
Zhang Fei tidak segera menjawab. Sekarang dia sendiri sedang bingung. Bukan karena takut, melainkan karena dia tidak mau membuat masalah baru.
Baginya, rangkaian jurus pedang dalam Kitab Pedang Dewa sangat mematikan. Semua jurus itu tidak bisa dibuat main-main. Apalagi pedang pusaka miliknya, pedang warisan yang sempat menjadi incaran kaum persilatan itu selalu meminta korban apabila dikeluarkan dari sarungnya.
Dan Zhang Fei tidak mau melakukannya. Bukan karena ia merasa diri sudah hebat, tapi di satu sisi, ia sendiri yakin bisa dan mampu mengalahkannya.
Cukup lama ia berpikir. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan matang-matang.
Dia tidak mau membunuh Luo Sun, apalagi usianya masih muda. Masa depannya masih panjang. Malah tidak mustahil pula, dunia persilatan membutuhkan para pendekar muda sepertinya. Kalau memang ia berasal dari aliran putih atau lurus.
Tapi di sisi lainnya, kalau Zhang Fei tidak menerima tantangan itu, maka secara tidak langsung ia telah kehilangan muka. Kehilangan harga diri.
Seperti yang sudah sering diceritakan sebelumnya, bagi orang-orang persilatan seperti mereka, harga diri itu sangat penting. Malah lebih penting dari nyawanya sendiri.
Jadi, pilihan mana yang harus dia ambil? Apakah ia harus menerima tantangannya? Ataukah menolaknya dengan berbagai macam alasan?
"Zhang Fei, kenapa kau diam saja? Apakah kau takut, dan tidak berani menghadapi aku? Hemm ... kalau begitu, berarti kabar yang tersebar hanya omong kosong saja," ujar Luo Sun setelah dia lama berdiam.
Mendengar ucapan tersebut, seketika Zhang Fei merasakan darahnya mendidih. Ia tidak bisa menerima hal itu begitu saja.
"Takut? Kenapa aku harus takut kepadamu? Aku bukan takut menghadapimu, aku hanya takut setelah berhasil mengalahkanmu, malah akan menambah masalah baru," ujarnya sambil tersenyum dingin.
"Jangan khawatir, kedatanganku kemari murni karena keinginan diri sendiri. Tidak ada campur tangan orang lain,"
"Oh, benarkah?"
"Tentu saja," Luo Sun membalas senyuman dingin Zhang Fei. "Jadi bagaiamana, kau berani menerima tantanganku?"
"Baik. Aku menerimanya, kapan kita akan bertarung?"
"Sekarang,"
"Di mana?"
"Di sini," Luo Sun menjawab sambil menunjuk tanah yang ia injak.
Zhang Fei terdiam sebentar. Ia memandang ke sana kemari. Kebetulan, dirinya melihat ada sebuah wuwungan (atap) yang cukup luas. Letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Tuan, apakah itu atap kuil?" tanya Zhang Fei sambil melirik kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Benar. Itu kuil yang sudah lama tidak terpakai," jawabnya sambil mengangguk.
"Baiklah," Zhang Fei menoleh kembali ke arah Luo Sun. "Bagaimana kalau kita bertarung di atas wuwungan kuil itu?" tanyanya sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.
Luo Sun turut memandang. Dia sendiri sedikit kaget, ia tidak menyangka bahwa orang yang ditantangnya akan mengajak bertarung di tempat seperti itu.
"Bagaimana? Kau tidak berani?" Zhang Fei bicara lagi dengan sindiran tajam.
"Siapa bilang? Tentu saja aku berani," kata Luo Sun.
Dua pasang mata saling pandang. Percikan api yang tak kasat mata segera terjadi.
"Kalau begitu, mari kita segera ke sana," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Mereka kemudian berjalan bersama ke arah kuil yang terbengkalai itu. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka hanya sebentar saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian, Zhang Fei dan Luo Sun sudah naik ke atas wuwungan. Mereka hanya terpisah dalam jarak sekitar tujuh langkah.
Dua Datuk Dunia Persilatan menyaksikan duel itu dari wuwungan yang jaraknya cukup jauh. Mereka tidak menghalangi niat dua orang pendekar muda itu.
