Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Persiapan Terakhir


Selama menunggu waktu ujian kemampuan tiba, Empat Datuk Dunia Persilatan terus-menerus melatih Zhang Fei setiap hari. Mereka ibarat guru, setiap saat selalu saja menggembleng Zhang Fei.


Entah itu dari segi kemampuan dalam bermain pedang, tangan kosong, atau bahkan kekuatan batin. Keempatnya terus membantu Zhang Fei tanpa kenal lelah.


Setiap harinya, anak muda itu hanya mempunyai waktu istirahat paling banyak lima jam saja. Sisanya dia gunakan untuk berlatih dan berlatih lagi.


Meskipun latihan itu terlihat sederhana, namun kalau dipraktekkan justru sangatlah susah. Tidak semua orang mampu melakukannya.


Apalagi dari setiap latihan yang diberikan oleh Empat Datuk Dunia Persilatan itu membutuhkan tenaga dan mental yang kuat. Kalau orang biasa sudah pasti tidak akan sanggup.


Untunglah Zhang Fei sudah terbiasa dengan latihan-latihan semacam ini. Walaupun metode yang diberikan berbeda, tapi modalnya tetap sama.


Jadi, ia sudah terbiasa dengannya.


Semakin bertambahnya hari, semua ilmu yang dimiliki oleh Zhang Fei semakin matang lagi. Terlebih kekuatan batinnya.


Sekarang, Zhang Fei bahkan mampu menolak sihir yang diberikan oleh Dewi Rambut Putih dalam jurus andalannya.


Tanpa terasa hari ini adalah hari keenam. Itu artinya, besok adalah waktu untuk dilaksanakannya ujian kemampuan.


Waktu masih menunjukkan pagi. Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan baru saja selesai sarapan. Setelahnya mereka langsung menuju ke hutan belakang Istana Kekaisaran untuk melanjutkan latihan yang terakhir.


"Anak Fei, sekarang adalah hari terakhir dari persiapanmu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah mereka tiba di lokasi. "Sekarang juga adalah latihan terkahir untukmu. Aku harap kemajuan yang kau peroleh tidak mengecewakan kami semua,"


"Baik, Tuan. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuatmu kecewa," kata Zhang Fei menjawab dengan mantap.


"Bagus. Aku percaya kau mampu melakukannya," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan ikut bicara.


"Sekarang, mari kita berlatih,"


"Mari,"


Zhang Fei langsung melompat ke tengah halaman hutan. Dia berdiri dan siap melakukan latih tanding.


Wushh!!!


Empat Datuk Dunia Persilatan juga melompat secara bersamaan. Mereka berdiri sejajar di depan Zhang Fei.


"Eh, tunggu dulu. Mengapa kalian maju semua?" tanya Zhang Fei kebingungan.


"Karena sekarang, kau akan berlatih melawan kami berempat," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum penuh makna.


"Apa-apaan ini? Apakah kalian ingin membunuhku?"


Melawan salah satu dari mereka saja sudah sangat sulit. Mungkin kalau diibaratkan, hal itu sama dengan melawan dua puluh orang pendekar kelas satu sekaligus.


Kalau melawan satu orang Datuk Dunia Persilatan saja sudah sesulit itu, lalu bagaimana jadinya jika melawan mereka secara bersamaan?


"Siapa yang ingin membunuhmu? Tentu saja tidak, anak Fei. Kami akan menguji sampai di mana kemajuan yang kau dapat," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Tenanglah, anak Fei. Kami sudah sepakat dalam latih tanding nanti, kami hanya akan mengeluarkan kemampuan sepertiga bagiannya saja," kata Dewi Rambut Putih menyambung.


Jangankan sepertiga, bahkan kalau seperdua kemampuan mereka pun, itu sudah hebat. Zhang Fei tetap tidak percaya diri bahwa dia akan mampu menghadapi mereka secara bersamaan.


"Tapi ..."


"Jangan banyak bicara. Lihat tombak milikku!" Pendekar Tombak Angin berteriak keras. Bersamaan dengan itu tubuhnya langsung menerjang ke depan.


Tombak pusaka yang dia genggam menusuk ke arah leher.


Tindakan yang dilakukan oleh Pendekar Tombak Angin sangat tiba-tiba. Gerakannya pun begitu cepat.


Sringg!!!


