Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sosok yang Sebenarnya


"Kotak hitam yang mana?" tanya Zhang Fei seolah-olah dia tidak mengerti arah pembicaraan orang tersebut. "Bukankah kau sendiri juga melihat, bahwa kami tidak menggenggam benda apapun?"


Orang bercadar itu menggeram marah. Sepasang matanya melotot besar seperti hendak keluar.


"Bocah, kau jangan coba-coba mengelabui aku. Aku bukanlah orang bodoh yang bisa kau bohongi begitu saja,"


"Siapa juga yang sedang mengelabui? Aku bicara yang sejujurnya. Coba lihat, mana kotak yang kau maksud itu?"


Zhang Fei memperlihatkan kedua telapak tangannya. Begitu pula dengan Yao Mei. Muda-mudi itu sengaja memperlihatkannya sebagai bukti bahwa mereka tidak sedang berbohong.


Sementara orang bercadar tersebut, terlihat dia semakin marah. Hawa pembunuh yang pekat tiba-tiba saja keluar dari tubuhnya.


"Aku katakan sekali lagi, berikan kedua kotak hitam itu kalau kalian ingin selamat," katanya dengan nada tinggi.


"Terserah apa katamu. Yang jelas aku sudah mengatakan sejujurnya," Zhang Fei juga bersikukuh dengan ucapannya.


Dia memang tidak berbohong. Saat ini, baik dirinya maupun Yao Mei, tidak sedang memegang kotak hitam. Keduanya telah menyimpan kotak hitam itu di dalam goa.


Lagi pula, buat apa membawa kotak hitam yang sudah tidak ada isinya?


Orang bercadar tersebut kembali menatap Zhang Fei dan Yao Mei secara bergantian. Setelah beberapa saat kemudian, dia segera memberikan perintah kepada satu orang anak buahnya.


"Periksa ke dalam sana. Apakah kotak hitam itu masih ada atau tidak,"


"Baik, Tuan,"


Seorang dari mereka menjawab dengan cepat. Setelah itu buru-buru orang tersebut masuk ke dalam goa. Tidak lama kemudian, dia sudah keluar lagi sambil membawa dua kotak hitam yang sebelumnya menjadi wadah dari dua benda pusaka.


"Kotak hitam ini sudah kosong, Tuan," ujarnya memberikan laporan sambil membuka kotak sebagai bukti.


Orang bercadar itu kembali menggeram marah. "Apakah kau masih mau berbohong?" tanyanya sambil menatap ke arah Zhang Fei.


Tatapan matanya sangat tajam menusuk. Seolah-olah tatapan mata itu adalah pedang yang siap menembus ulu hatinya.


"Apalagi yang harus aku katakan kepadamu?"


"Di mana kitab pusaka dan Bunga Mawar Tengah Malam itu?" tanyanya sambil membentak.


"Oh, kalau Bunga Mawar Tengah Malam itu sudah aku makan. Sedangkan kitab pusakanya sendiri, aku telah merobeknya. Aku takut kitab itu jatuh ke tangan orang yang salah. Jadi, aku rasa lebih baik lagi kalau menghancurkannya," kata Zhang Fei dengan enteng. Dia berkata seolah-olah dirinya tidak bersalah.


"Bocah setan! Rupanya kau benar-benar ingin mampus," orang bercadar itu semakin marah setelah mendengar perkataan Zhang Fei barusan.


Sedangkan pemuda itu sendiri, dia justru tersenyum dingin. Zhang Fei memandangi empat belas orang yang ada di depannya itu. Beberapa saat kemudian, kepalanya tiba-tiba dianggukkan beberapa kali. Seakan-akan dia baru mengerti tentang suatu persoalan.


"Rupanya kau si Tua Tempat Informasi," katanya kepada orang bercadar itu.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," jawab orang itu dengan cepat.


"Aku bukan orang bodoh. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau bisa mengelabui aku," Zhang Fei menirukan ucapan orang bercadar sambil melemparkan senyuman sinis.


"Hemm ..." orang itu tidak bicara. Dia hanya mendengus dingin.


"Identitasmu sudah aku ketahui. Buat apa masih memakai cadar segala?"


"Hahaha ..." tiba-tiba orang itu tertawa lantang. Setelahnya dia langsung melepaskan cadar yang menutupi wajah.


Begitu cadar terbuka, rupanya memang benar, orang itu bukan lain adalah si Tua Tempat Informasi!


