
Perlu diketahui, insting seorang wanita itu sangatlah kuat. Bahkan mungkin, insting wanita jauh lebih kuat dibandingkan laki-laki.
Zhang Fei tahu bahwa saat ini, kedua gadis di ruangan itu sedang merasakan sesuatu. Hanya saja, dia tidak bisa mengetahui dengan jelas sesuatu apakah itu.
Untuk mencairkan suasana di dalam ruangan, pada akhirnya dia memilih mengajak mereka untuk bersulang arak kembali.
Lewat beberapa waktu kemudian, ia baru bicara lagi. "Yin Yin, ke mana sebagian anggota Partai Pengemis? Apakah mereka sedang berjaga-jaga?" tanyanya.
"Benar, Zhang Fei. Sebagian anggota aku suruh untuk mengaja keamanan di beberapa tempat. Aku takut, pengemis-pengemis rendahan itu akan datang lagi dan membuat kegaduhan," jawabnya membenarkan.
"Memangnya beberapa hari belakangan ini, mereka telah muncul lagi?"
"Ya, benar. Mereka muncul di desa kecil sebelah barat dan membuat kerusuhan di sana. Pengemis-pengemis itu telah menghancurkan rumah warga dan menyerang para penghuninya,"
"Sialan betul mereka. Jika demikian, masalah ini tidak bisa dibiarkan lagi!"
"Karena itulah, aku memintamu untuk cepat-cepat datang kemari,"
Setelah kemunculan para pengemis berpakaian hitam itu, Yin Yin juga merasa sangat risih dan ingin segera menghabisi mereka. Namun sayangnya, si Pengemis Tongkat Sakti tidak memberikan izin terkait hal tersebut.
Entah kenapa, mungkin karena orang tua itu tidak ingin menciptakan pertempuran yang melibatkan banyak orang dan menumpahkan darah lebih banyak lagi.
"Ngomong-ngomong, apakah Tuan Bai ada di sini?"
"Ada. Kakek ada di ruangan pribadinya,"
"Bolehkan aku bertemu dengan beliau?"
"Tentu saja. Kapan kau ingin bertemu dengan Kakek?"
"Kapan saja, asalkan dia ada waktu untuk bertemu dan berbicara," jawab Zhang Fei seraya tersenyum.
"Baiklah, nanti malam saja kita ke sana. Sekarang, lebih baik kalian berdua istirahat dulu," ucap Yin Yin menyuruh kedua tamunya untuk beristirahat.
"Terimakasih,"
Yin Yin mengangguk. Dia kemudian menyuruh dua orang pengawalnya untuk pergi ke kamar yang sudah disediakan.
Dua pengawal itu segera menjalankan tugas. Mereka membawa Zhang Fei dan Yao Mei ke kamar khusus tamu.
Setelah tiba di kamar masing-masing, para pengawal itu pun segera berlalu pergi dari sana.
###
Malam hari telah tiba. Kini Zhang Fei, Yao Mei dan Yin Yin sudah berada di sebuah ruangan. Ruangan itu cukup besar. Di dalamnya juga berisi lukisan dan barang-barang mewah serta langka.
Di tengah-tengah ruangan, ada satu meja besar dan juga lima buah kursi yang terbuat dari kayu hitam. Di atas empat kursi itu, kini duduk empat orang tokoh dunia persilatan.
Pada saat pertama kali masuk ke sana, Zhang Fei merasa kaget. Kaget ketika melihat Chen Mu Bai yang sekarang.
Dulu, si Pengemis Tongkat Sakti itu sangat gagah dan bertubuh tinggi tegap. Walaupun usianya sudah tua, tapi semangat dan kegagahannya tidak kalah dengan para generasi muda.
Namun sekarang ... tokoh Partai Pengemis yang dulunya ditakuti lawan disegani kawan itu telah menjadi jerangkong hidup.
Tubuhnya tidak lagi tegap dan kekar. Tubuh tua itu, kini hanya terbungkus oleh kulit saja. Matanya cekung, tatapan matanya juga redup dan tidak mencerminkan lagi kewibawaan.
Tidak hanya itu saja, bahkan saat ini, si Pengemis Tongkat Sakti terlihat lesu. Semangat pendekar yang dulu menyala-nyala dalam jiwanya, kini telah hilang tanpa bekas.