Bukan karena tidak perduli, melainkan karena mereka sendiri paham bagaimana kejam dan kerasnya hidup di dalam dunia persilatan. Apalagi, keduanya juga pernah melewati semua hal-hal tersebut.
Saat ini, kedua pendekar muda itu sudah berada dalam keadaan siap. Masing-masing tinggal menunggu komando dari Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Mulai!"
Akhirnya komando yang ditunggu-tunggu sudah didengar. Tepat pada saat itu, dua pendekar muda tersebut langsung bergerak dengan sangat cepat ke arah yang berlawanan.
Wutt!!! Wutt!!!
Bayangan kebiruan dan kemerahan sudah melesat secepat kilat. Di tangan kanan keduanya sudah tergenggam sebatang pedang yang tidak perlu diragukan lagi ketajamannya.
Trangg!!!
Benturan pertama terjadi. Percikan api langsung terbawa oleh angin malam.
Keduanya mementalkan masing-masing senjata lawan. Tidak lama kemudian, mereka kembali melakukan serangan.
Luo Sun sudah mulai mengeluarkan jurus pedangnya. Jurus pedangnya ternyata sangat sederhana. Malah tidak ada variasi atau kembangan di dalam setiap gerakannya.
Tapi meskipun seperti itu, jurus pedang sederhana tersebut justru malah terlihat semakin mematikan. Sebab setiap titik yang dia incar adalah titik paling berbahaya di tubuh manusia.
Pedang pusaka Luo Sun berkelebat cepat membawa hawa pedang yang tidak bisa dibendung. Sinar putih kemilau yang membentuk bianglala segera menyelimuti seluruh tubuh Zhang Fei.
Ia terus menyerang sambil mencari titik kelemahan lawan.
Dalam pada itu, Zhang Fei juga tidak mau main-main. Apalagi dari awal dia sudah tahu bahwa Luo Sun ini sebenarnya bukan pendekar muda biasa. Kemampuan yang dia miliki pasti sudah berada di atas rata-rata dari para pendekar seumurannya.
Kalau tidak seperti itu, bagaiamana mungkin ia berani datang dari tempat jauh dan melakukan tantangan terbuka?
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Jurus Pedang Menghancurkan Langit sudah ia gelar dengan pengerahan tenaga lima bagian.
Adu jurus di antara mereka segera terjadi. Pertarungan pendekar pedang muda itu semakin berjalan seru dan sengit. Percikan api tidak pernah berhenti. Seperti juga benturan suara keras yang tidak pernah usai.
Gerakan tubuh Zhang Fei semakin cepat. Begitu juga dengan jurus pedangnya.
Luo Sun meningkatkan tenaga dan konsentrasinya. Ia malah segera mengeluarkan lagi jurus pedang yang lebih hebat.
Duel di antara mereka sungguh mengagumkan. Bahkan sampai membuat terbengong dua Datuk Dunia Persilatan yang ada di sana.
Belasan jurus sudah berlalu. Pergerakan mereka semakin tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Trangg!!!
Benturan paling keras dari semua benturan sebelumnya tiba-tiba terdengar. Benturan itu terjadi tepat setelah pertarungan berlangsung selama tiga puluh jurus.
Dua orang pendekar muda yang terlibat langsung menghentikan gerakannya masing-masing.
Di sana, terlihat ada Zhang Fei yang sedang berdiri tegak seperti sebatang tombak yang ditancapkan sangat dalam ke dasar bumi. Pedang Raja Dewa dijulurkan ke depan, tepat di tenggorokan Luo Sun. Jarak antara pedang dan leher sudah sangat dekat. Mungkin hanya terpaut setengah jari.
Sementara Luo Sun sendiri, sekarang dia berada dalam keadaan terduduk. Pedang pusaka miliknya jatuh tepat di sisi.
"Kau kalah!" kata Zhang Fei dengan nada dingin.
Sembari berkata, dia pun segera menarik kembali pedangnya dan langsung dimasukkan lagi ke sarungnya.
"Malam ini, aku telah melanggar kebiasaan dari pedangku yang selalu meminta korban apabila dicabut keluar," katanya melanjutkan. "Sekarang pergilah,"
Zhang Fei langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah dua Datuk Dunia Persilatan.