Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pecundang


Sebagai orang yang mengerti akan ilmu silat, tentu saja Jenderal Gu juga bisa mengukur sampai di mana kemampuan diri sendiri. Menurut apa yang dia alami barusan, Zhang Fei memang bukan lawan yang sepadan baginya.


Walaupun usianya masih muda, tapi kemampuannya benar-benar tidak bisa dipandang sebelah mata.


'Pantas saja Tuan Wu sangat memandang tinggi bocah keparat ini. Rupanya dia benar-benar hebat,' batin Jenderal Gu sambil memandang ke tengah-tengah halaman.


Dari sini, dia mulai sadar. Kalau sampai terus bertarung, hal itu rasanya percuma. Malah yang ada akan membahayakan nyawa sendiri.


Berpikir sampai di situ, Jenderal Gu langsung memutuskan untuk mengeluarkan jurus terakhir.


Jurus seribu langkah!


'Lari! Aku harus lari,'


Dia sudah bertekad bulat. Setelah merasa situasinya aman, tanpa banyak membuang waktu lagi, Jenderal Gu langsung pergi dari tempat itu.


Wushh!!!


Ia melesat bagai bayangan setan. Baru sesaat saja Jenderal Gu sudah lenyap ditelan malam yang gelap.


Sementara itu, bersamaan dengan hal barusan, di tengah-tengah halaman juga sedang terjadi pertarungan yang sangat sengit. Tiga pendekar sesat itu masih tampak mengeroyok Zhang Fei dengan jurusnya masing-masing.


Dari kanan ada sebatang kapak yang berkelebat tiada henti. Dari kiri ada sebatang trisula yang terus melancarkan tusukan ke setiap titik di tubuhnya.


Sedangkan dari arah depan, ada lagi sebatang tongkat yang siap menghantam kepalanya sampai remuk.


Tiga pendekar itu menyerang silih berganti. Berbagai jurus dahsyat yang mereka andalkan selama ini sudah digelar. Namun sayangnya Zhang Fei terlalu hebat. Sehingga sehebat apapun jurus-jurus mereka, dia tetap mempunyai cara untuk melepaskan dirinya.


Tubuhnya seperti angin yang tidak bisa disentuh. Serapat apapun tiga macam serangan pendekar sesat itu, mereka tetap tidak mampu menyentuhnya.


Dalam pada itu, ketika pertempuran tersebut sedang berlangsung sengit, mereka sendiri juga mengetahui terkait kepergian Jenderal Gu. Tiga orang pendekar sesat seketika merasa marah, sebab ternyata Jenderal Gu tak lebih dari seorang pecundang.


"Keparat jahanam. Dia malah pergi melarikan diri," kata Pendekar Trisula Merah menggeram marah.


"Kalau aku masih bisa bertahan hidup, aku bersumpah akan mencari dan memenggal kepalanya," sahut pendekar sesat yang mengenakan senjata tongkat.


"Aku menyesal karena telah berkomplot dengan pecundang seperti dia,"


Mereka terus menggerutu di tengah-tengah pertarungan. Akibat dari hal tersebut, jurus dan serangannya mulai tidak karuan.


Hal itu tidak dibuang sia-sia oleh Zhang Fei. Saat mendapatkan kesempatan yang sangat baik, tiba-tiba saja dirinya membentak nyaring.


Pedang Raja Dewa langsung bergetar dengan keras. Tongkat milik lawannya seketika terlempar jauh ke belakang.


Srett!!!


Darah segar menyembur keluar. Orang itu seketika langsung ambruk ke atas tanah karena lehernya ditebas oleh Zhang Fei hingga hampir putus.


Selesai membunuh satu orang lawan, dia kembali melanjutkan serangannya. Kali ini pendekar bersenjata kapak yang menjadi sasaran.


Pertarungan sempat berlangsung beberapa saat. Kapak itu mengeluarkan cahaya perak setiap kali digerakkan olehnya.


Benturan nyaring terus terdengar tiada henti. Sekitar sepuluh jurus kemudian, Zhang Fei kembali berhasil mencabut nyawanya.


Pedang pusaka tersebut berhasil menembus jantungnya. Orang itu tercengang, seolah-olah dirinya tidak percaya dengan kematian sendiri.


Brukk!!!


