi kau yang mencariku? Kalau begitu, apakah semua ini, juga perbuatanmu?"


"Tidak salah. Kenapa? Kau tidak suka?"


Anak muda itu mulai menantang lawannya. Dia sengaja berbuat demikian karena ingin memancing emosi pemimpin tersebut.


'Hebat juga bocah ini. Hemm ... mengingat namanya, mungkinkah dia adalah pendekar muda yang sedang dibicarakan?'


Si Mata Serigala memandangi Zhang Fei mulai dari atas sampai bawah. Tatapannya sangat teliti. Seolah-olah dia sedang mencari sesuatu.


'Ah, perduli setan siapa bocah ini. Yang jelas dia akan menjadi bencana kalau tidak segera dibereskan,'


Ia mengangkat wajahnya. Kemudian berkata. "Bagus, bagus sekali. Baru sekarang ada bocah bodoh yang mencari gara-gara denganku, kau tahu? Bahwa Kelompok Bunga Merah adalah penguasa di sekitar sini?"


"Aku tidak bertanya. Aku juga tidak ingin tahu," Zhang Fei berkata sambil tersenyum dingin.


"Keparat! Mulutmu benar-benar lancang,"


Si Mata Serigala sudah dikuasai oleh emosinya. Ini adalah kali pertama ia diejek, apalagi ejekan itu dilontarkan oleh seorang pemuda.


Sementara itu di belakang sana, Orang Tua Aneh Tionggoan terlihat sedikit terkejut ketika tadi mendengar nama pemimpinnya.


Tanpa sadar dirinya langsung memandang ke arah si Mata Serigala.


'Rupanya memang dia. Tidak heran apabila Kelompok Bunga Merah bisa berkuasa di sini,' batinnya sambil menganggukkan kepala.


Tokoh tua itu lalu mengalihkan pandangan ke arah Zhang Fei. Ia segera berkata melalui pikirannya.


"Anak Fei, berhati-hatilah. Si Mata Serigala bukan lawan yang mudah. Kemampuannya mungkin lebih hebat dari perkiraanmu sendiri. Terutama sekali tatapan matanya, apabila terjadi pertarungan, jangan sekali-kali kau memandang mata itu,"


Zhang Fei menoleh ke arah Orang Tua Aneh Tionggoan. Walaupun pada dasarnya dia bisa mendengar orang lain berbicara dalam pikirannya, namun dia sendiri tidak bisa membalas ucapannya dengan cara yang sama.


Alasannya karena kemampuannya sekarang belum mencukupi. Ilmu batinnya belum benar-benar sempurna. Ia masih dalam proses pembentukan dan penyempurnaan.


Perlu diketahui, ilmu batin dan ilmu silat itu mempunyai perbedaan jauh. Orang yang ilmu silatnya tinggi, belum tentu ilmu batinnya juga tinggi. Begitu pun sebaliknya.


Tetapi, apabila ada orang yang sudah tinggi ilmu batinnya, maka sedikit banyak orang itu pasti pandai melakukan atau menangkis ilmu sihir.


Meksipun jawabannya tidak keras, tapi Zhang Fei yakin bahwa Orang Tua Aneh Tionggoan mampu mendengar ucapannya.


"Eh, Mata Picak. Aih, maksudku, Mata Serigala ... aku mempunyai permintaan kepadamu," kata anak muda itu sengaja melakukan ejekan.


"Anak setan!" makinya dengan nada tinggi. "Permintaan apa?" lanjutnya.


"Lebih baik kau segera bertobat dan pergi dari sini. Apakah kau tidak kasihan kepada para pedagang dan rakyat kecil yang selalu kau peras itu?"


"Hahaha ..." ia tertawa lantang sambil menengadahkan wajahnya ke langit. "Kau pikir dirimu siapa? Berani sekali kau bicara seperti itu,"


"Aku hanya prihatin melihat nasib mereka. Kalau memang kau mau melakukan pemerasan, lebih baik kepada hartawan kaya atau pedagang besar saja. Jangan kepada mereka,"


Para pedagang dan rakyat kecil itu, saat ini sudah hidup serba kekurangan. Untuk biaya sehari-hari saja masih belum cukup.


Bukankah sangat memperihatinkan apabila mereka diperas setiap harinya?


"Hemm ... para saudagar dan hartawan di wilayah ini, semuanya selalu memberikan jatah kepadaku dengan jumlah besar. Jadi, aku tidak mau mengganggu mereka. Aku justru malah melindunginya,"


"Lalu apakah semua itu masih kurang?"


"Tentu saja,"


"Cih, dasar manusia serakah,"


"Bocah! Kalau tujuanmu kemari hanya ingin uang, baiklah. Aku akan memberikannya, berapa banyak uang yang kau butuhkan?"


"Aku tidak butuh uang," jawab Zhang Fei dengan cepat. "Aku hanya butuh kepalamu untuk dipajang di tengah kota,"


'Sialan. Kalau dibiarkan lebih lanjut, rasanya bocah ini akan semakin menjadi,'


Mata Serigala semakin marah. Sebab ucapan yang dilontarkan oleh Zhang Fei, semakin lama makin tidak enak di dengar.


"Kalau memang kau mampu, ambil kepalaku ini,"


Wushh!!!


Sembari berkata, si Mata Serigala sudah melancarkan serangan pertamanya. Tubuh pemimpin Kelompok Bunga Merah itu melesat ke arah Zhang Fei dengan cepat.


Ia mengirimkan pukulan beruntun yang mengandung tenaga besar.


Melihat musuh sudah turun tangan, dengan segera Zhang Fei mengambil posisi. Ia lebih dulu menghindari pukulan beruntun itu.


Alhasil semua usaha Mata Serigala gagal total. Semua serangannya berhasil dihindari anak muda itu dengan mudah.


"Rupanya kau mempunyai kemampuan juga," katanya sambil tersenyum mengejek.


Wutt!!!


Ia melanjutkan lagi serangannya. Sepuluh jari itu mekar membentuk cakar. Setiap gerakannya membawa hawa panas.


Zhang Fei semakin waspada. Dia tahu, orang itu mulai mengeluarkan kemampuannya. Karena itulah dia tidak berani gegabah.


Beberapa kali dirinya menarik tubuh dan menggeser ke samping guna menghindari serentetan serangan cakar itu. Namun serangan lawan seakan-akan tidak ada habisnya.


Dia terus memburu Zhang Fei ke mana pun dirinya menghindar.


Karena tidak ingin kalah, maka ia pun segera melakukan perlawanan.


Wutt!!!


Pukulan Tanah Merah langsung digelar dalam waktu singkat. Hawa panas memburu ke depan dengan cepat.


Dua hawa panas bertemu, membuat udara di arena pertarungan menjadi gersang.


Plakk!!! Plakk!!!


Benturan tangan sudah terjadi beberapa kali. Tapi keduanya tetap tidak mau menghentikan serangan. Mereka justru menambah tenaga dalam setiap usahanya.