
Suasana di Istana Kekaisaran Song sudah mulai sepi. Semua orang-orang penting yang ada di sana sudah tertidur dengan lelap.
Yang masih bangun hanyalah para penjaga Istana saja. Sebab setiap saat, mereka memang diwajibkan untuk waspada.
Di sebuah kamar besar yang ditinggali oleh Kaisar Zhou, di sana terlihat dia sedang berjalan mondar-mandir di pinggir jendela kamar.
Wajahnya seperti gelisah. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Yang jelas, ia mirip dengan seseorang yang sedang menanggung beban berat di pundaknya.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar.
"Masuk," katanya sambil memandang ke arah pintu.
Pintu itu pun langsung terbuka lebar. Disusul kemudian dengan masuknya seorang pria bertubuh tinggi kekar.
Begitu tiba di hadapannya, pria tersebut langsung memberikan hormat.
"Bagaimana? Apakah kau berhasil menjalankan tugasmu?" tanya Kaisar Zhou tanpa banyak basa-basi.
"Ya, hambar berhasil menjalankan tugas itu, Kaisar," katanya menjawab tegas. "Semua penjaga yang ada di sekitar sini, sudah berhasil aku totok jalan darahnya. Kini keadaan sudah aman,"
"Bagus," Kaisar Zhou menganggukkan kepala. Dia tampak puas dengan hasil kerja anak buahnya. "Lalu, bagaiamana dengan tugas yang lain?"
"Semuanya beres, Kaisar. Sebentar lagi, Kaisar Jin kan segera datang kemari,"
Baru saja dia selesai bicara seperti itu, tiba-tiba pintu kamar kembali diketuk. Begitu dipersilahkan masuk, ia segera melihat ada tiga orang yang datang.
Siapa lagi kalau bukan Kaisar Jin?
Kedatangannya saat itu sambil dikawal ketat oleh dua orang pengawal pribadinya.
"Mari, silahkan masuk, sahabatku. Kita bicara di dalam saja," ucap Kaisar Zhou.
"Baik," Kaisar Jin mengangguk. Dia lalu berjalan masuk ke dalam kamar yang luas tersebut.
Salah satu pengawal pribadinya lambang menutup pintu. Setelah itu dia pun segera berjaga di pinggirnya.
Kini, dua orang Kaisar itu sudah duduk di sebuah meja yang tersedia. Di atas meja ada arak dan beberapa makanan lezat.
Mereka lalu bersulang arak dan menikmati semua makanan tersebut. Setelah selesai, keduanya segera memulai pembicaraan ke hal yang lebih serius lagi.
"Si keparat Zhang Fei itu benar-benar merepotkan. Aku sungguh ingin menampar mulut dan memukul wajahnya," kata Kaisar Zhou mengawali pembicaraan.
Ia mengepalkan tangannya yang ditaruh di atas meja. Kalau teringat nama anak muda itu, dia pasti akan selalu merasakan emosi yang sama.
Selama ini, dia sudah berjuang untuk melancarkan ambisinya dengan segala macam cara yang bisa ditempuh. Mulai dari yang paling mudah, bahkan sampai yang paling susah sekali pun.
Tapi ternyata, semua usaha yang dia lakukan itu tidak pernah membuahkan hasil maksimal. Rencana apapun yang ia lakukan, pasti akan digagalkan oleh anak muda bernama Zhang Fei dan orang-orangnya.
"Yang merasakan hal itu bukan hanya kau saja, bahkan aku pun tidak terkecuali. Sampai sejauh ini, entah sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan. Entah sudah berapa banyak pula prajurit dan pendekar yang mati di tangannya. Kalau bukan demi mewujudkan impian besar, rasanya aku tidak akan sudi untuk melakukan semua ini," kata Kaisar Jin sambil memendam amarahnya.
Selama ini, dia pun telah melakukan hal yang sama dengan Kaisar Zhou. Apalagi, semua rencana itu sedikit banyaknya merupakan rencana yang mereka bangun bersama.
Tetapi ternyata, semaunya gagal di tengah jalan. Rencananya tidak pernah berhasil. Impiannya pun tidak bisa terwujud.
"Ya, mereka memang sangat merepotkan, terutama sekali adalah si bocah keparat Zhang Fei. Semenjak dia menjadi Ketua Dunia Persilatan, semaunya langsung berubah drastis,"
Semaunya memang langsung berubah setelah Zhang Fei menduduki posisi dunia persilatan. Akibat dari hal tersebut, rencana yang sebelumnya hampir berhasil, secara tiba-tiba langsung gagal begitu saja.
