
"Mengapa begitu, Tuan Kiang?"
"Karena hanya itu jalan keluar satu-satunya,"
"Ahh ..." Zhang Fei mengeluh perlahan.
Sebenarnya dia sudah tahu sejak awal bahwa itu adalah jalan keluar yang terbaik. Tetapi di satu sisi, Zhang Fei juga sangat berharap akan adanya jalan keluar yang lainnya.
"Aku juga setuju dengan keputusan Kaisar," Yao Mei yang sejak kemarin hanya diam dan selalu menjadi pendengar yang baik, kini tiba-tiba ikut membuka suaranya.
Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menoleh ke arah gadis cantik itu. Mereka berdua menunggu dirinya melanjutkan ucapan barusan.
"Eh, mengapa kalian berdua memandangku seperti itu? Apakah aku tidak boleh menyampaikan pendapat? Hemm ... baiklah. Kalau begitu, maafkan aku," kata Yao Mei seketika menundukkan kepalanya.
"Tidak, Nona Mei, tidak. Maksud kami bukan begitu," tukas Zhang Fei dengan cepat.
"Lalu, apa maksud kalian?"
"Aih ... kami justru ingin mendengarkan pendapatmu lebih jauh lagi,"
"Benar, Nona Mei. Ayo, teruskan kembali pendapat itu," Dewa Arak Tanpa Bayangan menyambung ucapan Zhang Fei, dia meminta supaya Yao Mei berbicara lebih lanjut.
Karena sedikit dipaksa, pada akhirnya gadis itu pun bersedia untuk melanjutkan kembali ucapannya.
"Baiklah," Yao Mei menarik nafas panjang. Setelah itu, dia berkata lagi, "Menurutku, Kaisar dan para penasihatnya sudah mengambil keputusan yang tepat. Mungkin mereka ingin mengakhiri perang dan meminimalisir kerugian dari beberapa pihak yang terlibat,"
"Kalau perang ini terus berlangsung dan berkepanjangan, niscaya korban yang akan tercipta pun akan jauh lebih banyak lagi. Bukan hal yang mustahil juga, rakyat yang tidak bersalah akan kembali menjadi korban salah sasaran,"
"Dengan kerugian sebanyak ini, bukankah lebih baik mengakhiri perang dan mencari jalan keluarnya?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan tampak mengangguk sebagai tanda setuju. Namun sebelum dia bicara, Zhang Fei malah sudah mendahuluinya.
"Ya, aku juga tahu akan hal ini, Nona Mei. Tapi ... mengapa pula harus ada pertandingan? Mengapa tidak berdamai saja?"
"Tidak bisa, Zhang Fei," ungkap Yao Mei sambil menggelengkan kepala. "Perdamaian tidak akan bisa diraih sebelum adanya penyelesaian. Empat Kekaisaran sudah terlanjur mengambil tindakan serius. Di satu sisi, masing-masing dari mereka pun mempunyai ambisi yang sangat besar untuk menjadi penguasa. Dengan semua hal ini, bagaimana mungkin mereka mau berdamai begitu saja?"
"Begitu ya ..." Zhang Fei mengangguk dan melemparkan senyuman dingin. "Jadi, maksud Kaisar mungkin begini, dia berniat untuk mengakhiri perang besar supaya tidak ada korban yang berjatuhan lagi. Dan sebagai gantinya, dia bermaksud untuk mengorbankan aku dan Tuan Kiang," katanya dengan nada hambar.
"Anak Fei! Hati-hati kalau bicara," Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menegur Zhang Fei dengan nada serius. Bahkan dalam pada itu, ia sedikit membentaknya.
Zhang Fei sendiri dibuat cukup terkejut. Buru-buru dia bertanya, kenapa, Tuan Kiang? Apakah ucapanku salah?"
"Ya, bahkan sangat salah!" tegasnya sambil menatap serius.
Setelah berganti nafas, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera melanjutkan lagi bicaranya. "Asal kau tahu saja, anak Fei, Kaisar Song Kwi Bun bukan tipe manusia seperti itu. Dia tidak mungkin mau mengorbankan orang lain begitu saja,"
"Tidak mungkin bagaiamana? Bukankah secara tidak langsung, malah kita sendiri yang dikorbankan olehnya?"
