
Dua pendekar muda itu mengangguk. Beberapa saat kemudian, tiga tokoh dunia persilatan tersebut kemudian segera bekerja sama untuk membuat lubang berukuran besar.
Rencananya, puluhan pendekar dunia persilatan itu akan dikuburkan dalam satu lubang. Selain untuk menghemat lahan, hal ini pun bertujuan untuk menghemat waktu.
Ketiganya terus bahu-membahu menggali tanah sampai diperkirakan cukup. Dengan tenaga dalam dan kelebihan yang mereka miliki, pekerjaan yang seharusnya membutuhkan waktu lama itu, akhirnya selesai dalam waktu kurang lebih selama empat jam saja.
Begitu rampung, ketiganya kemudian pergi dari sana. Mereka langsung turun gunung.
Pada saat tiba di bawah kaki Gunung Lima Jari, saat itu waktu sudah menunjukkan siang hari. Matahari tepat berada di atas kepala. Panasnya yang sangat terik itu terasa membakar kulit.
"Tuan Kiang, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.
"Lebih baik kita mencari rumah makan dulu. Aku merasa sangat lapar sekali," jawab orang tua itu sambil memegangi perutnya.
"Baiklah. Mari kita cari rumah makan,"
Mereka melanjutkan langkah dan mencari rumah makan. Setelah menemukannya, tiga orang itu langsung masuk ke dalam dan segera memesan makanan.
Sekitar satu jam kemudian, ketiganya telah keluar dari dalam rumah makan. Kini masing-masing perutnya terasa kenyang. Tenaga pun sudah kembali pulih seperti sedia kala.
Saat ini, mereka sedang duduk di bawah sebuah pohon cukup besar yang terdapat di pinggir jalan. Tiga guci arak kosong berada tepat di depannya.
"Anak Fei, anak Mei, sepertinya perjalanan kita hanya sampai di sini saja," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan secara tiba-tiba. "Aku harus segera pergi lagi. Sebab masih banyak hal yang harus aku urus,"
Orang tua itu berkata dengan nada serius. Dia tidak sedang berbohong. Tugas yang dibagi-bagi sesama Datuk Dunia Persilatan belum ia selesaikan semuanya. Belum lagi tugas rahasia yang diberikan oleh Ketua Dunia Persilatan.
Maka dari itu, mau tidak mau, terpaksa dirinya harus meninggalkan kedua anak muda tersebut dan kembali melanjutkan perjalannya.
"Ah, baiklah, Tuan Kiang. Aku mengerti apa yang kau maksud," jawab Zhang Fei dengan cepat.
"Sebenarnya aku ingin ikut melakukan perjalanan bersamamu, Tuan. Tapi aku juga tahu hal ini tidak mungkin," kata Yao Mei ikut bicara.
"Suatu saat nanti, hal itu pasti akan menjadi mungkin,"
"Semoga saja,"
Walaupun usia Yao Mei sudah termasuk dewasa, tapi pengalamannya masih sangat minim. Sejak dulu, dia tidak pernah bebas keluar dari rumah. Kalau pun keluar, pasti akan ada orang kepercayaan ayahnya yang selalu mengawasi.
Termasuk juga ketika dulu dirinya berada di Kampung Hitam. Di sana dia tidak sendirian. Ada beberapa orang kepercayaan si Cakar Maut yang selalu menjadi bayangannya.
Hanya saja, terkait hal ini tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Kecuali hanya dia dan Yao Shi sendiri.
"Baiklah, waktu untuk berpisah sudah tiba," Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba bangkit berdiri.
Zhang Fei dan Yao Mei segera mengikutinya. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Tuan, apakah masih ada tugas yang harus aku selesaikan?" tanya anak muda itu tiba-tiba.
"Selesaikan saja tugas penyelidikan terkait perebutan benda pusaka itu, anak Fei. Kalau sudah, baru kau boleh mengembara sambil diam-diam melakukan penyelidikan seperti yang saat ini kami lakoni,"
"Oh, baiklah. Aku mengerti,"
"Bagaimana dengan aku sendiri, Tuan? Apakah ada tugas khusus untukku?" tanya Yao Mei tiba-tiba.
