Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lu Tan Cu


Tiga orang pria tua itu saling pandang. Mereka tidak percaya dengan apa yang dialaminya barusan.


Bagaimana mungkin goloknya yang terbuat dari baja, bisa patah begitu saja? Siapa yang melakukannya? Apakah pemuda itu? Kalau benar, dengan cara apa ia mematahkan senjatanya?


Mereka terpaku di tempat masing-masing. Walaupun dalam pikirannya ada banyak pertanyaan yang muncul, namun tidak ada satu pun yang mereka ajukan.


Cukup lama orang-orang itu memandangi golok yang tinggal sebagian tersebut. Hingga beberapa waktu kemudian, salah satu dari mereka berkata.


"Kita laporkan hal ini kepada Tuan Muda," katanya.


"Baik, kalau begitu mari kita pergi sekarang,"


Mereka langsung berlalu. Ketiganya berjalan menuju ke sebuah rumah makan yang jaraknya tidak begitu jauh.


Bersamaan dengan berlalunya tiga pria itu, Zhang Fei juga segera pergi. Dia tidak mau mendapatkan masalah. Apalagi hanya gara-gara seekor kuda saja.


Buru-buru ia menaiki kuda dan menyuruhnya untuk berlari.


Sedangkan di tempat lain, tiga pria tadi kini sudah berada di dalam rumah makan sederhana. Di sebuah meja, terlihat ada seorang pemuda dengan pakaian mewah.


Warna pakaiannya merah menyala. Siapa pun bisa menilai bahwa itu adalah pakaian mahal.


Di sekitar tempat duduknya masih ada dua orang tua lagi. Keduanya sedang melayani si pemuda. Dilihat dari bagaimana sikap mereka, sudah tentu pemuda itulah yang menjadi majikan tiga pria tadi.


"Tuan Muda, Tuan Muda ..." ucap salah seorang pria yang baru saja bertarung melawan Zhang Fei.


"Ada apa?" pemuda itu menjawab dengan nada dingin.


"Kami ..."


"Kau tidak berhasil mendapatkan kuda itu?" tanyanya memotong pembicaraan.


"Ampun, Tuan Muda. Rupanya ... rupanya si pemilik kuda bukan orang sembarangan,"


"Omong kosong!" dia menggebrak meja. Sampai-sampai semua yang ada di atasnya mencelat ke atas.


Tiga pria tadi tidak ada yang berani bicara lagi. Bahkan mengangkat muka pun tidak. Mereka benar-benar ketakutan melihat majikannya marah.


"Kau tidak memberitahu siapa yang menginginkan kudanya?" tanya pemuda itu lebih cepat.


"Su-sudah. Tapi ... tapi dia malah tidak mau mendengar,"


"Hemm ... kalian serius?" tanyanya dengan sorot mata setajam pisau.


"Kami ... kami serius. Mana berani kami berbohong," sahut pria tua yang lain.


Mendengar laporan itu, si pemuda langsung naik darah. Tanpa banyak berkata, dia langsung bangkit dari posisinya, lalu kemudian berjalan keluar.


Dua pria tadi segera mengikutinya. Namun sebelum itu, tidak lupa mereka membayar biaya makan barusan.


Keenam orang tersebut kini sudah ada diluar. Persis di mana terjadinya perselisihan.


"Mana dia?" tanya pemuda itu lagi.


"Tadi ... tadi dia berada di sini,"


"Mungkin pemuda itu sudah pergi, Tuan Muda," kata salah satu pria yang melayaninya di dalam rumah makan. "Lebih baik, kita lupakan saja kejadian ini. Sekarang mending kita kembali ke tenda. Siapa tahu, Ketua sudah menunggu di sana,"


Pemuda itu melirik ke arahnya dengan ekor mata. Ia menjawab, "Tidak bisa begitu saja. Bagaimanapun juga, aku harus bisa menemukannya. Supaya dia tahu, siapa itu Lu Tan Cu,"


"Ayo kita cari dia," katanya dengan tegas.


Lima pria tua itu tidak bisa membantah lagi. Mereka hanya mampu menghela nafas berat dan panjang. Sebenarnya dalam hati masing-masing, mereka tidak ingin memperpanjang masalah ini.


Apalagi dalam keadaan sekarang, terdapat banyak sekali orang-orang persilatan yang berilmu tinggi.


