Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berniat Untuk Pergi Bersama


Malam hari telah datang menyelimuti muka bumi. Keadaan di Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah terhitung sepi. Para pendekar yang ada di sana telah beristirahat sejak tadi.


Di belakang gedung, di tempat yang biasa bersantai, di sana hanya ada Zhang Fei seorang. Ketua Dunia Persilatan sedang menikmati seguci arak dan beberapa hidangan ringan sebagai pelengkapnya.


Malam itu terasa dingin. Rembulan hanya bersinar separuhnya. Bintang-bintang pun tidak banyak seperti biasanya.


Zhang Fei minum secawan demi secawan. Sejak tadi ia diam dan tidak pernah bersuara. Namun pikiran dan hatinya terus saja teringat akan masalah di Partai Pengemis.


Ia yakin, pengemis-pengemis yang baru bermunculan itu pasti masih ada hubungannya dengan orang-orang yang ingin menguasai Kekaisaran Song.


Kehadiran mereka pasti bertujuan untuk mengacaukan suasana di kota tersebut.


Ketika dirinya sedang melakukan masalah itu, tiba-tiba dari belakangnya terdengar ada langkah kaki. Sesaat kemudian, tahu-tahu Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah muncul di hadapan Zhang Fei.


"Anak Fei, kau belum tidur?" tanyanya sambil duduk di kursi.


"Belum, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak dapat tidur,"


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya orang tua itu sambil memandang lekat-lekat.


"Aku tidak memikirkan apa-apa,"


"Hahaha ..." Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba tertawa. Ia kemudian minum dua cawan arak. Setelah itu baru berkata lagi, "Anak Fei, sejak kapan kau belajar berbohong? Asal kau tahu saja, aku tidak akan dapat kau bohongi,"


Zhang Fei tersenyum kecut. Ia tidak menjawab ucapannya.


Memang, membohongi orang tua itu bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi, mereka mempunyai hubungan yang sangat dekat.


"Begini, Tuan Kiang," Zhang Fei mulai bicara lagi. Kali ini, dia berniat untuk bicara jujur dan apa adanya. "Memang benar, saat ini aku sedang memikirkan suatu masalah yang cukup serius,"


"Masalah apa, anak Fei?"


Zhang Fei kemudian mulai menceritakan terkait pertemuannya dengan Yin Yin. Ia bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Dewa Arak Tanpa Bayangan tampak terkejut pada saat mendengar ceritanya tersebut. Namun orang tua itu masih belum bicara. Dia masih diam dan mendengarkan cerita Zhang Fei sampai selesai.


"Jadi, kau tidak dapat tidur karena memikirkan masalah ini?" tanyanya setelah Zhang Fei selesai bercerita.


"Benar, Tuan Kiang," jawabnya mengangguk.


"Memangnya, bagian mana yang terus kau pikirkan itu, anak Fei?"


"Aku bingung, sebenarnya siapa dalang dari masalah ini. Dan mengapa mereka mengganggu kedamaian di Partai Pengemis?"


"Soal itu aku belum bisa menjawabnya dengan pasti," ucapnya. Setelah berhenti sebentar, ia bicara lagi. "Tapi terkait pertanyaanmu yang kedua itu, aku rasa ... aku bisa membantu memberikan jawabannya,"


"Apa itu, Tuan Kiang?"


"Menurutku, sangat wajar kalau mereka mengganggu ketenteraman di dalam Partai Pengemis. Jangan lupa, anak Fei, partai itu merupakan salah satu partai terbesar aliran putih. Kalau sampai Partai Pengemis bisa mereka goyahkan, niscaya keadaan di dunia persilatan akan langsung kacau lagi,"


"Pihak musuh akan lebih percaya diri terhadap rencana dan kekuatannya. Nantinya mereka bakal berpikir, kalau partai terbesar saja bisa disingkirkan, tentu partai-partai kecil lainnya akan jauh lebih muda lagi,"


Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Dia mulai mengerti terhadap ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Begitu ya ... jadi mereka sengaja menyerang benteng terkuat supaya bisa lebih mudah menyingkirkan benteng yang lainnya,"


"Tepat sekali,"


Seperti yang diketahui, hal apapun, semuanya pasti tergantung kepada yang terbesar dan terkuat.


