Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mencari Markas Organisasi Bulan Tengkorak


"Menurut informasi yang aku dapat memang demikian,"


Pek Ma mengangguk-anggukan kepalanya.


Kalau para bantuan itu mempunyai kemampuan yang tinggi, pasti pertempuran yang akan berlangsung besok tengah malam, akan berlangsung dengan sangat sengit.


"Lalu, apakah kau juga tahu di mana markas Organisasi Bulan Tengkorak?" tanya orang tua itu lebih jauh.


"Aku belum tahu pasti, Ketua," kata Pek Ciu. "Tapi ada yang bilang, markas utama organisasi itu terletak di tengah-tengah hutan terbesar di Kota Luoyang ini,"


Pek Ma mengerutkan kening. Ia masih merasa sangsi dengan informasi tersebut.


"Apakah informasi itu dapat dipercaya?


"Aku tidak bisa menjamin. Hanya saja, informasi ini aku dapatkan dari salah satu petinggi Partai Gunung Pedang ketika mereka berada di sebuah rumah makan,"


"Hemm, kalau begitu kita patut mencobanya,"


Yang lain saling pandang. Kemudian Pek Sin segera bertanya sebagai wakil dari rekan-rekannya.


"Mencoba apa, Ketua?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Mencoba untuk membuktikan apakah informasi itu benar atau tidak,"


"Apa?"


Lima orang yang ada di kamar itu bertanya secara bersamaan. Tentu sama semua orang merasa kaget setengah mati. Sebab apa yang diucapkan oleh Pek Ma barusan, sama saja dengan mencari mati.


Organisasi Bulan Tengkorak adalah sebuah organisasi bawah tanah yang sangat berbahaya dan rahasia. Di sana pun pastinya terdapat banyak tokoh-tokoh kelas atas yang sulit dicari tandingan.


Kalau mereka memaksa pergi ke sana, meksipun hanya untuk menyelidiki, bukankah hal itu terlampau berbahaya? Bukankah itu bisa dikatakan dengan bunuh diri?


"Kenapa kalian semua terkejut?" tanya Pek Ma sambil memandang ke arah mereka.


Orang tua itu bertanya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa. Seakan-akan ia adalah anak kecil yang bertanya dengan wajah polosnya.


"Guru ..." sebelum yang lain menjawab, terdengar Zhang Fei telah bicara lebih dulu. "Untuk apa kita pergi ke sana sekarang? Bukankah nanti, kita bisa mengikuti Partai Gunung Pedang dari belakang? Aku rasa hal itu jauh lebih aman,"


"Apa yang dikatakan oleh anak Fei memang benar, Ketua. Daripada kita bergerak lebih dulu, mending kita tunggu yang lain saja," ucap Pek Gi membenarkan perkataan Zhang Fei.


"Benar, Ketua. Lebih baik, kita jangan menyerempet bahaya. Bagaimanapun juga, markas Organisasi Bulan Tengkorak adalah sarangnya naga goanya harimau. Di sana banyak berdiam tokoh-tokoh kelas atas,"


Pek Ji, orang yang paling pendiam di antara Lima Malaikat Putih akhirnya ikut bicara juga.


Dia pun sependapat dengan yang lain. Orang itu menganggap bahwa niat Ketuanya ini terlampau berbahaya.


"Eh, kenapa kalian semua takut? Apakah orang-orangku ini, telah berubah menjadi pecundang?" tanyanya sambil memandang berkeliling.


"Bukan begitu, Ketua. Tapi coba kau pikirkan lagi baik-baik. Tindakan ini benar-benar berbahaya. Akibat yang akan ditimbulkan apabila kita melakukan kesalahan pun, tidak main-main," tukas Pek Gi ikut nimbrung pula.


Si Telapak Tangan Kematian Pek Ma memasang raut wajah yang tidak senang. Ia segera menyambar arak yang kebetulan berada di atas meja.


Setelah menengguk beberapa kali, ia bicara lagi.


"Terserah kalian saja. Yang jelas, besok saat malam hari baru tiba, aku akan pergi ke markas Organisasi Bulan Tengkorak. Aku ingin menyelidiki dan mencari tahu di mana letak markas itu pastinya. Karena menurut dugaanku, markas organisasi itu tidak mudah dicari seperti apa yang kita bayangkan,"


Orang tua itu tetap bersikeras dengan tujuannya. Ia tidak mau mendengar ucapan Zhang Fei dan yang lainnya.


