
"Anak muda, ternyata kemampuanmu hebat juga. Pantas saja kau berani mencari keributan," kata salah satu dari mereka ketika pertarungan berhenti.
"Ini belum seberapa," jawab Zhang Fei sambil tersenyum sinis. "Aku bahkan bisa melakukan sesuatu yang lebih hebat lagi,"
"Oh, benarkah?" orang tersebut mengangkat alis. Sepertinya dia tidak percaya dengan ucapan barusan.
"Mengapa kau tidak mencobanya saja?"
"Baiklah. Sekarang juga, kami akan melakukannya,"
Dua orang itu segera memegang tabung dalam keadaan siap. Begitu mendapatkan posisi, mereka langsung melepaskan hujan senjata rahasia yang tidak terhitung lagi jumlahnya.
Langit seakan-akan telah dibuat menghitam oleh hujan senjata rahasia itu. Ancaman telah tersedia di depan mata. Nyawa Zhang Fei bisa melayang kapan saja.
Kalau orang lain yang berada di posisinya saat itu, sudah tentu mereka akan panik setengah mati. Bukan hal mustahil pula, dirinya akan melarikan diri.
Sayang sekali, sekarang yang ada di sana adalah Zhang Fei. Sang Ketua Dunia Persilatan!
Ketika dua orang lawannya melepaskan serbuan senjata rahasia, pada saat itulah dia mengambil tindakan.
Zhang Fei tidak mengambil langkah mundur. Dia justru melesat maju ke depan dan bertekad menyambut serangan itu.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Dia berteriak keras. Pedang Raja Dewa digetarkan. Ujung pedang itu bergetar dan menciptakan bayangan yang ikut menangkis serangan lawan.
Benturan nyaring terus terdengar memekakkan telinga. Dua orang lawannya masih berdiri di tempat sambil terus melemparkan jarum-jarum kecil yang mematikan.
Peristiwa tersebut berlangsung cukup lama. Mereka berdua pada akhirnya merasa lelah dengan sendirinya.
Di samping itu, dua orang tersebut juga mengeluh setelah mengetahui usahanya sia-sia.
"Tamatlah riwayat kalian!"
Wutt!!! Crashh!!!
Zhang Fei menerjang ke hadapan musuhnya. Bersamaan dengan gerakan tersebut, dia pun melancarkan sebuah tebasan yang datang dari samping sebelah kanan.
Darah segar menyembur ke tengah udara. Dua orang itu langsung ambruk ke tanah. Nyawa mereka melayang seketika.
Setelah berhasil membunuh keduanya, tanpa berlama-lama lagi, Zhang Fei langsung melesat pergi. Tujuannya saat ini adalah ke markas utama.
Dia ingin langsung melibatkan diri dalam sayembara yang sekarang sedang terjadi.
Pada dasarnya, alasan kenapa Zhang Fei menyerang empat orang itu, adalah karena sebuah alasan yang sangat kuat.
Menurutnya, mereka tentu masih kaki tangan dari orang-orang Kelompok Bintang Langit yang bertugas untuk membunuh para pendekar. Zhang Fei sangat yakin akan hal tersebut. Apalagi, empat orang itu sudah menunjukkan bukti-buktinya sendiri.
Tadi, mereka melesat dan bersembunyi di dahan pohon yang lebih tinggi. Tujuannya tentu saja supaya nanti orang-orang itu bisa melancarkan serangan tiba-tiba lebih leluasa lagi.
Untung saja hal itu diketahui oleh Zhang Fei lebih dulu. Sehingga rencana mereka bisa digagalkan.
Itu artinya, secara tidak langsung, Zhang Fei juga telah menyelamatkan puluhan nyawa pendekar Kekaisaran Song.
Sekarang, dirinya sudah tiba di halaman yang luas itu. Kebetulan di tengah-tengah mimbar, pertarungan sudah selesai.
Di sana terlihat ada seorang pendekar yang sedang terkapar bersimbah darah. Di hadapannya sendiri ada seorang pria bertubuh tinggi besar dengan wajah sangar. Ia tertawa melihat ada orang sekarat karena ulahnya.
"Hayoh, siapa lagi yang berani bertarung denganku? Siapa yang bisa bertahan tiga puluh jurus, maka orang itu akan diangkat menjadi petinggi Kelompok Bintang Langit," kata orang itu dengan suara lantang menggelegar.