Mereka terdiam cukup lama. Sebelum kedua tokoh itu berbicara kembali, tiba-tiba mereka mendengar lagi ada suara langkah kaki yang berasal dari belakangnya.


Zhang Fei ikut menoleh ke belakang. Ternyata benar, ia pun melihat Yao Mei yang sedang berjalan ke arahnya.


Setelah mendekat isyarat, gadis cantik itu kemudian duduk di kursi yang masih kosong.


"Belum, Tuan Kiang. Aku tidak bisa tidur. Malam ini terasa dingin sekali," jawab Yao Mei sambil menuangkan arak ke dalam cawan.


Merek lalu basa-basi untuk beberapa saat. Setelah itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menceritakan hal sebenarnya yang sedang mereka bahas.


"Manusia-manusia itu tidak ada kapoknya. Mereka benar-benar harus dibasmi sampai ke akarnya," kata Yao Mei sambil menggertak gigi.


Dia adalah gadis yang mudah marah. Jadi tidak perlu heran ketika mendengar ceritanya saja, amarahnya langsung meluap-luap.


"Seharusnya memang seperti itu, Nona Mei. Tapi untuk membasmi orang-orang itu bukanlah perkara mudah. Apalagi pihak musuh pun pasti mempunyai tokoh-tokoh kuat yang masih belum kita ketahui semuanya," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Benar, Nona Mei. Maka dari itulah, selama masalah ini masih berlangsung, kita harus terus berusaha semaksimal mungkin," sambung Zhang Fei.


Yao Mei mengangguk tanda mengerti. Ia kemudian tidak banyak bicara lagi.


Tiga tokoh dunia persilatan itu kemudian bersulang arak untuk beberapa saat. Malam yang hening dan mencekam tersebut dipecahkan oleh suara-suara binatang malam.


Lewat beberapa waktu kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali berbicara.


"Anak Fei, kau sudah yakin akan turun tangan secara langsung?"


"Benar, Tuan Kiang. Aku sudah memutuskan hal ini,"


"Hemm ... baiklah. Kapan kau akan berangkat ke sana?"


"Mungkin besok hari, Tuan Kiang,"


Menurutnya, masalah di Partai Pengemis itu harus cepat-cepat ditangani. Sehingga Zhang Fei ingin secepatnya menuju ke sana.


"Apakah kau berangkat sendiri?" tanya orang tua itu lebih lanjut.


"Sebenarnya, aku ingin ditemani oleh Nona Mei, tapi entahlah apakah dia bersedia atau tidak,"


Tujuan Zhang Fei mengajaknya bukan karena hal lain. Melainkan karena dia ingin berniat untuk mengasah dan menambah pengalaman gadis itu.


Selain hal tersebut, Zhang Fei juga sangat ingin menyaksikan kemampuan Yao Mei yang sebenarnya.


"Bagiamana, Nona Mei? Apakah kau bersedia untuk ikut bersama anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menoleh ke arahnya.


Gadis itu sendiri sangat bahagia. Dalam hati, Yao Mei memang ingin ikut serta bersama Zhang Fei. Kalau pun Ketua Dunia Persilatan tidak mengajaknya, dia sudah berniat untuk melakukan hal seperti sebelumnya. Sama persis ketika Zhang Fei hendak pergi ke Istana Kekaisaran.


"Ya, aku bersedia, Tuan Kiang," jawabnya sambil menganggukkan kepala.


Dia tampil biasa saja. Yao Mei sengaja tidak memperlihatkan kebahagiaannya.


"Baiklah. Kalau begitu, sekarang lebih baik kalian pergi istirahat saja,"


"Baik, Tuan Kiang," jawab mereka secara bersamaan.


Kedua pendekar muda itu segera bangkit berdiri. Setelahnya mereka pun langsung pergi dari sana.


Dewa Arak Tanpa Bayangan memandangi kepergiannya. Dia pun merasa senang dan sangat setuju dengan keputusan Zhang Fei.


"Semoga saja mereka berdua bisa kembali dengan selamat," gumamnya sambil menghembuskan nafas panjang.