Lalu, bagaimana kalau si pemilik kuda adalah salah satu dari orang-orang tersebut?


###


Malam sudah datang menyelimuti muka bumi. Malam ini benar-benar gelap. Rembulan tidak terlihat sama sekali karena telah tertutup oleh gumpalan awan hitam.


Di atas langit sudah terdengar gemuruh guntur yang tidak pernah berhenti. Kilat terus menyambar-nyambar. Angin pun berhembus cukup kencang.


Saat itu, Zhang Fei sedang berjalan sambil menuntun kuda. Ia masih berada di wilayah kaki Gunung Lima Jari.


"Sepertinya hujan akan segera turun," gumamnya sambil memandang ke atas.


Karena tidak mau diguyur hujan, Zhang Fei segera melanjutkan lagi langkahnya. Ia ingin mencari tempat untuk berteduh. Kebetulan tidak berapa jauh dari sana, ada sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya.


Zhang Fei bergegas menuju ke sana. Ia kemudian duduk dengan santai di teras depan bersama kuda putihnya.


Tidak lama kemudian, rupanya hujan benar-benar turun membasahi bumi. Dalam waktu sekejap saja, permukaan tanah yang tadi berdebu, sekarang sudah becek karena diguyur air hujan.


Pada saat itu, mendadak Zhang Fei melihat ada enam orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Terkait siapa saja orang-orang itu, ia tidak terlalu tahu. Apalagi dalam keadaan hujan lebat seperti sekarang.


Tapi beberapa saat kemudian, ia segera tahu siapa saja mereka.


"Rupanya mereka yang tadi berselisih denganku. Mau apa orang-orang itu datang kemari?" Zhang Fei bergumam sambil terus mengawasinya dengan pasti.


Sekitar beberapa helaan nafas kemudian, keenamnya sudah tiba di hadapan Zhang Fei. Tanpa banyak basa-basi lagi, si pemuda yang mengaku bernama Lu Tan Cu itu langsung berjalan lebih dekat.


"Apakah kau pemilik kuda ini?" tanyanya sambil menunjuk kuda putih yang sedang berdiri memandangi hujan.


"Benar. Siapa suadara?" tanya Zhang Fei pura-pura belum tahu.


"Aku adalah majikan dari mereka," ia menunjuk lagi ke arah tiga pria tadi. "Kenapa kau tidak menjual kuda itu?"


"Karena aku tidak ingin,"


"Apakah harga yang mereka tawarkan terlalu murah?"


"Tidak," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala. "Malah harga yang diberikan terlampau tinggi,"


"Lalu, kenapa kau tidak mau menjualnya? Apakah dirimu sudah memiliki banyak uang?"


"Meskipun aku tidak mempunyai banyak uang, tapi kau harus ingat bahwa uang bukanlah segalanya," tegas Zhang Fei.


"Tapi segalanya memerlukan uang," kata Lu Tan Cu tidak mau kalah.


"Kau keliru,"


"Aku keliru?"


"Benar. Di dunia ini, masih ada banyak hal yang tidak memerlukan dan bahkan tidak bisa dibeli dengan uang,"


"Apa itu?"


"Semua hal yang menyangkut perasaan tidak memerlukan uang. Hanya dengan membuktikannya saja, itu sudah jauh daripada cukup,"


Zhang Fei menghela nafas sebentar. Lalu melanjutkan lagi bicaranya. "Aku tidak menjual kuda ini karena sudah merasa sayang. Bagiku, rasa sayang ini tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun juga,"


Lu Tan Cu menatap Zhang Fei lekat-lekat. Tiba-tiba dia tertawa lantang.


"Omong kosong! Yang kau ucapkan itu hanya bualan saja. Kau tahu siapa aku?"


"Aku tidak tahu,"


"Kalau begitu perkenalkan, aku adalah Lu Tan Cu. Anak tunggal dari Ketua Perguruan Harimau Utara, Lu Bai," katanya dengan angkuh.


"Maaf, aku tidak tahu. Mendengar nama perguruan itu pun baru sekarang saja," jawab Zhang Fei acuh tak acuh.


Dia tidak berbohong. Selama hidupnya, ia memang merasa baru mendengar ada perguruan silat dengan nama seperti itu.