
Tiga ekor kuda jempolan tampak sedang berlari kencang. Setiap langkah kaki kuda itu selalu meninggalkan jejak yang cukup dalam. Debu kuning ikut mengepul ke udara ketika kaki kuda itu menginjaknya.
Pagi belum benar-benar tiba. Tapi semburat merah sudah bisa terlihat di ufuk sebelah timur. Para warga juga sudah bangun dan siap menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Zhang Fei, Yao Mei dan Yin Yin sudah pergi dari markas Partai Pengemis sejak beberapa saat yang lalu. Tiga pendekar itu pergi dengan penuh semangat.
Sejak awal, mereka telah memutuskan untuk membalapkan kudanya. Jadi tidak heran kalau masing-masing menyuruh kuda yang ditungganginya untuk berlari sekencang mungkin.
Suara ringkik dan tapak kaki kuda terus terdengar. Pagi yang akan datang segera disambut oleh suara-suara tersebut.
Saat mentari pagi menampakkan dirinya, mereka baru saja tiba di kota perbatasan. Zhang Fei berhasil memenangkan balapan tersebut. Ia langsung menghentikan kudanya dan bersorak gembira.
"Aku menang!" serunya sambil mengangkat kedua tangan.
Tidak lama setelah itu, Yao Mei dan Yin Yin segera datang menyusul. Mereka kemudian berhenti di perbatasan kota tersebut.
"Kita lewat jalur memutar saja," kata Zhang Fei kepada keduanya.
"Mengapa harus memutar?" tanya Yin Yin penasaran.
"Pertama karena aku ingin melihat keadaan di lapangan. Kedua karena aku ingin tahu apakah pihak musuh masih berani melancarkan serangan atau tidak," ucap Zhang Fei menjelaskan.
"Hemm ... baiklah. Aku setuju. Hitung-hitung menambah pengalaman," tukas Yin Yin merasa senang.
"Aku ikut apa kata kalian saja," sambung Yao Mei.
"Karena kalian sudah setuju. Maka aku memutuskan untuk memutar jalan. Ayo kita berangkat!" Zhang Fei berseru lagi.
Dia menarik tali kekang kuda sehingga membuat dua buah kaki depannya berdiri cukup tinggi. Tiga ekor kuda itu kembali meringkik keras. Selanjutnya mereka langsung melanjutkan kembali perjalanannya.
Karena mereka mengambil jalan memutar, maka waktu yang dibutuhkan pun menjadi sedikit lebih lama. Setidaknya, mereka membutuhkan waktu sekitar empat belas hari kalau ingin sampai di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Selama perjalanan tersebut, Zhang Fei selalu bertugas sebagai pemimpin. Dia berada di posisi paling depan sembari mengawasi keadaan di setiap tempat yang dilewatinya.
Zhang Fei masih mempunyai dugaan bahwa keadaan di Kekaisaran Song belum sepenuhnya aman. Maka dari itulah dia memutuskan untuk mengambil langkah ini.
Selama perjalanan itu, tanpa disadari, hubungan di antara mereka bertiga menjadi jauh lebih dekat lagi. Saat ini, masing-masing telah mempunyai perasaan yang sama.
Siang sampai sore hari, mereka terus memacu kudanya untuk melakukan perjalanan. Malam harinya, mereka selalu beristirahat. Entah itu di penginapan, atau pun di langit terbuka.
Pada hari kesepuluh, kebetulan malam itu cuaca sedikit mendung. Gumpalan awan hitam telah memenuhi angkasa. Rembulan dan bintang tidak terlihat sedikit pun.
Keadaan menjadi lebih gelap. Zhang Fei segera mempercepat lari kudanya. Tapi sayang sekali, hujan telah mendahului.
Sebelum menemukan tempat yang cocok untuk berteduh, pakaian mereka sudah dibuat basah oleh derasnya hujan yang turun di malam itu.
"Zhang Fei, apakah kita akan terus berjalan?" tanya Yin Yin sambil membasuh wajah yang telah dibasahi oleh hujan.
"Tentu saja tidak, Yin Yin. Kita akan berhenti setelah menemukan tempat untuk berteduh," jawab Zhang Fei sambil menoleh ke arahnya.