Ia benar-benar terlihat seperti orang tua yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan kehidupan ini.
Zhang Fei hanya tersenyum. Senyuman yang mengandung seribu makna.
Pada saat itu, sebenarnya ia bingung dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Zhang Fei takut kalau dia bicara, nantinya akan melukai hati si Pengemis Tongkat Sakti.
Maka dari itu, ia tidak menjawab dengan ucapan. Melainkan dengan senyuman!
Si Pengemis Tongkat Sakti juga ikut tersenyum. Dia melirik kepada dua gadis cantik yang ada di sana.
"Yin Yin, kalian berdua pergilah. Aku ingin berbicara empat mata dengan Ketua Fei," pinta orang tua itu.
"Oh, baiklah, Kek. Kalau begitu, kami keluar dulu,"
Yin Yin kemudian berdiri. Ia lalu memberi isyarat kepada Yao Mei untuk segera pergi dari sana.
Setelah di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, si Pengemis Tongkat Sakti kembali bicara lagi.
"Aku rasa, kau sudah tahu, bukan, mengapa aku bisa seperti sekarang ini?"
"Ya, dalam pertemuan kemarin, Yin Yin telah banyak bercerita kepadaku. Tapi terkait kondisimu saat ini, dia tidak banyak membahasnya," jawab Zhang Fei dengan jujur.
"Benarkah?" orang tua itu mengangkat kedua alisnya. "Jika demikian, biarlah aku menceritakan kejadian yang sebenarnya,"
Si Pengemis Tongkat Sakti segera membetulkan posisi duduknya dengan susah payah. Ia pun sempat minum arak sebanyak satu cawan.
Detik berikutnya, dia mulai bercerita. "Saat itu hari sudah tengah malam, kebetulan aku belum bisa tidur. Aku duduk melamun di ruangan belakang seorang diri. Tiba-tiba, ada sebatang anak panah yang melesat dengan cepat. Anak panah itu menancap tepat di hadapanku. Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk mencabutnya. Ketika diteliti lebih lanjut, ternyata anak itu membawa sepucuk surat yang diikat di bagian tengahnya,"
"Surat itu berisi tantangan. Si pengirim menyuruhku untuk datang ke danau di ujung kota malam itu juga,"
"Lalu, apakah Tuan Bai memenuhi tantangan tersebut?"
"Tentu saja, Ketua Fei. Apalagi dalam surat tersebut juga berisi hinaan yang tidak bisa aku maafkan," jawab Pengemis Tongkat Sakti sambil membayangkan kembali kejadian tersebut.
Zhang Fei mengangguk. Dia tidak perlu mempertanyakan hinaan apakah yang diterima oleh Pengemis Tongkat Sakti.
Yang jelas, dia sudah tahu bahwa hinaan tersebut pasti menyangkut harga dirinya.
Bagi orang-orang persilatan, harga diri adalah hal yang terpenting. Bahkan nyawa pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan harga diri itu sendiri.
Zhang Fei tentu saja mengerti akan hal tersebut. Sebab dia sendiri adalah orang-orang persilatan!
"Lalu, bagaiamana selanjutnya, Tuan Bai?"
"Saat aku tiba di tempat yang telah ditentukan, ternyata di sana sudah ada satu orang yang menunggu. Dia juga pria tua sepertiku,"
"Siapa dia, Tuan Bai?"
"Entahlah, aku tidak tahu, Ketua Fei. Pria tua itu mengenakan cadar penutup wajah, pakaiannya juga serba hitam,"
"Apakah dia orang-orang dari Partai Panji Hitam? Ataukah dari Partai Iblis?"
Zhang Fei langsung bertanya dengan cepat. Dia menduga bahwa pria tua tersebut pasti adalah orang yang berasal dari salah satu partai sesat itu.
"Menurutku bukan, Ketua Fei. Karena pakaiannya juga penuh tambalan. Persis seperti anggota Partai Pengemis kita,"
"Kalau begitu ... dia pasti berasal dari Partai Pengemis yang dibicarakan oleh Yin Yin,"
"Ya, tepat sekali. Aku pun menduga hal yang sama,"