Memang benar, alasan kenapa ia berniat begitu bukan karena tidak ada tujuan. Hal itu dilakukan justru karena ada tujuan pasti.


Kalaupun markas itu tidak berada di suatu tempat yang sulit ditemukan, pastinya di sekitar sana terdapat banyak sekali para penjaga yang selalu bertugas setiap saat.


"Aku berniat pergi lebih dulu ke sana tak lain adalah karena ingin mempermudah perjuangan pihak Partai Gunung Pedang," katanya setelah beberapa membungkam mulut.


"Maksud Ketua?"


"Menurut pendapatku, markas organisasi itu pasti berada di tempat yang sulit untuk dijangkau. Kalaupun tidak seperti itu, pasti di sekitar sana ada banyak penjaga yang siap bergerak apabila ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan jumlah penyerang yang lumayan banyak, bukankah hal tersebut akan mempermudah lawan untuk membaca situasi?"


Pek Ma akhirnya mengemukakan pendapat kepada mereka. Hal ini bertujuan supaya anak buah dan muridnya mengerti kenapa ia ingin bergerak lebih dulu.


"Kalau kita yang pertama ke sana, kita bisa bergerak dengan bebas dan leluasa. Apalagi jumlah kita yang tidak seberapa ini. Apakah kalian mengerti?" tanyanya melanjutkan.


Sekarang setelah mendengar penjelasan darinya, lima orang yang ada di sana pun segera menganggukkan kepalanya.


"Kalau itu tujuan Ketua, maka tentu saja kami pun setuju. Kami akan ikut pergi ke sana," kata Pek Cin menjawab dengan cepat.


"Benar, aku juga akan ikut, guru," kata Zhang Fei ikut bicara.


Orang tua itu kemudian tertawa cukup lantang. Ia menenggak arak lagi, setelah arak masuk ke dalam perut, Pek Ma segera bicara.


"Bagus kalau kalian setuju. Jika demikian, besok sore saat matahari tenggelam, kita mulai bergerak,"


"Baik. Kami mengerti,"


Setelah pembicaraan selesai, orang-orang itu kemudian segera beristirahat di dalam satu kamar.


Kebetulan, kamar yang disewa itu berukuran cukup besar. Sehingga muat untuk dipakai tidur berenam. Meskipun memang mereka tidak bisa bebas bergerak.


Pagi harinya, setelah Zhang Fei dan Lima Malaikat Putih membersihkan dirinya masing-masing, mereka pun segera membayar biaya tidur sekaligus mencari warung makan untuk melangsungkan sarapan.


Setelah selesai, enam orang itu kembali melakukan perjalanan. Mereka mengelilingi Kota Luoyang sembari menunggu sore hari tiba.


Begitu matahari sudah berada di ufuk barat dan sebentar lagi akan tenggelam, barulah keenam orang itu melakukan persiapan.


Mereka akan pergi mencari markas Organisasi Bulan Tengkorak!


"Hutan mana yang dimaksud menjadi tempat berdirinya markas itu?" tanya Pek Ma kepada anak buahnya.


"Hutan di sana itu, Ketua," jawab Pek Ciu sambil menunjuk ke arah barat.


"Hemm, baiklah. Mari kita pergi ke sana,"


Mereka kemudian menuju ke hutan yang berada di sebelah barat. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi, tentu saja jarak untuk ke sana bisa dipersingkat.


Enam bayangan manusia berkelebat bagaikan angin yang berhembus. Pek Ciu berada di posisi paling depan. Ia bertugas sebagai penunjuk jalan.


Setelah tiba di mulut hutan, Pek Ciu tampak memandang ke tempat sekelilingnya dulu. Ia mencari jalan yang terbaik untuk masuk ke sana.


"Lewat sini," kata Pek Ciu.


Yang lain segera mengikuti. Mereka melesat lagi di dalam hutan belantara yang sangat luas itu.


"Apakah tempatnya masih jauh, guru?" tanya Zhang Fei di tengah perjalanan.


"Menurutku tidak. Sebentar lagi kita akan segera sampai,"