Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lencana Naga Kekaisaran II


Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala secara bersamaan. Mereka sangat setuju dengan ucapan Kaisar Song Kwi Bun.


Kalau seorang pendekar sejati sudah berjanji, niscaya dia tidak akan pernah mengingkari janjinya tersebut.


Daripada mengingkari janji yang sudah keluar dari mulutnya, para pendekar lebih memilih untuk mati bunuh diri.


Penyerahan Lencana Naga Kekaisaran telah selesai. Kini mereka sudah duduk kembali di kursinya masing-masing.


Kaisar Song Kwi Bun tidak hanya diam saja. Dia pun mulai membicarakan berbagai macam hal bersama para tokoh dunia persilatan itu.


Mulai dari keadaan politik di negerinya, sampai pada keadaan dunia persilatan saat ini.


Pembicaraan mereka benar-benar serius. Malah sesekali, Kaisar juga memberitahukan rencananya untuk menghadapi situasi sekarang.


"Dengan adanya Lencana Naga Kekaisaran ini, aku harap kalian bisa menjadi wakil dari Kekaisaran. Kalau ada masalah apapun yang menyangkut urusan politik atau hal-hal yang merugikan rakyat, maka laporkan lah dengan segera," katanya kepada semua tamu.


"Baik, Kaisar. Kami pasti akan mengingat hal ini,"


Kaisar Song Kwi Bun tersenyum simpul. Tanpa sengaja dia melirik ke arah Zhang Fei. Sejak awal sampai sekarang, dia baru menyadari bahwa ternyata di antara mereka ada seorang pendekar yang usianya masih sangat muda.


Dia sangat penasaran terhadap pendekar muda itu. Dalam hati, Kaisar percaya penuh bahwa pemuda tersebut pasti tidak terlihat sederhana seperti yang dilihatnya.


"Nama pendekar muda ini adalah Zhang Fei, Kaisar," kata Orang Tua Aneh Tionggoan setelah menyadari bahwa Kaisar sedang menyelidikinya.


"Oh, nama yang bagus. Marga Zhang itu jadi mengingatkan aku kepada seseorang,"


"Siapa orang itu, Kaisar?" tanpa sadar, Zhang Fei berkata dengan cepat.


"Zhang Xin. Orang itu adalah Tuan Zhang Xin adanya," jawab Kaisar tanpa ragu. "Walaupun bukan pejabat di Istana Kekaisaran, tapi apa yang dilakukannya untuk negara ini benar-benar besar. Jasanya tidak bisa digantikan dengan apapun juga. Apalagi, sejak dulu Keluarga Zhang memang selalu membantu pemerintahan,"


Mendengar nama ayah dan keluarganya disebut oleh Kaisar, seketika hari Zhang Fei langsung berdebar keras. Dia tidak percaya, ternyata keluarganya itu benar-benar terkenal. Bahkan sampai Kaisar sendiri mampu mengingatnya dengan sangat baik.


"Kaisar, asal Anda tahu saja, sebenarnya Zhang Fei ini memang merupakan anak dari si Pedang Kilat Zhang Xin. Ia adalah keturunan terakhir dari Keluarga Zhang yang tersisa saat ini," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berbicara.


"Eh? Benarkah yang Tuan Kiang katakan itu?" tanya Kaisar sambil melirik ke arahnya.


"Benar, Kaisar. Hanya saja, kami sengaja menyembunyikan identitasnya dari banyak orang. Karena setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata Keluarga Zhang ini memiliki banyak musuh, mengingat bagaimana sepak terjangnya di masa lalu,"


Sejak dahulu, Keluarga Zhang selalu menentang keras aliran hitam dan sejenisnya. Siapa pun yang berbuat jahat dan merugikan banyak orang, maka Keluarga Zhang pasti akan segera menindaknya.


Karena itulah tidak heran kalau Keluarga Zhang mempunyai musuh yang berasal dari berbagai kalangan.


Sementara itu, ketika mendengar ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan, seketika Kaisar langsung menampilkan ekspresi wajah terkejut bercampur gembira.


Setelah berhasil menguasai diri, dia berkata lagi. "Syukurlah, aku sangat bersyukur bahwa Keluarga Zhang masih mempunyai seorang keturunan. Terbukti sekarang, keturunannya tidak berbeda jauh dengan para leluhurnya di masa lalu. Baik dalam hal ilmu silat maupun dalam kepedulian terhadap tanah air dan sesama,"


Dia tidak datang berusaha menyanjung Zhang Fei. Apa diucapkan oleh Kaisar adalah yang sebenarnya.