"Kalau soal ini, kalian saja yang atur," jawabnya tersenyum sambil memandangi dua pendekar muda itu secara bergantian.
"Baiklah," jawab keduanya secara bersamaan.
Kini yang ada di sana hanya Zhang Fei dan Yao Mei seorang. Dua orang muda-mudi itu belum ada yang berbicara. Mereka sama-sama tidak tahu harus berkata apa.
Hal itu sebenarnya tidak terlalu aneh. Apalagi menyangkut lawan jenis, keduanya memang belum ada pengalaman sama sekali.
Cukup lama waktu yang terlewatkan. Hingga pada akhirnya Zhang Fei yang berbicara lebih dulu.
"Nona Mei, bagaimana kalau kita mulai mencari informasi tentang perebutan benda pusaka kemarin?"
"Ide bagus. Tapi, ke mana kita harus mencarinya?"
Ditanya demikian, Zhang Fei menjadi kebingungan sendiri. Sebab pada dasarnya dia memang belum tahu apa-apa. Ditambah lagi dirinya tidak mempunyai petunjuk yang pasti.
Jadi, ke mana ia harus mencari informasinya?
"Ah, aku tahu," seru Zhang Fei setelah sekian lama berpikir.
Yao Mei mengerutkan kening. Dia lalu memandang ke arahnya.
"Bagaimana kalau kita mencari orang yang menjual informasi? Aku dengar, di setiap kota besar pasti ada orang yang menjalani profesi ini. Siapa tahu, di Kota Yunnan juga ada,"
"Hemm, benar juga. Baiklah, aku setuju,"
Meraka lalu pergi dari sana dan kembali ke pusat kota. Tujuannya adalah untuk mencari orang yang menjual segala macam informasi. Termasuk juga informasi dunia persilatan.
Pada zaman ini, orang-orang yang menjalani profesi seperti itu memang ada. Walaupun tidak terlalu banyak, tapi rasanya masih bisa ditemukan di beberapa tempat.
Dengan catatan, kita harus punya uang yang banyak untuk membeli setiap informasi yang diberikan oleh orang tersebut.
Biasanya, orang-orang seperti itu dulunya adalah pendekar dunia persilatan yang sudah memutuskan untuk mengundurkan diri. Atau juga, mereka adalah orang yang mempunyai kedudukan penting di masa lalu sehingga memiliki banyak pengetahuan.
Setelah hampir setengah hari mencari, akhirnya usaha yang dilakukan oleh dua orang muda-mudi itu tidak sia-sia. Mereka berhasil menemukan orang yang menjual informasi!
Saat ini keduanya sedang berjalan bersama. Di depan mereka ada pria yang usianya tidak berbeda jauh dari Zhang Fei.
"Apakah tempatnya masih jauh?" tanya Yao Mei kepadanya.
"Tidak, Nona. Sebentar lagi kita akan sampai,"
Pemuda itu berjalan lebih cepat. Setelah melewati jalan yang berbelok-belok, akhirnya ia memasuki sebuah rumah sederhana yang mempunyai halaman cukup luas.
"Silahkan Nona dan Tuan Muda masuk," katanya mempersilahkan.
Keduanya mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sederhana itu. Begitu tiba di tengah ruangan, Zhang Fei dan Yao Mei disambut oleh pria tua yang sedang duduk di sebuah kursi kayu.
Kursi kayu itu sudah lapuk. Orang yang duduk di atasnya juga berusia sangat lanjut. Kalau diperkirakan, mungkin umurnya mencapai tujuh puluh lima tahun.
Ia mengenakan pakaian abu-abu tua. Rambutnya yang sudah memutih diikat oleh kain.
Tidak ada yang aneh dalam penampilannya. Yang aneh justru adalah karena dia duduk membelakangi para tamu yang datang.
"Silahkan duduk, Tuan dan Nona," katanya tanpa menoleh.
Dua orang pendekar muda itu saling pandang. Mereka kaget, padahal si pemuda tidak memberitahukan siapa tamu yang datang.
Namun siapa sangka, rupanya orang tua itu telah mengetahuinya dengan pasti.