Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jenderal Shu


Dua bayangan pendekar kelas atas berkelebat dengan sangat cepat. Para prajurit dan pasukan kedua belah pihak yang ada di sana, segera menghindarkan dirinya ke tempat yang lebih aman.


Mereka tidak berani terlalu dekat karena takut menjadi korban salah sasaran. Maka dari itu, orang-orang tersebut memilih untuk menjauh saja.


Saat ini, Zhang Fei masih tetap berada di pihak yang menyerang. Jurus Pedang Raja Dewa terus mengeluarkan taringnya.


Petinggi Partai Iblis Sesat itu semakin terpojok. Selama belasan jurus belakangan, dia memang masih bisa mempertahankan posisinya.


Tapi saat sepuluh jurus kemudian, dia sudah merasa tidak sanggup lagi. Perlahan namun pasti, tubuhnya mulai banyak dipenuhi oleh luka akibat tebasan dan tusukan pedang.


Darah segar keluar dari setiap mulut luka itu. Pada waktu bersamaan, tiba-tiba Zhang Fei melompat cukup tinggi.


Dia menebaskan Pedang Raja Dewa dengan keras.


Srett!!!


Dadanya terluka lebar. Bekas tebasan pedang yang dalam segera terlihat dengan jelas. Detik itu juga, dia langsung ambruk ke atas tanah.


Dua orang petinggi Partai Iblis Sesat itu akhirnya tewas menjadi korban keganasan Pedang Raja Dewa.


Zhang Fei masih berdiri di sana. Tepat di hadapan dua mayat tokoh sesat itu.


"Akhirnya dendamku mulai terbalaskan," gumamnya sambil tersenyum girang.


Setelah melewati banyak pahit pedihnya kehidupan, setelah berjuang keras dan tidak mengenal kata lelah, akhirnya semua proses itu tidak mengecewakan juga.


Secara perlahan namun pasti, dendam dan tugas-tugas yang dibebankan kepada Zhang Fei selama ini, akhirnya mulai terlaksana juga.


Ia hanya berharap supaya bisa menyelesaikan semua tugas-tugas itu secepatnya.


Sementara di satu sisi, bersamaan dengan rangkaian pertarungan para tokoh utama, pertempuran yang melibatkan banyak prajurit dan pasukan juga hampir selesai.


Rata-rata, pertempuran itu berakhir karena pihak lawan memilih untuk mengibarkan bendera putih.


Semangat bertempur mereka tiba-tiba lenyap setelah menyaksikan para pemimpinnya tewas secara mengenaskan.


Hal seperti ini sebenarnya sudah lumrah. Prajurit atau pasukan mana pun, kalau pemimpinnya sudah tewas, maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menyerah. Kalau tidak menyerah, pastilah melarikan diri sejauh mungkin.


Begitu juga dengan yang terjadi pada saat ini.


Sebagian anggota Partai Iblis Sesat dan pasukan Kekaisaran Zhou ada yang menyerah secara langsung. Sebagiannya lagi, ada juga yang berlari terbirit-birit.


Mereka yang menyerah segera ditawan. Sedangkan mereka yang melarikan diri, langsung dikejar oleh prajurit Kekaisaran.


Kini, suasana di halaman luas itu mulai bisa dikendalikan. Seorang Jenderal yang memimpin pertempuran segera berjalan menghampiri Zhang Fei.


"Salam hormat, Ketua Fei. Perkenalkan, namaku adalah Li Wu Shu," kata Jenderal tersebut sambil membungkukkan badannya.


Zhang Fei tersenyum lembut ke arahnya. "Salam hormat kembali, Jenderal Shu. Terimakasih atas perjuangan yang telah kau lakukan. Karena berkat kepemimpinanmu, kita berhasil meraih kemenangan,"


Ketua Dunia Persilatan ikut membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya.


Jenderal Shu langsung merasa malu setelah mendengar perkataan Zhang Fei barusan. Buru-buru dia berkata, "Tidak berani, tidak berani. Kemenangan ini berkat kehadiran Ketua Fei dan tokoh-tokoh lainnya. Kalau tidak ada kalian, mungkin kita sudah mengalami kekalahan telak,"


"Ah, Jenderal Shu terlalu merendah,"


Kedua orang itu saling tersenyum lembut satu sama lain. Tidak lama setelahnya, lima Datuk Dunia Persilatan yang lain segera datang menghampiri.