Zhang Fei dan Yao Mei tersenyum dingin setelah mengetahui kebenarannya.


"Aku sudah curiga sejak awal bahwa kau ini bukan orang sembarangan," kata Yao Mei dengan nada sedingin es.


"Oh, benarkah?"


"Kecurigaan kami semakin terbukti setelah kau melakukan kesalahan dalam rencana itu," sahut Zhang Fei.


"Salah bicara. Kesalahanmu adalah sudah mengatakan terkait dua kotak hitam itu,"


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku telah keceplosan?" tanyanya lebih jauh.


"Pertama karena tidak lama setelah mengatakan hal tersebut, dengan segera kau meralatnya. Ini saja sudah membuatku merasa curiga. Dan kedua, aku bisa membaca gerak tubuhmu,"


Zhang Fei berkata dengan tenang dan penuh keyakinan. Sehingga semua orang yang ada di sana, mau tak mau harus percaya dengan ucapannya.


"Rupanya kau benar-benar bukan manusia yang mudah dibodohi," keluhnya sambil menghela nafas panjang. "Tapi semua yang aku katakan kepadamu memang benar. Aku tidak sedang berbohong,"


"Aku tahu," kata Zhang Fei sambil mengangguk. "Karena itu pula, aku juga yakin bahwa kau yang aku lihat sekarang, bukanlah dirimu yang sebenarnya,"


"Apa maksudmu?" tanya si Tua Tempat Informasi sambil mengerutkan kening.


"Sudahlah. Jujur saja bahwa sekarang kau sedang menyamar,"


"Hemm ... memangnya kau pikir aku ini siapa?"


"Soal ini aku tidak tahu pasti. Namun yang jelas, aku sangat yakin bahwa kau adalah orang yang terlibat langsung dengan perebutan benda pusaka itu. Kalau bukan Raja Pedang Rembulan, pasti kau adalah Pendekar Tangan Dewa,"


Selayang gantian, giliran Zhang Fei yang menatap orang tua itu dengan tajam.


Orang yang ditatap merasa rikuh sendiri. Untuk menghilangkan hal tersebut, tiba-tiba saja dia tertawa lantang kembali. Sesaat kemudian dirinya mencopot topeng kulit yang dikenakannya sejak tadi.


Begitu topeng terlepas, Zhang Fei dan Yao Mei dengan segera bisa tahu siapakah orang tersebut.


"Pendekar Tangan Dewa!" kata mereka berdua secara bersamaan.


"Ya, ini memang aku. Sekarang semuanya sudah jelas. Jadi, bersiaplah untuk pergi ke alam baka," tegasnya.


"Tunggu dulu, masih ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan," kata Zhang Fei seraya memberikan isyarat dengan tangannya.


"Apa itu?"


"Siapa tiga belas orang ini?"


"Sepuluh orang ini adalah anggota Partai Iblis Sesat. Sedangkan tiga orang sisanya juga masih bagian dari mereka. Hanya saja, yang ini adalah murid seniornya,"


"Apakah kau sedang berdusta?" tanya Yao Mei ikut bicara.


"Aku serius. Aku bicara jujur,"


"Mengapa kau melakukan ini?"


"Aku sengaja. Hitung-hitung hadiah untuk kalian sebelum benar-benar pergi menemui Raja Akhirat,"


Selesai berkata, tiba-tiba Pendekar Tangan Dewa langsung memberikan aba-aba kepada yang lainnya. Begitu melihat tanda tersebut, secara serempak belas orang itu langsung menyerang Zhang Fei dan Yao Mei.


Wushh!!! Wushh!!!


Golok dan pedang sudah dicabut keluar dari sarungnya. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Tujuh orang menyerang Zhang Fei, enam orang sisanya menyerang Yao Mei.


Dua pendekar muda itu tidak jeri. Justru mereka tampak bersemangat. Apalagi, dalam hati masing-masing keduanya ingin mencoba khasiat dari Bunga Mawar Tengah Malam yang baru saja mereka serap.


"Bagus. Kemarilah. Biar Nonamu memberikan pelajaran yang pantas untuk kalian semua," teriak Yao Mei dengan dingin.


Wushh!!!


Dia turut melesat. Di tengah jalan, dirinya langsung mencabut keluar pedang tipis yang merupakan senjata andalannya selama ini.


Begitu berhadapan dengan enam orang musuh, Yao Mei segera memainkan pedangnya dengan lincah dan cekatan.