Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Rangkaian Ilmu Pedang Perpisahan II


Pedang Raja Dewa bergetar dengan sangat keras ketika Pendekar Pedang Perpisahan membenturkan senjatanya.


Saking hebatnya benturan yang terjadi barusan, sampai-sampai Zhang Fei dibuat mundur lima langkah ke belakang. Seluruh tubuhnya bergetar cukup hebat. Terutama sekali tangan kanannya. Selain terasa bagai tersengat listrik, ia juga merasakan kalau tangan itu pegal.


Untuk beberapa saat, Zhang Fei tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tangannya lemas lunglai seperti lumpuh.


Hal tersebut diketahui oleh pihak lawan. Dia tidak mau memberikan pun, dalam satu tarikan nafas, Pendekar Pedang Perpisahan sudah melancarkan serangan balasannya.


"Bayangan Pertanda Kematian!"


Wushh!!!


Jurus kedua dari Rangkaian Ilmu Pedang Perpisahan sudah digelar. Cahaya putih keperakan yang semula terlihat setiap kali pedangnya bergerak, sekarang telah berubah menjadi cahaya kehitaman.


Hawa pembunuh makin menerjang. Sebelum serangan aslinya tiba, hawa yang sangat menekan malah sudah dirasakan lebih dulu.


Dengan kondisi tangan masih lemas lunglai, Zhang Fei sempat dibuat kelabakan. Dalam waktu yang sangat singkat itu, terpaksa ia harus menggunakan tangan kirinya.


Benturan dua senjata pusaka terjadi lagi. Kali ini giliran Pendekar Pedang Perpisahan yang berada di posisi menyerang.


Permainan pedng yang dia lakukan sangat hebat. Decitan angin tajam dan sinar yang bergulung-gulung semakin memburu ke tubuh Zhang Fei. Sekarang, anak muda itu sudah diselimuti oleh kehebatan serangannya.


Untuk beberapa jurus di awal, Zhang Fei memang masih bisa mempertahankan posisinya. Tapi setelah berjalan sembilan jurus, dia sudah merasa tidak sanggup lagi.


Beberapa kali Pedang Raja Dewa hampir terlepas dari genggaman tangannya. Untunglah ia masih bisa mempertahankan pusaka tersebut.


Dalam hatinya, dia sudah bertekad bulat, apapun yang terjadi, Pedang Raja Dewa tidak boleh lepas dari genggaman tangan.


Sebagai pendekar pedang, tentu dia pun menganut satu hal yang sama dengan para pendekar pedang lainnya.


"Apabila pedangnya terlepas dari genggaman tangan dan jatuh ke tanah, maka pada saat itulah nyawanya melayang".


Pedang hilang, nyawa melayang!


Sementara itu di sisi lain, sejak awal duel berlangsung, Yin Yin terlihat sangat fokus memperhatikan ke tengah-tengah arena pertarungan.


Setiap kali Zhang Fei berada di posisi yang berbahaya, dia pasti akan berseru tertahan. Entah mengapa, Yin Yin merasa sangat khawatir pendekar muda itu akan kalah di tangan tokoh sesat yang berduel dengannya.


Rasa khawatir itu bukan datang dari rasa iba. Bukan pula datang dari perasaan ingin balas budi karena Zhang Fei sudah menyelamatkan nyawanya.


Melainkan kekhawatiran tersebut datang dari perasaan lain. Entah apa nama perasaan itu. Karena dia sendiri tidak bisa mengetahuinya.


Yang jelas, Yin Yin tidak mau Zhang Fei tewas. Kalau sampai Pendekar Pedang Perpisahan berhasil membunuhnya, maka dia akan langsung menuntut balas.


Meskipun kondisinya sekarang sangat tidak memungkinkan, tapi Yin Yin tidak perduli. Rasanya lebih baik mati bersama daripada harus menyaksikan kematian Zhang Fei.


Waktu terus berlalu. Duel antara dua pendekar pedang itu pun semakin berjalan lebih seru.


Pendekar Pedang Perpisahan sudah menguasai medan pertarungan dengan sempurna. Dia berhasil menciptakan luka goresan dan sedikit tusukan di beberapa bagian tubuh Zhang Fei.


Rasa perih yang teramat sangat sudah menjalar ke seluruh tubuh. Darah merah yang segar juga telah keluar cukup banyak.


Sebenarnya Zhang Fei sudah tidak kuat lagi. Namun dia tetap memaksakan diri untuk terus bertahan.