Mereka saling memperkenalkan dirinya masing-masing kepada Jenderal Shu. Begitu juga dengan dia sendiri.


Karena kebetulan pertempuran sudah selesai, Jenderal Shu akhirnya mengajak para tokoh itu untuk berbicara di rumah makan yang terdapat di daerah sekitar.


Untungnya dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Jenderal Shu dan yang lain sudah bisa menemukan rumah makan tersebut.


Mereka segera masuk ke dalam ruangan. Pada saat itu, suasana di sana sangat sepi. Tidak ada seorang pun pengunjung yang datang.


"Tenang saja, Tuan. Kami bukan orang jahat. Kami masih orang sendiri," kata Jenderal Shu berkata dengan nada ramah.


Pemilik rumah makan tersebut bengong sebentar sambil memandangi Jenderal Shu mulai dari atas sampai bawah.


Ketika ia menyadari bahwa orang di depannya itu adalah seorang Jenderal dari Kekaisaran Song, seketika dirinya berkeringat dingin.


Buru-buru ia mengajak pegawainya berlutut dan memberikan hormat.


"Maafkan kami, Jenderal. Kami ... kami pantas mati. Maafkan kami," katanya merasa sangat menyesal.


Ia berkata dengan suara bergetar. Sepertinya pemilik rumah makan tersebut merasa benar-benar ketakutan.


"Aih, sudahlah, Tuan. Tidak perlu seperti ini. Sekarang, siapkan saja makanan dan arak untuk kami," kaya Jenderal Shu sambil membantunya bangkit berdiri.


Pemilik rumah makan dan pegawainya segera berdiri. Setelah mendengar ucapan itu, mereka langsung pergi ke belakang untuk menyiapkan semua pesanan.


Jenderal Shu dan yang lain segera duduk di kursi yang tersedia. Sekitar sepuluh menit kemudian, beberapa macam makanan yang masih hangat sudah diantarkan oleh para pegawai tadi.


Tidak lupa juga, mereka membawa arak yang masih tersegel sebanyak lima guci berukuran besar.


"Silahkan dinikmati, Tuan-tuan," kata pemilik rumah makan.


"Terimakasih,"


Orang-orang penting itu segera menyantap menu makanan yang sudah tersedia. Begitu selesai, mereka langsung membuka segel arak dan mulai berpesta.


"Jenderal Shu, apakah orang-orang kita banyak yang menjadi korban?" tanya Zhang Fei di sela-sela pesta arak tersebut.


"Aku rasa tidak, Ketua Fei. Karena belum ada laporan dari prajurit, maka menurut dugaanku, korban di pihak kita jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang," jawab Jenderal Shu.


"Oh, syukurlah. Aku harap, ke depannya tidak banyak lagi yang menjadi korban,"


"Ya, aku juga berharap seperti itu,"


Jenderal Shu tentu saja tidak ingin prajuritnya kehilangan nyawa di medan peperangan. Siapa pun pemimpinnya, dia pasti memiliki harapan yang serupa.


Hanya saja, terkadang apa yang terjadi di lapangan itu selalu bertolakbelakang dengan apa yang diinginkan.


"Ngomong-ngomong, apakah di sekitar kota ini masih terjadi pertempuran lain?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tidak ada, Tuan Kiang. Keadaan di sekitar sini terhitung aman. Bahkan di setiap titik juga sudah ada prajurit yang diperintahkan untuk menjaganya,"


"Oh, baiklah. Syukur kalau begitu. Jadi, kami tinggal membantu di tempat-tempat lainnya,"


Yang lain segera menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


Para tokoh tersebut kembali melanjutkan pembicaraan. Mereka membahas berbagai macam hal, terutama sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan peperangan dan keadaan di beberapa wilayah lainnya.


Setelah tiga puluh menit kemudian, ketujuh orang tersebut segera pergi dari rumah makan. Mereka kembali melaksanakan tugasnya masing-masing.


Jenderal Shu langsung menghampiri prajuritnya dan bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan peperangan tadi.


Sedangkan Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan, mereka segera kembali ke tempatnya semula.


Mereka akan menunggu laporan-laporan seperti sebelumnya.


###


Mohon maaf kemarin sempat tidak up. Biasa, authornya kelelahan karena baru saja menyelesaikan kegiatan HUT RI, hehehe ...


Mungkin mulai besok, author akan up di 2 novel seperti biasanya.


Mohon pengertiannya ya ...