Beberapa saat dia menunggu, namun sayangnya tidak ada seorang pun yang berani maju ke depan.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba sekelebat bayangan terlihat. Satu tarikan nafas kemudian, di atas mimbar sudah bertambah satu orang.
Orang itu bertubuh tinggi kekar. Rambutnya yang hitam panjang, digelung sedikit. Ia mengenakan pakaian biru bercorak hitam. Selain hal tersebut, orang itu juga terlihat mengenakan topeng penutup muka.
"Apakah kau bisa menyebutkan namamu, Tuan pendekar?" tanya orang itu berusaha bersikap ramah.
"Panggil saja Pendekar Pedang dari Selatan," jawabnya dengan tegas.
"Oh, aku merasa baru mendengar julukan tersebut,"
"Ah, aku bukan orang yang terkenal. Ikut sayembara ini pun hanya mencari keuntungan saja," Zhang Fei menjawab sambil tertawa ringan. Deretan gigi putih yang rapi segera terlihat.
"Hahaha ... baiklah, baiklah. Aku rasa, kau sudah tahu peraturan sayembara ini, bukan?"
"Ya, aku sudah tahu. Kalau aku kalah, bunuh saja langsung,"
"Kau serius?"
"Aku serius,"
"Baiklah. Jangan pernah menyesal dengan ucapanmu ini,"
Orang tersebut menarik muka. Dia langsung murka setelah mendengar ucapan yang dianggapnya sombong tersebut.
"Lihat pedangku!" dia berteriak keras. Tubuhnya melompat ke depan sambil melayangkan tebasan beruntun.
Baru saja turun tangan, orang itu sudah mengambil tindakan keras. Dia tidak main-main dengan pertarungan tersebut. Bahkan sekarang pun dirinya telah mengeluarkan jurus-jurus pedang yang cepat dan keji.
Zhang Fei tersenyum dingin. Sembari melakukan hal itu, dia pun mulai mengambil langkah. Tubuhnya berkelit ke sana kemari. Kedua kakinya bergeser untuk menghindari setiap tebasan atau tusukan pedang yang diberikan oleh lawan.
Selama sepuluh jurus orang itu terus menyerang, tapi sayangnya tidak ada satu pun serangan yang berhasil mengenai sasaran.
Lama kelamaan dia menjadi gemas sendiri. Selama ini, dirinya jarang menemui kegagalan. Bahkan pertarungan yang sebelumnya dia langsungkan, hampir semuanya berjalan dengan mulus.
Siapa sangka, sekarang ia telah bertemu dengan lawan tangguh. Meskipun jurus-jurus yang dikeluarkan semakin banyak dan bervariasi, tapi hasilnya tetap nihil.
"Tuan pendekar, mengapa kau masih belum juga menyerang? Pertarungan ini sudah mencapai lima belas jurus. Sedangkan waktunya saja hanya sampai tiga puluh jurus," kata orang tersebut sambil menghentikan pertarungannya sebentar.
"Ah, tenang saja. Aku masih ingin bertahan," jawab Zhang Fei dengan enteng.
"Hemm ... kalau tidak membalas sekarang juga, itu artinya kau telah memandang rendah diriku," ucapnua dengan nada kesal.
"Baiklah, baiklah. Jika itu maumu, aku akan segera mengabulkannya,"
Wutt!!!
Zhang Fei menerjang lawannya. Dia melancarkan beberapa kali tebasan pedang dengan cepat dan ganas. Awalnya, orang itu masih bisa bertahan tadi serangan tersebut.
Tapi semaunya berubah setelah Zhang Fei mengeluarkan salah satu jurus andalannya.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Wutt!!! Wutt!!! Trangg!!
Benturan antar pedang terdengar. Percikan bunga api meletup dan terbang tinggi. Hawa pedang yang dihasilkan dari jurus itu terasa menekan arena pertarungan.
Orang yang menjadi lawan Zhang Fei menggertak gigi. Dia mulai kewalahan dengan serangan yang tidak pernah berhenti itu.
Trangg!!!
Benturan paling keras terjadi. Pedang milik orang itu seketika patah menjadi dua bagian. Kutungan ujung pedangnya terlempar jauh. Gagang pedangnya sendiri masih digenggam di tangan kanan.
Srett!!!
Zhang Fei tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melancarkan serangan terakhirnya dengan cara menorehkan luka tebasan pedang tepat di langkah lengan lawannya.
Darah segar mengucur dari mulut luka. Dia menampilkan wajah pucat pasi seperti mayat.