
Ketika dia sedang mengeluarkan jurusnya dengan dahsyat, tahu-tahu dari arah lain ada sebatang pedang yang melesat bagaikan kilat.
Pedang itu menusuk tepat ke arah leher. Sadar akan ancaman, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengambil langkah.
Tangan kirinya diangkat, Guci Arak Murni segera menahan tusukan pedang tersebut tepat pada waktunya.
Serangan pertama pihak musuh berhasil digagalkan. Tetapi pada saat itu, di pemilik pedang segera menarik senjatanya.
Karena tidak mau kalah, dia pun langsung mengeluarkan jurus yang tidak kalah hebatnya dari Dewa Arak Tanpa Bayangan.
'Jahanam! Dia mengganggu terus usahaku,' batinnya merasa kesal.
Melihat kenyataan bahwa dia mulai kesulitan, pada akhirnya dua Datuk Dunia Persilatan yang tadi menjadi sasarannya, kini mulai balik menyerang.
Tiga macam jurus berbahaya datang secara bersamaan. Gempuran serangan mereka benar-benar dahsyat. Kedahsyatannya bahkan sulit untuk dibayangkan.
Hawa sesat dan hawa murni bercampur. Hawa pembunuh yang teramat pekat pun sudah memenuhi area sekitar.
Dewa Arak Tanpa Bayangan menggertak gigi. Dia berusaha untuk terus memberikan perlawanan. Meskipun di antara ketiganya belum ada yang berhasil mendaratkan serangan dengan telak, namun tetap saja ia harus berhati-hati.
Pertarungan sengit di antara para tokoh besar dunia persilatan itu terus berlangsung. Tiga Datuk Dunia Persilatan masih menyerang dengan ganas.
Mereka mirip seperti gerombolan serigala yang kelaparan. Setiap serangannya datang ke arah yang tidak diduga. Kerjasama yang mereka lakukan pun sangat sempurna.
Hal inilah yang menyulitkan Dewa Arak Tanpa Bayangan untuk tetap mempertahankan posisinya.
Belasan jurus telah terlewati. Sekarang pertarungan mereka telah memasuki jurus ketiga puluh. Semakin lama waktu berjalan, maka sengit dan dahsyat jurus-jurus yang mereka keluarkan.
Pada waktu itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Seluruh konsentrasinya telah dicurahkan kepada pertarungan yang saat ini dia jalani.
Namun sayangnya kenyataan berkata lagi. Konsentrasi itu harus buyar ketika sepasang matanya sempat melihat kondisi Zhang Fei yang sangat memprihatinkan.
Tanpa sadar dirinya mendesah pelan. Ia lupa akan keadaan diri sendiri. Sehingga pada waktu yang bersamaan, ada sebatang pedang yang telah berhasil menyentuh punggungnya.
Srett!!!
Pakaian dan kulitnya langsung robek. Walaupun luka yang tercipta tidak terlalu dalam, tapi tetap saja ada darah segar yang keluar.
Dewa Arak Tanpa Bayangan mulai merasa perih. Tetapi dia tetap berusaha untuk fokus. Serangan lain yang datang menyusul berhasil dia halau.
Posisinya mulai membaik. Namun sayangnya, kejadian yang sama kembali terulang. Konsentrasi orang tua itu langsung lenyap saat menyaksikan Zhang Fei sudah ambruk ke tanah dan tidak bergerak.
"Biadab! Rasakan ini,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan berteriak marah. Suaranya bagaikan guntur yang terdengar ketika hujan deras turun membasahi bumi.
Tenaga dalam dan tenaga sakti yang keluar semakin besar. Ia menyerang balik tanpa memikirkan resiko apapun.
Orang tua itu telah kalap! Dia menyerang bagaikan harimau yang terluka.
"Hati-hati, dia mulai kehilangan kendalinya," kata salah satu Datuk Dunia Persilatan memberi peringatan.
Dua orang lainnya mengangguk. Mereka pun segera mengambil jarak supaya tidak terkena amukannya.
Saat melihat lawannya mundur, saat itulah Dewa Arak Tanpa Bayangan melakukan gerakan tak terduga. Tiba-tiba dia melompat ke atas dan langsung melancarkan pukulan jarak jauh.
Blarr!!!
