Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sebuah Lencana


"Ternyata kalian ini sangat tidak sabaran," ujarnya sambil tersenyum dingin.


Bersamaan dengan itu, dia langsung melakukan sebuah gerakan tangan kosong. Sesaat kemudian, Zhang Fei menghentakkan kedua tangannya ke depan.


Wushh!!!


Segulung angin dahsyat berhembus. Beberapa orang dari penyerangnya terdorong mundur, bahkan ada yang sampai limbung sehingga hampir jatuh tersungkur.


Tapi sepertinya orang-orang itu sudah siap untuk mengadu jiwa. Sehingga walaupun hampir celaka, mereka tidak jera. Justru malah segera bangkit dan kembali menerjang bersama rekannya yang lain.


'Rupanya mereka tergolong sebagai pendekar kelas dua. Hemm ... baiklah. Aku mengerti," batinnya berkata sambil mengawasi dua puluh orang itu.


Menyadari bahwa para penyerangnya cukup mempunyai kemampuan, maka tanpa berpikir panjang lagi, Zhang Fei segera mencabut Pedang Raja Dewa dari punggungnya.


Sebenarnya kalau musuh mau menyerang satu-persatu, ia sangat sanggup mengalahkan mereka tanpa harus mengeluarkan senjata pusaka itu.


Tetapi karena main keroyokan, maka tentu cerita yang berlangsung pun lain lagi. Walaupun ia tetap bisa mengalahkan puluhan orang itu, tapi sepertinya hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.


Maka dari itulah dia memilih untuk menggunakan pedang pusakanya!


Sringg!!!


Cahaya putih keperakan segera menyeruak ke seluruh ruangan. Hawa pedang seketika memenuhi arena sekitar. Selapis hawa pembunuh mendadak keluar dari setiap bagian tubuhnya.


Semua hal itu bisa dirasakan oleh musuh. Namun karena sudah nekad, maka mereka tidak merasa takut lagi.


Wutt!!! Wungg!!! Wungg!!!


Berbagai macam suara berat dan nyaring segera terdengar begitu puluhan senjata itu melesat cepat di tengah udara.


Hujan senjata seketika terjadi di dalam ruangan besar tersebut!


Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Pedang Raja Dewa masih dijulurkan ke bawah. Ia belum melakukan gerakan apapun lagi kecuali hanya mencabut pedangnya.


Ia tetap bersikap tenang dan santai. Seolah-olah di sana memang tidak terjadi sesuatu apapun.


Sebenarnya dia sengaja melakukan langkah ini. Zhang Fei sedang berusaha untuk konsentrasi. Hitung-hitung juga untuk melatih kemampuannya. Terutama sekali dalam hal ilmu pedang.


Beberapa saat kemudian, ketika puluhan batang senjata musuh sudah hampir mengenai tubuhnya, pada saat itulah ia bergerak. Tepat pada waktu itu dia melakukan tindakan!


Wutt!!!


Ia melompat mundur tiga langkah. Satu helaan nafas berikutnya, Zhang Fei menghilang dari posisi semula.


Kini, tahu-tahu dirinya telah berada di tengah udara. Tepat di atas kepala dua puluh orang musuhnya.


"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"


Jurus keempat dari Kitab Pedang Dewa segera digelar dengan pengerahan enam bagian tenaga dalam.


Kilatan cahaya pedang segera terlihat indah mempesona. Gulungan sinar putih keperakan menyapu semua senjata yang sedang bergerak lincah itu.


Dentingan nyaring beberapa kali terdengar. Disusul kemudian dengan suara rintihan sakit yang tidak tertahankan.


Semua musuhnya masih berusaha menyerang dan membunuhnya. Zhang Fei pun belum menghentikan gerakannya.


Kalau ia sudah bergerak, maka dia tidak akan pernah berhenti lagi sebelum usahanya membuahkan hasil memuaskan!


Suasana di dalam ruangan tersebut menjadi kacau. Bau amis darah mulai tercium menusuk hidung. Siapa pun tahu, dari pertarungan itu sudah tercipta korban jiwa.


Namun nyatanya anak muda itu belum juga berhenti. Semakin lama bertarung, semakin banyak pula korban yang berjatuhan.


Ketika pertempuran sudah berlangsung selama dua puluhan jurus, pada saat itulah ia melayang mundur ke belakang. Zhang Fei mendarat di atas lantai dengan indah.


