
Alasannya karena dia tahu bahwa serangan tersebut mengandung racun. Biasanya, racun dari seorang tokoh kelas atas seperti nenek tua itu, bukanlah racun sembarangan.
Zhang Fei tahu itu, karenanya dia tetap harus berkonsentrasi.
Wutt!!! Wungg!!! Wungg!!!
Suara mendengung seperti ribuan lebah segera terdengar ketika Nenek Bungkuk Beracun menambah kecepatan serangannya.
Pertarungan dua tokoh kelas atas tersebut juga disaksikan oleh para Datuk Dunia Persilatan. Saat ini mereka sedang berdiri di pinggir arena.
Sembari memperhatikan keduanya, tidak lupa juga sesekali mereka melirik ke arah Fu Wei yang sejak tadi berdiri mematung karena terpukau dengan pertarungan tersebut.
Suasana di sana hening. Di antara kelima orang tua itu belum ada yang berbicara. Masing-masing sedang fokus memperhatikan pertarungan sengit yang masih berlangsung tersebut.
"Dua orang tua itu bukan tokoh sembarangan. Mereka juga mempunyai teman yang ditakuti lawan disegani kawan," kata Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba berbicara.
Ucapannya barusan mengejutkan Empat Datuk Dunia Persilatan yang lain. Mereka segera menoleh. Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung mengajukan pertanyaan.
"Siapa teman dari keduanya?"
"Aku tidak tahu secara keseluruhan," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan cepat. "Hanya saja, yang pasti mereka berdua juga berteman baik dengan Biksu Sembilan Nyawa Kong Bai,"
"Apa? Jadi ... mereka adalah teman dari biksu sesat itu?" Orang Tua Aneh Tionggoan yang mendengarnya juga langsung terkejut. Dia tidak menyangka akan hal ini.
"Benar, mereka sering melakukan perjalanan bersama,"
"Hemm ... kalau begitu, kira-kira mengala mereka berdua berani mengintip pembicaraan kita tadi? Apakah keduanya diperintah oleh Biksu Sembilan Nyawa? Atau memang ... mereka berdua sudah menjadi kaki tangan orang lain?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan sangat penasaran. Menurutnya, tidak mungkin kedua tokoh angkatan tua itu mau menyusup ke Gedung Ketua Dunia Persilatan kalau bukan demi sesuatu yang penting.
Dia menduga, kalau bukan karena mempunyai rencana sendiri, pastilah mereka telah bekerja dengan orang lain.
"Untuk saat ini, aku belum mengetahuinya. Aku tidak mempunyai jawaban terkait pertanyaanmu," sahut Pendekar Pedang Perpisahan. Ia segera melanjutkan lagi bicaranya setelah berganti nafas. "Yang pasti, kedua dugaanmu barusan, semuanya bisa terbukti,"
"Benar. Aku juga berpikir demikian," kata Orang Tua Aneh Tionggoan menimpali.
Obrolan di antara para tokoh angkatan tua itu segera selesai. Mereka berniat untuk melanjutkan pembahasannya lagi di lain waktu.
Sekarang, orang-orang itu kembali fokus ke pertarungan Zhang Fei yang sedang melawan Nenek Bungkuk Beracun.
"Menurut kalian, apakah Ketua Fei benar-benar bisa mengalahkannya dalam waktu empat puluh jurus?" tanya Dewi Rambut Putih tiba-tiba bicara.
Dia khawatir Zhang Fei tidak bisa membuktikan ucapannya. Lebih dari itu, Dewi Rambut Putih takut bahwa Zhang Fei tidak bisa bertahan sampai waktu yang telah ditentukan.
Alasan kenapa ia sampai khawatir adalah karena selama berjalannya pertarungan, Zhang Fei selalu berada di posisi terdesak. Dia tidak pernah memberikan serangan balasan kecuali hanya sedikit.
Meskipun memang, ia belum menderita luka yang parah, tapi kalau terus-menerus diserang, rasanya hal-hal tak diinginkan pun bisa segera terjadi.
"Jangan terlalu khawatir, Nyonya Ling," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Apakah kau lupa bahwa Ketua Fei sangat senang mempermainkan sekaligus menguras tenaga lawannya?"
Orang tua itu percaya dengan kemampuan Zhang Fei. Apalagi setelah beberapa waktu lalu dia melakukan latihan tertutup.