Pukulan jarak jauh itu sangat dahsyat. Bahkan gelombang kejutnya saja mampu membuat tiga lawannya terdorong sejauh dua langkah.
Wushh!!!
Tanpa banyak membuang waktu lagi, dia langsung melesat dengan cepat ke arah Zhang Fei. Ketika tiba di sana, buru-buru dia memanggul tubuh yang sudah tak berdaya itu dan langsung pergi dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya.
Dalam waktu singkat saja, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah berada jauh dari tempat pertarungan tadi.
"Sialan! Dia malah melarikan diri," kata salah satu lawannya menggerutu.
"Apakah kita harus mengejarnya?"
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Pergi dari sini. Meskipun tua bangka itu berhasil kabur, yang penting si Zhang Fei itu telah dirobohkan,"
"Tapi ..."
"Jangan banyak bicara lagi. Mari kita pergi,"
Wushh!!!
Salah satu Datuk Dunia Persilatan lari lebih dulu. Tidak lama setelahnya, dua orang yang lain segera mengikut dari belakang.
###
Kentongan ketiga telah terdengar di kejauhan. Suasana di Gedung Ketua Dunia Persilatan terlihat sudah sepi sunyi.
Dua orang penjaga pintu gerbang terlihat masih berdiri sambil menahan kantuk. Ketika itu, rasa kantuk yang menyerang keduanya mendadak lenyap setelah mereka melihat ada satu buah bayangan yang mendekat dengan cepat.
Mereka langsung membuka mata lebar-lebar dan memegang tombak dengan kuat.
Pada saat dua batang tombak itu akan bergerak, mendadak sebuah suara terdengar.
"Tahan! Ini aku," bayangan yang mereka lihat segera berhenti tepat di hadapannya.
"Ah, Tuan Kiang? Apa ... apa yang telah terjadi?" tanyanya dengan gugup.
"Jangan banyak bicara, cepat buka pintu gerbang,"
"Ba-baik,"
Keduanya langsung membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka lebar, buru-buru Dewa Arak Tanpa Bayangan melesat ke dalam.
Ia langsung masuk ke ruang pengobatan dan meletakkan tubuh Zhang Fei di atas pembaringan. Semua tabib yang pada saat itu sedang tidur lelap, langsung dia bangunkan.
"Cepat obati Ketua Fei. Dia sedang dalam keadaan bahaya!" ujarnya sangat serius.
Lima orang tabib Gedung Ketua Dunia Persilatan saling pandang untuk sesat. Sepertinya nyawa mereka belum terkumpul sehingga masing-masing terlihat seperti orang bodoh.
Brakk!!!
Orang tua itu menggebrak meja dengan keras, sampai-sampai meja itu hancur menjadi serpihan kecil.
"Apakah kalian tuli?" tanyanya dengan marah.
Dibentak seperti itu, seketika para tabib tersebut langsung tersadar. Dan wajah mereka pun panik setelah melihat kondisi Zhang Fei.
"Tuan Kiang, apa yang telah terjadi dengan Ketua Fei?" taya salah satu tabib.
"Jangan banyak tanya. Cepat obati dia!"
"Baik, baik. Kami akan segera mengobatinya,"
Lima orang tabib itu langsung bergerak cepat. Masing-masing dari mereka segera memeriksa kondisi Zhang Fei.
Sementara itu, tidak lama kemudian, semua tokoh utama yang tinggal di sana tahu-tahu sudah ada di dalam ruangan.
Mereka sempat melihat kondisi Zhang Fei, tetapi karena tidak tega, pada akhirnya orang-orang pun segera duduk di bangku yang tersedia.
Para tokoh tersebut masih diam. Walaupun ada banyak pertanyaan di dalam benak masing-masing, namun tidak ada satu pun yang berani bersuara.
Sedangkan para tabib, sampai saat ini mereka masih berusaha mengobati Zhang Fei.
Dalam hati, mereka tidak habis pikir, apa yang sebenarnya telah menimpa Ketua Dunia Persilatan? Mengapa dia bisa mengalami luka separah ini?
Bagaimana mereka tidak heran? Sedangkan pada saat itu saja nafas Zhang Fei sudah jarang. Detak jantungnya juga sangat lemah. Belum lagi wajahnya yang benar-benar pucat pasi.
Kalau dilihat sekilas, mungkin siapa pun akan mengira bahwa dia telah mati!