Kaisar Song Kwi Bun benar-benar merasa kagum terhadap keluarga tersebut.


"Aku harap para Datuk Dunia Persilatan akan menjaga keturunan terakhir Keluarga Zhang ini sampai dia benar-benar berada di puncak kejayaannya,"


"Pasti, Kaisar. Kami pasti akan menjaganya dengan nyawa sendiri,"


"Bagus. Aku percaya hal itu,"


Di satu sisi, Zhang Fei terlihat kebingungan. Dia menjadi tidak enak karena keluarganya di sanjung oleh Kaisar secara langsung.


Maka dari itulah, sepanjang mereka berbicara seperti itu, Zhang Fei memilih diam dan menundukkan kepalanya.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan sore hari. Pembicaraan di ruangan khusus tersebut akhirnya berakhir. Kaisar meminta kepada lima orang tamunya untuk tidak langsung pulang.


Dia menyuruh mereka menginap di Istana Kekaisaran barang beberapa hari.


Karena merasa tidak enak untuk menolak, akhirnya Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan pun setuju untuk tinggal sementara di Istana Kekaisaran.


###


Tanpa terasa lima hari sudah berlalu kembali. Selama berada di Istana Kekaisaran, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan dilayani dengan sangat baik.


Selama tinggal di sana, masing-masing dari mereka didampingi oleh satu orang pelayan. Sehingga apapun yang mereka inginkan dan butuhkan, pasti akan segera dilayani dengan sangat baik.


Sekarang masih pagi hari, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan sudah berada diluar pintu utama. Mereka akan berpamitan pergi dari Istana Kekaisaran.


"Mengapa kalian tidak tinggal lebih lama lagi?" tanya Kaisar kepadanya.


"Ah, kami merasa tidak enak, Kaisar," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Lagi pula, masih ada banyak hal yang harus kami kerjakan,"


"Baiklah. Aku tidak bisa memaksa lagi,"


Sebelum para tamu itu benar-benar pergi, Kaisar Song Kwi Bun lebih dulu memberikan sedikit bekal kepada mereka semua. Satu orang mendapat bagian satu kantung berisi kepingan emas.


Setelah proses pamitan selesai, dengan segera mereka pun pergi dari sana.


"Maaf, aku tidak bisa mengantar kepergian kalian lebih jauh. Aku harus melatih dulu para prajurit," ucap Jenderal Qi Guan sedikit merasa menyesal.


"Tidak masalah, Jenderal. Aku mengerti," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Semoga di lain hari, kita bisa berjumpa lagi,"


"Yah, semoga saja demikian,"


Lima orang tersebut berjalan semakin jauh. Para prajurit Istana Kekaisaran yang berada di pinggir jalan, langsung membungkukkan badan memberikan hormat ketika mereka melewatinya.


Beberapa waktu kemudian mereka sudah tiba di pintu gerbang bagian depan. Tanpa berlama-lama lagi, lima orang itu segera mempercepat langkahnya.


Sebelum matahari tenggelam, mereka sudah berada cukup jauh dari Istana Kekaisaran. Dewa Arak Tanpa Bayangan mengajak yang lainnya mampir dulu ke rumah makan mewah.


"Seumur hidup, aku belum pernah ditraktir oleh orang yang lebih muda," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berkata.


"Benar, aku juga sudah bosan ditraktir terus olehmu, setan arak," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Sepertinya kalau ditraktir makan oleh anak muda, makanan apapun pasti akan bertambah lezat," sambung Pendekar Tombak Angin sambil tertawa.


"Aih ... ternyata kita satu pemikiran," Dewi Rambut Putih tidak mau kalah. Dia pun mengikuti 'permainan' yang dimainkan oleh tiga rekannya.


Sementara Zhang Fei, dia pun sangat paham dengan apa yang dibicarakan oleh mereka semua. Karena itulah tanpa membuang waktu, dia segera berkata.


"Kita cari rumah makan termewah. Kali ini, biar aku yang mentraktir kalian semua,"


"Bagus sekali!"


"Hahaha ..."


Mereka pergi sambil tertawa-tawa penuh riang gembira sambil mencari rumah makan yang cocok dengan selera.