"Kau benar," katanya membenarkan. "Sebenarnya aku sangat berharap bahwa rencana yang kita lancarkan kemarin itu akan berhasil. Aku telah membayangkan bocah itu akan menderita seumur hidupnya. Siapa nyana, ternyata dia masih bisa selamat dari maut. Bahkan dia pun bisa sembuh dalam waktu yang sangat singkat," ujar Kaisar Jin dengan suara dalam.
"Benar, sepertinya bocah keparat itu mempunyai tingkat keberuntungan yang sangat tinggi. Buktinya saja, walaupun sudah dicelakai beberapa kali, tapi dia tetap bisa diselamat dari kematian,"
Dua orang Kaisar itu tidak hanya mengalami nasib yang sama. Bahkan ternyata mereka pun mempunyai pemikiran yang serupa.
Tetapi terkait ucapan yang terakhir tersebut, rasanya semua orang pun akan setuju.
Selama melancarkan rencananya, mereka berdua kerap kali mempunyai niat untuk mencelakai Zhang Fei dengan berbagai macam cara.
Tapi ternyata, semua itu masih belum berhasil juga. Walau dengan cara apapun mereka berusaha mencelakainya, Zhang Fei selalu saja selamat dari kematian.
Mengapa semua itu bisa terjadi? Benarkah dia mempunyai keberuntungan yang sangat tinggi?
Dua orang Kaisar itu termenung cukup lama. Secawan demi secawan, arak mulai masuk ke dalam perutnya.
Lewat beberapa waktu kemudian, terdengar Kaisar Jin kembali berkata. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ia bertanya kepada Kaisar Zhou.
Sementara Kaisar Zhou, seketika dia langsung berpikir keras. Otaknya berputar cepat, ia memejamkan matanya supaya bisa lebih konsentrasi lagi.
Dalam hal menyusun rencana, ia memang termasuk ahlinya. Bahkan kecerdasan Kaisar Zhou sendiri, cukup jauh berada di atas Kaisar Jin.
Maka dari itu, tidak heran kalau rencana yang telah mereka lakukan, hampir semuanya berasal dari dia sendiri.
"Begini saja," kata Kaisar Zhou setelah dia berpikir beberapa waktu. "Sekarang, kita batalkan saja Pertarungan Empat Kekaisaran ini,"
"Kenapa harus dibatalkan?" tanya Kaisar Jin memotong pembicaraan.
"Tenang dulu, aku belum selesai bicara,"
"Baiklah, baiklah. Silahkan lanjutkan kembali,"
Kaisar Zhou mengangguk, dia kemudian melanjutkan lagi bicaranya. "Kalau diteruskan, pertarungan ini tidak akan bisa berjalan lancar. Apalagi si keparat Zhang Fei sepertinya sudah mengetahui tentang rencana kita sebelumnya,"
"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Kita pura-pura menyerah saja, setelah itu kita langsung pamit pulang. Tapi ingat! Kita tidak pulang sungguhan," katanya dengan tegas.
"Lalu, apa maksudmu?" tanya Kaisar Jin masih penasaran.
"Kita akan menunggu si keparat Zhang Fei itu pulang kembali ke Gedung Ketua Dunia. Barulah ketika mereka tiba di tengah perjalanan nanti, kita akan langsung menyergap dan menyerbunya. Di Istana Kekaisaran Song mungkin kita tidak bisa membunuhnya, tapi kalau diluar Istana Kekaisaran, aku rasa kita masih bisa,"
"Sehebat apapun, dia masih manusia seperti kita. Begitu juga dengan orang-orang yang ikut bersamanya,"
Kaisar Zhou terlihat begitu yakin dengan rencananya tersebut. Menurutnya, ini adalah rencana terlahir sekaligus paling sempurna dari semua rencana sebelumnya.
"Tapi, yang ikut bersamanya itu adalah tokoh-tokoh utama dalam dunia persilatan Kekaisaran Song ..."
"Lalu, bagaiamana dengan kita? Bukankah orang-orang kita pun mempunyai kedudukan yang sama seperti mereka? Lagi pula, pihak kita unggul dalam hal jumlah. Jadi, aku sangat yakin kalau rencana ini akan berjalan lancar,"