Trangg!!! Bukk!!!


Di tengah-tengah adu jurus pedang, tiba-tiba tokoh sesat itu melakukan gerakan tak terduga. Ia menepis pedang Zhang Fei sampai pertahanannya terbuka lebar.


Berhasil dengan usaha tersebut, Pendekar Pedang Perpisahan langsung melayangkan hantaman telapak tangan yang mengenai dadanya dengan telak.


Tubuh Zhang Fei langsung terlempar ke belakang. Ia bergulingan di atas tanah dan dan baru berhenti setelah menubruk sebatang pohon besar.


Zhang Fei batuk satu kali. Bersamaan dengan itu, terlihat ada darah kental yang ikut keluar dari mulutnya.


"Hahaha ... anak muda, apakah kau sudah menyerah?" tanya Datuk Dunia Persilatan itu sambil tertawa lantang.


Ia sangat senang melihat lawannya mengalami luka yang cukup parah. Kalau mau, datuk sesat tersebut bisa saja membunuh Zhang Fei pada detik itu juga.


Tapi dia tidak mau melakukan hal itu. Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu bukan orang yang tergesa-gesa. Setiap apa yang akan dilakukannya harus diperhitungkan dengan matang.


Lagi pula, di satu sisi dia pun ingin melihat lebih jauh penderitaan yang dialami oleh Zhang Fei. Hitung-hitung membalas rasa sakit yang dirasakan oleh muridnya dulu sebelum ia tewas.


Karena beberapa alasan tersebut, tokoh sesat itu kemudian berjalan secara perlahan menghampiri Zhang Fei yang sudah tidak berkutik lagi.


Ketika jaraknya sudah semakin dekat, tiba-tiba seseorang terlihat muncul dari balik bayang-bayang pohon. Orang tersebut bukan lain adalah Jenderal Gu yang sebelumnya melarikan diri dari medan pertarungan!


"Rupanya kau berani juga memunculkan diri," kata Pendekar Pedang Perpisahan dengan nada hambar.


"Apakah sejak tadi, Tuan sudah merasakan kehadiranku?" tanya Jenderal Gu sambil tersenyum getir.


"Ya, aku sudah merasakannya. Hanya saja aku tidak terlalu memperdulikan hal tersebut,"


"Mengapa demikian?"


"Karena aku harus berfokus terhadap pertarungan yang berlangsung,"


Jenderal Gu menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah menarik nafas, dia kembali bicara.


"Menurut pendapat Tuan Wu, bagaimana kemampuan bocah ini?"


"Ia cukup hebat. Malah kemampuan yang dia miliki sudah berada di atas rata-rata orang seusianya,"


"Benar. Aku setuju akan hal itu," tukas Jenderal Gu. "Tadi pun aku hampir tewas di tangannya,"


Bicara sampai di situ, tiba-tiba Jenderal Gu merasakan darah di dalam tubuhnya bergejolak dengan hebat. Setiap kali melihat wajah Zhang Fei yang saat itu sudah pucat pasi, dia selalu teringat akan pertarungannya tadi.


'Bocah inilah yang hampir membuatku mampus! Bagaimanapun juga, aku harus membalaskan sakit hati ini,' batin Jenderal Gu.


Tiba-tiba dia mencabut golok yang berada di pinggangnya. Tanpa berkata apa-apa, dia lantas mengayunkan golok tersebut ke arah Zhang Fei.


Wutt!!!


Ayunan golok dilakukan dengan segenap tenaga. Kalau sampai mengenai sasaran, niscaya tubuh Zhang Fei akan langsung terpotong menjadi dua bagian.


Siapa tahu, sebelum golok tersebut benar-benar mencapai sasaran, mendadak Jenderal Gu merasakan adanya hawa dingin yang menusuk jantungnya.


Hawa dingin itu semakin terasa dengan jelas. Disusul kemudian dengan munculnya rasa perih yang teramat sangat.


Begitu menatap ke bawah, dia sangat terkejut. Ternyata senjata milik Pendekar Pedang Perpisahan sudah menusuk jantungnya hingga tembus ke belakang.


Sungguh, dia tidak menyangka akan hal ini.


"Ke-kenapa kau membunuhku?" tanyanya dengan susah payah.


"Kau tahu, manusia macam apa yang paling aku benci?" tanyanya dengan nada dingin.


Jenderal Gu tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku paling benci kepada manusia seperti dirimu. Manusia yang suka ikut campur urusan orang lain. Manusia yang mempunyai sifat pengecut!"