Setelah selesai, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali bicara.
"Anak Fei, seperti apa yang dikatakan oleh Nona Mei sebelumnya, Kaisar terpaksa mengambil keputusan ini dengan tujuan untuk meminimalisir jumlah korban dan kerugian. Kalau pun selanjutnya malah kita berdua yang terpilih, hal itu sah-sah saja. Bahkan tidak ada salahnya sama sekali,"
"Jangan lupa, kita adalah seorang pendekar. Mati hidup bukan suatu persoalan yang serius. Bagi para pendekar, khususnya yang berasal dari aliran putih, hidup bermanfaat adalah tujuan yang paling utama. Asalkan berjuang di jalan yang benar, maka mati pun tidak akan menjadi masalah,"
"Jika kau belum paham atau tidak bisa menerima kenyataan tersebut, aku rasa ... mulai saat ini lebih baik kau mengundurkan diri saja. Dunia persilatan tidak butuh sosok sepertimu. Rimba hijau pun tidak membutuhkan ketua yang pengecut!"
Perkataan Dewa Arak Tanpa Bayangan itu terdengar jelas di telinga Zhang Fei dan Yao Mei.
Bagi Ketua Dunia Persilatan, perkataan tersebut sangat menyakitkan. Rasanya, perkataan itu ibarat cambuk yang dilecutkan ke seluruh tubuh dengan sekuat tenaga.
Namun dalam waktu yang bersamaan, perkataan itu juga telah menyadarkannya.
Zhang Fei terdiam cukup lama. Kepalanya tertunduk ke bawah. Saat ini, dia sedang memikirkan dan menyerap makna dari ucapan yang telah dilontarkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Maafkan aku, Tuan Kiang. Aku tahu, dalam masalah ini, aku telah banyak melakukan kesalahan. Maka dari itu, aku benar-benar meminta maaf,"
Zhang Fei kemudian bangkit berdiri. Ia membungkukkan badan tepat di hadapan orang tua itu.
"Sudahlah, anak Fei. Duduklah kembali," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil memegangi pundak Zhang Fei. "Jangan terlalu terbawa suasana. Sebisa mungkin, kau harus selalu tenang supaya bisa berpikir jernih,"
"Baik, Tuan Kiang. Aku mengerti," kayanya sambil tersenyum.
Zhang Fei menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan leluasa. Ia melakukan hal itu sampai beberapa kali.
Setelah perasaannya kembali tenang, ia berkata lagi. "Kau benar, Tuan Kiang. Sebagai seorang pendekar, kita seharusnya tidak boleh takut mati. Mati atau hidup itu persoalan kecil, yang terpenting, kita harus tetap bisa menjaga harga diri sampai kapan pun juga,"
"Sebagai Ketua Dunia Persilatan, memang sudah seharusnya aku maju di barisan paling depan. Apalagi, aku sudah mendapat amanat langsung dari Kaisar. Memang atau kalah, itu bagaimana nanti saja. Sekarang, kita harus segera menyiapkan diri. Sehingga ketika rencana ini benar-benar terwujud, kita sudah punya persiapan yang matang," kata Zhang Fei bicara panjang lebar.
"Hahaha ... bagus, bagus sekali. Akhirnya kau telah kembali sadar," orang tua itu tertawa lantang.
Yao Mei yang ada di sisinya pun ikut tersenyum girang. "Percayalah, kau pasti mampu menyelesaikan semuanya dengan baik," gadis itu berkata sambil menatap wajah Zhang Fei. Dia pun memberikan senyuman manis yang mampu mengubah suasana.
Ketua Dunia Persilatan membalas senyuman tersebut. Entah kenapa, setiap kali memandang mata dan melihat senyuman Yao Mei, Zhang Fei akan merasa hatinya langsung hangat.
Baginya, tatapan dan senyuman Yao Mei itu seperti membawa kekuatan tersendiri. Kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ayo, sekarang kita segera habiskan arak dan daging segar ini supaya bisa melanjutkan perjalanan kembali,"
"Baik,"
"Mari kita bersulang,"
Ketiganya tertawa. Kegembiraan kembali dirasakan oleh mereka. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, arak dan daging segar itu akhirnya sudah masuk ke dalem perut.