Sekarang, yang tersisa hanyalah Pendekar Trisula Merah saja. Ia benar-benar kaget dengan kemampuan Zhang Fei. Di sisi lain, dia pun ikut merasa takut pada saat menyaksikan bagaimana kematian dua orang rekannya tersebut.


Pertarungan di antara mereka berhenti sebentar. Pendekar Trisula Merah melompat mundur ke belakang sejauh tiga langkah.


Selain untuk mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga kembali, hal tersebut juga sengaja dia lakukan untuk sekedar menghilangkan rasa takut yang telah menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Anak muda, kemampuanmu benar-benar hebat," katanya mengakui. "Jujur saja, setelah bertarung sampai sejauh ini, aku jadi tidak punya keyakinan bisa mengalahkanmu,"


Zhang Fei tersenyum dingin. Kemudian dia baru menjawab. "Terimakasih atas pujianmu. Tapi penyesalanmu itu sudah tidak ada artinya lagi. Sebab aku tidak akan pernah membiarkan pengkhianat bangsa terus hidup di muka bumi ini,"


"Ya, aku tahu. Aku menyadari hal itu," ujar Pendekar Trisula Merah menganggukkan kepalanya tiga kali.


Ia kemudian menghela nafas berat beberapa kali. Setelah cukup lama terdiam, Pendekar Trisula Merah bicara lagi.


"Usiamu masih sangat muda. Perjalanan hidupmu juga masih panjang. Tapi, mengapa kau malah memutuskan untuk terlibat dalam persoalan pelik ini?" tanyanya lebih jauh lagi.


"Aku terlahir dari keluarga pendekar yang membela kebenaran. Sebagai penerus, tentu saja aku harus melanjutkan perjuangan kedua orang tua dan para leluhurku yang belum tercapai. Lagi pula, selaku pribumi asli, sudah menjadi kewajiban untuk membela tanah airnya,"


"Kau benar. Apa yang kau ucapkan memang tidak salah," kata Pendekar Trisula Merah. "Kalau begitu, aku akan sangat rela apabila harus mati di tanganmu,"


Zhang Fei sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Pendekar Trisula Merah mampu berkata seperti itu.


"Mengapa kau sudah berpikir seperti itu?" tanyanya penasaran.


"Karena aku sudah menyadari bahwa kemampuanmu lebih tinggi,"


Anak muda itu tidak memberikan komentar. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Sekarang, mari kita selesai pertarungan ini,"


Pendekar Trisula Merah kembali memasang kuda-kuda. Setelah persiapan selesai, dengan segera dia menyerang lagi.


Zhang Fei sendiri sudah siap sejak tadi. Maka dari itu ketika melihat Pendekar Trisula Merah menyerang ke arahnya, dia langsung melakukan hal serupa. Zhang Fei menerjang ke depan dan berniat untuk menyambut serangan lawan.


Trangg!!!


Dua senjata pusaka bertemu di tengah jalan. Percikan api muncul dan melayang terbawa angin. Belum selesai satu tarikan nafas, mereka sudah kembali melancarkan serangan lanjutan.


Kali ini Pendekar Trisula Merah sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang tersisa. Setiap serangannya bertambah cepat dan berbahaya.


Namun di satu sisi, Zhang Fei juga tidak mau terus mengalah. Dia mulai membalas serangan lawan menggunakan jurus-jurus pedang miliknya.


Lewat lima belas jurus kemudian, posisi Pendekar Trisula Merah semakin terdesak. Tenaga dalam setiap serangannya mulai berkurang. Gerakannya mulai melambat. Sekitar lima jurus kemudian, Pedang Raja Dewa akhirnya dengan telak menembus ulu hatinya.


Slebb!!!


"Su-sungguh jurus yang sangat cepat," katanya dengan lemah.


Selesai berkata seperti itu, trisula di tangannya langsung jatuh ke atas tanah. Sebelum Pedang Raja Dewa dicabut, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Zhang Fei memandangi wajah lawan. Ternyata di wajahnya itu tidak terlihat ada dendam. Yang ada justru senyuman. Senyuman yang seolah-olah menggantikan ucapan terimakasih.


Pedang Raja Dewa lalu dicabut dari tubuhnya. Pendekar Trisula Merah pun langsung ambruk.


Setelah berhasil membunuhnya, tanpa membuang waktu lagi Zhang Fei segera melesat pergi ke dalam bangunan kuno untuk menyelamatkan Yin Yin.