"Hei, lihatlah! Di depan ada bangunan kosong. Kita bisa berteduh di sana," seru Yao Mei sambil menunjuk ke bangunan yang dimaksud.
"Ah, benar. Mari kita ke sana,"
Ketiganya segera mempercepat lari kuda. Beberapa saat kemudian, mereka telah berhasil tiba di sana.
Setelah itu, Zhang Fei, Yao Mei dan Yin Yin duduk di teras sambil melihat ke depan.
Hujan turun semakin deras. Tanah menjadi becek. Udara pun terasa semakin dingin menusuk tulang.
Sesaat berikutnya, tiba-tiba Zhang Fei mengeluarkan satu guci arak untuk menghangatkan badan. Tidak lupa, dia membagi arak itu untuk dua gadis di sisinya.
Waktu terus berlalu. Malam pun semakin larut. Yao Mei dan Yin Yin sudah tidur di samping Zhang Fei. Saat itu, hujan sudah mulai reda. Rembulan tiba-tiba muncul dibalik awan kelabu yang bergerak ke arah barat.
Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba sepasang telinganya mendengar ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak hanya itu saja, bahkan secara mendadak, Zhang Fei juga merasakan adanya kehadiran manusia di sekitar tempat tersebut.
Karena merasa penasaran, pada akhirnya dia berniat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Zhang Fei bangkit berdiri, dia baru menyadari bahwa bangunan yang dijadikan tempat peristirahatannya tersebut ternyata adalah sebuah rumah.
Rumah yang besar dan mewah!
Melihat ke kanan kiri, barang-barangnya masih ada. Bahkan rumahnya pun terhitung bersih.
"Sepertinya rumah ini belum lama dikosongkan," gumamnya sambil melihat-lihat.
Ia kemudian berjalan ke halaman belakang. Zhang Fei tidak mengkhawatirkan dua gadis yang sedang tidur itu. Sebab dia yakin bahwa mereka bisa menjaga diri meskipun sedang terlelap.
Halaman belakang rumah mewah tersebut dipenuhi oleh rumput hijau. Di sana juga ada sebuah taman bunga kecil di sebelah kanan.
"Hemm ... jejak siapa ini?" ia bertanya kepada diri sendiri ketika melihat ada beberapa jejak kaki yang terdapat di tanah.
Walaupun jejak kaki itu terhitung sangat tipis, namun Zhang Fei tetap bisa melihatnya dengan jelas.
"Sepertinya di dalam sana ada tokoh kelas atas yang berdiam,"
Zhang Fei sangat yakin dengan hal tersebut. Ia bisa mengetahuinya dari jejak kaki yang dilihat. Menurutnya, hanya tokoh-tokoh kelas atas saja yang mampu meninggalkan jejak kaki setipis itu.
Dilihat lebih lanjut, ternyata jejak kaki tersebut menuju ke dalam rumah.
Tidak salah lagi. Dugaannya pasti betul!
Setelah merasa yakin akan hal tersebut, secara diam-diam ia langsung masuk ke dalam rumah dengan cara melewati jendela.
Ketika berhasil masuk, Zhang Fei semakin terkejut lagi. Sebab di lantai ruangan ada jejak kaki yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Selain itu, Ketua Dunia Persilatan juga merasakan adanya hawa kehadiran manusia lain lebih pekat daripada sebelumnya.
Zhang Fei berjalan perlahan ke tengah-tengah ruangan. Ia memandangi keadaan di dalam rumah mewah tersebut.
Wutt!!! Wutt!!!
Ketika sedang menyelidik, tiba-tiba dari arah kanan dan kirinya ada puluhan titik hitam yang melesat secara bersamaan.
Walaupun keadaan saat itu benar-benar gelap karena tidak ada penerangan, namun sebagai tokoh yang sudah berpengalaman, ia bisa tahu dan merasakan dari manakah asalnya ancaman tersebut.
Wushh!!!
Zhang Fei melompat ke tengah udara. Dia bersalto sebanyak tiga kali. Puluhan titik hitam yang datang dari dua arah tadi langsung menancap di tiang yang terbuat dari kayu.