
Di sudut sebelah sana, tampak ada Orang Tua Aneh Tionggoan yang sedang bertempur bersama-sama dengan seorang Jenderal Kekaisaran Song.
Dua orang tersebut saat ini sedang dikepung oleh pasukan musuh yang jumlahnya mencapai tiga puluh orang. Mereka semua telah bersiap dan saat ini bahkan sudah mengepung Orang Tua Aneh Tionggoan beserta Sang Jenderal.
Tidak hanya para prajurit saja, bahkan ternyata kalau dilihat lebih selidik, di antara mereka juga terdapat pula tiga orang tokoh dunia persilatan.
Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum dingin. Terhadap tiga puluh orang prajurit musuh, dia tidak memperhatikannya walau hanya sedikit. Datuk Dunia Persilatan tersebut justru malah tertarik kepada tiga tokoh rimba hijau di depannya.
'Mereka mempunyai postur tubuh dan bentuk wajah yang sangat mirip. Sepertinya ketiga orang ini adalah saudara kembar,' batin Orang Tua Aneh Tionggoan sambil memandangi dari atas sampai bawah.
Tiga orang pendekar dunia persilatan tersebut memang benar-benar mirip. Yang membedakan di antara ketiganya cuma warna pakaian dan juga senjata yang digunakan.
Sedangkan untuk kemampuannya, menurut Orang Tua Aneh Tionggoan, mereka itu setara dengan pendekar pilih tanding.
"Pergilah. Kemampuan kalian masih belum cukup untuk melawanku," katanya sambil mengibaskan tangan kepada mereka.
"Sombong sekali kau, tua bangka!" kata orang yang berdiri di posisi sebelah kanan. "Kau pikir, dirimu adalah yang terhebat?" ia menarik muka lalu tersenyum dingin ke arahnya.
"Asal tahu saja, di Ibu Kota Kekaisaran Zhou, kami bertiga dikenal dengan julukan Tiga Naga Daratan Timur. Naga Tengah, Naga Kanan, dan Naga Kiri," sambung orang yang berdiri paling tengah dengan bangga.
"Di sana, banyak orang yang takut dan takluk kepada kami tiga bersaudara. Selama mengembara dalam dunia persilatan, rasanya belum ada satu pun orang yang berhasil mengalahkan kami dalam tiga puluh jurus,"
Ucapan si Naga Tengah semakin sombong. Ia seolah-olah yakin dengan ucapannya sendiri.
"Dan sekarang, kalau memang kau merasa hebat, benarkah dirimu mampu mengalahkan kami dalam waktu tiga puluh jurus itu?" tanyanya menantang Orang Tua Aneh Tionggoan.
Sementara itu, ditantang demikian, tentu saja Orang Tua Aneh Tionggoan tidak mungkin bisa menolaknya. Sebab ciri khas dari orang tua tersebut adalah bahwa dia tidak pernah menolak tantangan dari setiap musuhnya.
Dari mulai pertama kali dirinya terjun dalam dunia persilatan sampai saat ini, ia belum pernah melakukan hal tersebut!
"Kau menantangku?" tanyanya sambil mengangkat kedua alis.
"Benar, kau tidak sanggup menerimanya?"
"Hahaha ..." dia tertawa lantang sampai seluruh badannya naik turun. Suara tawa itu mengandung tenaga sakti yang disalurkan lewat getaran. Para prajurit musuh yang sejak tadi mengepung dan sedang menanti perintah, terlihat langsung merasa tertekan setelah mendengarkan tertawanya.
"Jangankan dalam tiga puluh jurus, bahkan dalam lima belas jurus pun, aku sangat sanggup untuk melakukannya," lanjut Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tersenyum sinis.
"Omong kosong!" bentak si Naga Kanan dengan cepat menyahut. "Terima ini!"
Wushh!!! Wutt!!!
Mulutnya berkata, tangannya langsung bertindak. Dia mencabut sebatang pedang pendek yang di simpan di punggungnya. Setelah itu ia langsung melesat ke depan sambil mengirimkan serangkaian serangan yang hebat.
Hawa pedang memburu sebelum serangan aslinya tiba. Begitu pedang tiba di depan mata, ancaman yang dirasakan menjadi dua kali lipat lebih hebat.
Tapi Orang Tua Aneh Tionggoan tidak merasa gentar. Dia justru dengan santai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama serangan lawan.