"Aku tahu, tapi, lihatlah ..." Dewi Rambut Putih menunjuk ke arena pertarungan.
Di sana, terlihat bahwa Nenek Bungkuk Beracun semakin berada di atas angin. Tongkat yang dia miliki bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Zhang Fei mulai kewalahan. Hingga pada akhirnya, sapuan tongkat nenek tua itu berhasil melemparkan Zhang Fei ke pinggir.
Bukk!!!
Tongkat itu mengenai tulang rusuk sebelah kanan. Ketua Dunia Persilatan bergulingan beberapa kali. Dia merasa tulang rusuknya seperti remuk setelah dihantam oleh tongkat tersebut.
"Hahaha ... lihatlah, baru mencapai dua puluh jurus pun, kau sudah tidak sanggup menghadapi jurus-jurusku. Ini belum seberapa, lalu ... bagaimana kalau aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuan?"
Nenek Bungkuk Beracun melemparkan senyuman mengejek. Dia mengira bahwa Zhang Fei sudah benar-benar kalah di tangannya.
Sementara di sisi lain, ketika melihat Zhang Fei terlempar, pada saat itu Dewi Rambut Putih sudah siap melompat ke arena pertarungan.
Dia berniat untuk memberikan bantuan kepadanya. Namun dengan cepat ditahan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Janga ikut campur, kita hanya bertugas menonton saja,"
"Tapi ..."
"Tenang, Nyonya Ling. Ketua Fei sengaja memberikan kesenangan kepada nenek tua itu. Tujuan lainnya adalah karena dia sedang mengukur sampai di mana kemampuan lawan. Selain itu, dia pun sedang mencari celah serta waktu yang cocok untuk membalikkan keadaan," kata Pendekar Pedang Perpisahan berkata dengan nada dalam dan penuh keyakinan.
Dia sangat yakin akan hal tersebut. Diam-diam, ia terbayang kembali akan pertarungannya melawan anak muda itu.
Saat itu, apa yang dilakukan Zhang Fei, persis seperti yang terjadi saat ini.
Dia sengaja banyak mengalah dan memilih posisi bertahan, tujuan supaya ia bisa membaca gerakan musuh dan juga mencari titik kelemahannya.
Tiga Datuk Dunia Persilatan lainnya juga menganggukkan kepala ketika mendengar ucapan Pendekar Pedang Perpisahan.
Mereka pun setuju akan hal tersebut.
"Benar apa katanya, Nyonya Ling. Jadi, kau tetaplah di sini dan kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Ketua Dunia Persilatan," ucap Pendekar Tombak Angin ikut berbicara.
"Baiklah," Dewi Rambut Putih mengangguk sebagai tanda setuju. "Aku akan menuruti apa kata kalian. Tapi kalau sampai terjadi hal-hal tak diinginkan terhadap Ketua Fei, kalian harus menanggung sendiri akibatnya," ia melanjutkan bicaranya dengan nada datar.
Tapi dalam pada itu, orang-orang yang ada di sisinya tahu bahwa Dewi Rambut Putih sedang berlaku serius. Ia tidak sedang bercanda.
Sementara di arena pertarungan, sekarang Zhang Fei sudah kembali bangkit berdiri. Ia telah mengobati tukang rusuknya dengan bantuan hawa murni dan tenaga dalam. Saat ini, ia sedang menatap kepada lawannya.
"Harus aku akui, kau memang bukan lawan yang mudah untuk dihadapi, Nenek Bungkuk Beracun," kata Zhang Fei bicara dengan nada dalam. "Tapi, setiap seranganmu masih terdapat cukup banyak kekurangan dan celah kosong. Orang lain mungkin tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa,"
"Hahaha ... omong kosong! Kalau memang benar apa yang kau ucapkan itu, coba buktikan sekarang juga," Nenek Bungkuk Beracun menantang Zhang Fei untuk segera membuktikan ucapannya.
"Baiklah. Kalau memang itu maumu, aku akan mengabulkannya,"
Sringg!!!
Pedang Raja Dewa langsung ia cabut dari sarungnya. Hawa pedang yang tajam segara terasa pekat memenuhi arena pertarungan. Kilatan batang pedang yang mengeluarkan cahaya putih keperakan mampu terlihat untuk sesaat.