Buru-buru Zhang Fei mengambil langkah cepat. Pedang Raja Dewa langsung dicabut keluar dan digunakan untuk menangkis tusukan tombak.


Belum lagi serangan Pendekar Tombak Angin selesai, dari arah kanan tiba-tiba muncul sebatang pedang yang ditebaskan mengarah ke leher.


Dewi Rambut Putih sudah tiba dengan ancamannya!


Zhang Fei tercekat. Ia mementalkan dulu tombak itu dari pedangnya. Detik selanjutnya dia langsung menundukkan kepala untuk menghindari serangan Dewi Rambut Putih.


Bersamaan dengan gerakan tersebut, Zhang Fei segera mengirimkan serangan balasan. Pedang Raja Dewa menusuk ke arah jantung!


"Tidak semudah itu, anak Fei," Dewa Arak Tanpa Bayangan berteriak keras.


Tahu-tahu orang tua itu sudah ada di sisinya. Guci Emas Murni dibenturkan dengan Pedang Raja Dewa. Membuat pedang itu terpental ke pinggir. Serangan Zhang Fei harus gagal karena hal tersebut.


Sementara itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan belum berhenti. Dia melanjutkan lagi serangannya dengan mengirimkan serangan beruntun menggunakan Guci Emas Murni.


Zhang Fei terus menghindar. Dia kesulitan menangkis ataupun membalas serangan.


"Jangan lupa, masih ada satu lagi," suara teriakan terdengar cukup lantang dari arah belakang.


Orang Tua Aneh Tionggoan ternyata sudah ada persis di belakang Zhang Fei dengan mengirimkan serangan menggunakan telapak tangannya.


Anak muda itu merasakan ada hawa panas yang membakar punggung. Karena tidak mau mengalami luka, buru-buru dia menggulingkan dirinya di atas tanah.


Setelah berada di tempat aman, Zhang Fei langsung berdiri kembali.


Pada saat itu, Empat Datuk Dunia Persilatan ternyata sudah siap di posisinya masing-masing. Mereka berpencar di empat penjuru mata angin.


"Mati aku," gumam Zhang Fei sambil tersenyum getir.


"Jaga konsentrasimu, anak Fei!"


Dewi Rambut Putih berteriak. Pedang pusaka miliknya langsung menusuk dengan cepat. Dia meneruskan lagi dengan serangan pedang yang datang secara beruntun.


Pendekar Tombak Angin juga menyerang. Tombaknya berputar-putar di atas kepala, lalu setelah itu langsung meluncur deras seperti meteor.


Tidak mau kalah dari yang lain, Orang Tua Aneh Tionggoan pun ikut menerjang ke depan. Kedua tangan yang luar biasa itu segera melancarkan dua serangan berbeda sekaligus.


Yang satu serangan jarak jauh, sedangkan yang satu lagi adalah serangan jarak dekat.


Di posisi lain, Dewa Arak Tanpa Bayangan terlihat paling santai. Sebelum menyerang, dia lebih dulu menenggak araknya. Begitu puas, barulah dia mengikuti jejak ketiga rekannya.


Empat serangan itu dilancarkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Suasana di arena sekitar hutan berubah. Hawa yang ada lebih menekan dari sebelumnya.


Zhang Fei semakin panik. Tapi dia tidak lupa dengan posisinya sekarang.


"Murka Pedang Dewa!"


Wutt!!!


Hawa pedang menekan. Tanpa sadar dia telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada di dalam diri. Dan hasilnya sangat mengejutkan.


Saking besarnya hawa pedang dan tekanan yang dihasilkan dari jurus tersebut, sampai-sampai gerakan Empat Datuk Dunia Persilatan sempat tertahan.


Walaupun hanya beberapa detik, tapi hal tersebut sudah lebih daripada cukup.


Setidaknya Zhang Fei punya kesempatan untuk mendapatkan posisinya kembali.


Wushh!!!


Ia bergerak dengan pedangnya. Pertama-tama Zhang Fei menangkis tebasan pedang Dewi Rambut Putih. Disusul kemudian dengan menghalau Pendekar Tombak Angin, lalu mengadu telapak tangan dengan Orang Tua Aneh Tionggoan. Dan terakhir adalah menghindari serangan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Kejadian tersebut berlangsung sekejap mata. Kalau ada orang lain di sana, niscaya dia tidak akan dapat melihat karena saking cepatnya gerakan Zhang Fei.