Hasilnya luar biasa. Si Naga Kanan yang ada di posisi menyerang pun sampai dibuat tercengang olehnya.
Serangan yang baru saja dia berikan bukan serangan kosong. Setiap gerakannya mengandung tipuan dan gerak tak terduga. Tapi anehnya, tidak satu pun dari serangan tersebut yang berhasil mengenai sasaran. Bahkan menyentuh bajunya pun tidak.
Karena merasa usahanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil, akhirnya secara terpaksa dia pun menarik diri ke belakang.
"Orang tua itu rupanya punya kemampuan yang lumayan. Buktinya saja jurus milikku sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuhnya," kata si Naga Kanan keparat dua orang saudaranya.
"Ya, aku perhatikan dari setiap gerakannya, dia memang bukan orang lemah. Menurutku, dia itu adalah pendekar kelas satu," sahut si Naga Kiri.
"Kalian salah besar," Naga Tengah tiba-tiba bicara dengan nada dan ekspresi wajah serius.
"Apa maksudmu, Kakak?" tanya si Naga Kiri sambil menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Kemampuan yang dimiliki olehnya bahkan aku rasa lebih tinggi dari apa yang kalian duga,"
"Benarkah? Aku tidak percaya," kata si Naga Kanan sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
Sementara di satu sisi, berbarengan dengan percakapan mereka, Orang Tua Aneh Tionggoan tampak sedang memberikan senyuman mengejek kepada ketiganya.
"Apakah kemampuanmu hanya sampai di sini saja? Hemm ... mengecewakan," ujarnya lalu menghela nafas seolah-olah dia memang kecewa. "Begini saja, sekarang kalian langsung maju bertiga, bagaiamana? Aku ingin melihat, sampai di mana sebenarnya kehebatan Tiga Naga Daratan Timur itu?" ia tersenyum dingin untuk yang kesekian kalinya.
"Keparat jahanam! Lancang sekali mulutmu, tua bangka!" bentak si Naga Kanan. "Baik. Kalau memang itu maumu, kami akan memperlihatkan sampai di mana kemampuan Tiga Naga Daratan Timur sekarang juga,"
Wutt!!!
Si Naga Kanan kembali menyerang dengan ganas. Kali ini bukan hanya dia saja, dua orang saudara di sisinya juga segera melakukan tindakan yang sama.
Tiga Naga Daratan Timur sudah turun tangan semuanya. Mereka menyerang dari tiga titik berbeda.
Para prajurit yang tadi mengepung, sekarang mereka langsung menjauh ketika keempat tokoh dunia persilatan itu melangsungkan pertarungannya.
Tidak lama kemudian orang-orang tersebut juga ikut bertempur. Keadaan di sana menjadi kembali ramai dan menegangkan.
Apalagi setelah Orang Tua Aneh Tionggoan menyalurkan tenaga dan hawa murninya sampai ke titik maksimal. Seperti yang telah dijanjikan di awal tadi, dia sudah menyanggupi tantangan mereka yang akan mengalahkannya dalam waktu tiga puluh jurus.
Maka dari itu, meskipun pertarungan baru dimulai, tapi ia langsung berlaku sangat serius.
Saat ini dua batang pedang pendek dan satu batang pedang panjang telah mengancam seluruh tubuhnya. Tiga senjata tersebut sepertinya sudah dirancang sedemikian rupa. Sehingga setiap serangan dan gerakan yang mereka lakukan, selalu membuat musuhnya bingung.
Orang Tua Aneh Tionggoan menyadari akan hal tersebut. Tapi karena dia adalah tokoh yang sudah banyak pengalaman, maka dirinya tidak merasa khawatir lagi.
"Kerja sama yang bagus. Rupanya kalian adalah orang-orang yang teliti sehingga sudah memperhitungkan segala macam halnya. Sayang sekali, sekarang kalian telah bertemu dengan orang yang salah," katanya sambil menghindari serangan mereka.
"Jangan banyak bicara, setan tua," kata Naga Tengah tiba-tiba datang dari arah depan dengan mengirimkan tusukan pedang yang sangat cepat.
Crapp!!!
Pedang itu berhenti di tengah jalan. Orang Tua Aneh Tionggoan telah berhasil menghentikan gerakannya dengan cara menjepit ujung senjata tersebut menggunakan dua jari miliknya.
"Tusukan yang lemah!"