Pedang Raja Dewa masih digenggam. Tapi pertarungannya telah selesai!


Kalau musuh sudah mampus, bagaiamana mungkin dia akan bertarung lagi?


Ruangan besar itu seakan-akan berubah menjadi tempat jagal. Tempat jagal manusia tentunya!


Bau amis darah masih tercium. Apalagi darah mereka memang belum kering.


Bukan cuma itu saja, malah puluhan senjata yang tadi ingin mencincang tubuhnya, kini juga sudah kutung jadi beberapa bagian.


Kalau saja tidak menyaksikan kejadiannya secara langsung, niscaya di dunia ini tidak akan ada orang yang mempercayainya.


Kebanyakan orang mungkin akan bertanya-tanya, bagaiamana mungkin di muka bumi ini, ada seorang pendekar muda yang begitu hebat?


Padahal, semua itu bukan isapan jempol belaka. Semuanya nyata dan bisa dibuktikan.


Zhang Fei menyapu pandang ke arah puluhan mayat itu. Sebenarnya dia tidak ada maksud untuk membunuh mereka. Sayang sekali, justru mereka lah yang mencari mati sendiri.


Setelah darah segar yang sebelumnya terdapat di seluruh batang pedang itu mengucur, ia pun segera memasukannya lagi ke dalam sarung.


Pada saat itulah tiba-tiba Zhang Fei mendengar suara teriakan kaget dari ruangan dalam sana.


Dengan cepat ia segera menuju ke sumber suara.


Betapa kagetnya anak muda itu saat menyaksikan keadaan. Ia sungguh tidak menyangka, ternyata dalam waktu yang terhitung singkat, perubahannya sungguh diluar dugaan.


Di tengah-tengah ruangan tersebut, terlihat ada satu sosok yang ambruk dengan berlumuran darah.


Sosok itu bukan lain adalah si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming!


Benarkah yang ia saksikan ini? Sungguh kah orang tua itu telah tewas? Kenapa dia bisa tewas? Bukankah kemampuannya sudah sangat tinggi?


Zhang Fei masih berdiri dalam lamunan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Karena sesaat kemudian ia sudah bisa mengendalikan dirinya kembali.


"Ke mana perginya orang-orang itu?" tanyanya kepada murid kepercayaan Gouw Ming yang duduk lemas di sisi jasad gurunya.


Murid itu tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke jendela sebelah kanan.


Tanpa banyak bicara, Zhang Fei pun langsung melesat dan pergi keluar. Dia berusaha mencari jejak orang-orang itu.


Tapi sayangnya dia telah terlambat. Semua musuhnya sudah lenyap. Lenyap ditelan oleh kegelapan malam.


Zhang Fei memandang ke atas langit, melihat bulan purnama untuk sesaat. Ternyata rembulan sudah condong ke sebelah barat.


Kentongan kedua segera terdengar dipukul oleh warga yang melakukan ronda.


Cukup lama ia berdiri di gang sempit yang berdekatan dengan hutan itu. Matanya masih menyapu pandang ke tempat sekitar. Seolah-olah Zhang Fei masih berharap bisa menemukan musuhnya.


Naas, sampai beberapa saat kemudian, dia tidak dapat menemukan petunjuk apapun kecuali hanya jejak kaki manusia.


Tetapi ... tunggu dulu!


"Apa itu?"


Zhang Fei mengerutkan kening ketika ia melihat ada benda yang berkilau sekejap ketika terkena sinar rembulan. Benda itu berada dalam jarak sekitar empat langkah dari tempatnya berdiri.


Karena merasa penasaran, akhirnya ia berjalan mendekatinya.


Ternyata benar yang berkilau tersebut bukan lain adalah sebuah lencana!


Lencana yang terbuat dari bahan perak. Lencana itu tidak terlampau berat.


Zhang Fei memperhatikan dengan selidik. Ia melihat bahwa lencana tersebut ternyata mempunyai ukiran wajah iblis yang sangat menyeramkan.


Persis di atas ukuran itu terdapat pula sebuah tulisan.


"Partai Iblis Sesat".


"Hemm ..." ia mendehem perlahan. Detik berikutnya Zhang Fei segera kembali ke ruangan tempat terjadinya pertarungan.