
Posisi Zhang Fei duduk bersila adalah membelakangi Orang Tua Aneh Tionggoan. Setelah kedua matanya terpejam dan dia terlihat siap, tiba-tiba Datuk Dunia Persilatan tersebut menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya.
Ia kemudian menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Zhang Fei. Rasa hangat langsung masuk menjalar ke seluruh tubuh.
Rasa hangat itu tiba-tiba berubah menjadi panas. Sangat panas. Hampir saja Zhang Fei tidak kuat menahannya. Untunglah dia sudah terbiasa dengan hal semacam ini.
Sehingga lama kelamaan Zhang Fei semakin tidak merasakan lagi hawa panas tersebut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba hawa panas itu lenyap begitu saja. Digantikan dengan hawa dingin seperti es yang menusuk ke setiap jalan darah di tubuhnya.
Sepuluh menit berikutnya, Orang Tua Aneh Tionggoan sudah menarik kembali kedua telapak tangannya dari punggung Zhang Fei. Keringat dingin terlihat membasahi seluruh tubuh. Sepertinya hawa murni yang dia keluarkan tidak sedikit. Hal tersebut bisa terlihat dari ekspresi wajahnya yang kelelahan.
"Buka matamu, anak Fei," katanya memberikan perintah kepada Zhang Fei.
Anak muda itu langsung membuka mata. Sekarang dia merasakan seluruh tubuhnya menjadi lebih segar dan lebih ringan. Rasa sakit yang sebelumnya timbul akibat luka tusukan dari Nenek Tua Seribu Jarum, kini sudah hilang begitu saja.
"Terimakasih, Tuan Kai," kata Zhang Fei dengan nada sopan.
Orang Tua Aneh Tionggoan mengangguk sambil tersenyum. Ia mengatur nafasnya untuk beberapa saat.
"Bagaimana kondisi anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan setalah beberapa saat kemudian.
"Dia hampir saja terkena racun dari Jarum Kembar Emas Perak milik nenek tua itu. Untunglah daya tayan tubuh dan tenaga dalamnya tidak rendah. Sehingga secara otomatis, tubuhnya telah memperlambat reaksi dari racun tersebut," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.
Perlu diketahui, setiap jarum halus yang dikeluarkan oleh Nenek Tua Seribu Jarum, itu sebenarnya mengandung racun yang cukup berbahaya. Satu jarum halus itu bahkan bisa membunuh pendekar kelas dua hanya dalam hitungan detik saja.
Sedangkan ini, Zhang Fei justru malah tertusuk oleh Jarum Kembar Emas Perak yang ukurannya puluhan atau ratusan kali lipat lebih besar daripada jarum halus, jadi bisa dibayangkan betapa berbahayanya racun yang terkandung di dalam senjata itu.
Untung tenaga dalamnya sudah meningkat pesat dan daya tahan tubuhnya sudah terbiasa ditempa sejak kecil. Coba kalau tidak begitu, mungkin saat ini Zhang Fei sudah tewas mengenaskan karena efek dari racun milik Nenek Tua Seribu Jarum.
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi ikut senang mendengarnya," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum.
Kelima orang tokoh dunia persilatan tersebut tidak langsung pergi dari hutan. Mereka masih diam di sana dan bahkan sempat berpesta arak untuk beberapa waktu.
Setelah hari sudah masuk sore, Zhang Fei meminta izin untuk pergi ke dalam hutan. Dia berniat mencari binatang buruan untuk santapan mereka berlima.
###
Malam sudah tiba menyapa alam mayapada. Hujan deras yang sejak tadi mengguyur, sekarang sudah reda. Hujan itu menyisakan genangan air dan hawa dingin yang menusuk tulang belulang.
Di depan Padang rumput yang sangat luas, para prajurit yang tersisa sebanyak seratusan orang itu, saat ini mereka sudah mulai bekerja kembali.
Orang-orang itu mengumpulkan senjata dan benda-benda lainnya yang berserakan di atas tanah akibat dari pertempuran.
Tidak lupa juga, mereka mengumpulkan ribuan mayat yang bergelimpangan. Khususnya adalah mayat-mayat dari pasukan Kekaisaran Song yang gugur di medan perang.
Di dalam sebuah tenda, Jenderal Guan tampak sedang duduk sambil memandang ke arah luar. Di depannya ada sebuah meja. Di atas meja ada beberapa guci arak dan hidangan ringan yang tersedia.
Dalam pada itu, tiba-tiba dari luar terdengar ada beberapa langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Saat tiba di depan, ternyata suara langkah kaki tersebut berasal dari Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Ah, rupanya kalian," Jenderal Guan langsung bangkit berdiri dan berjalan menghampiri kelima orang tersebut. "Mari, silahkan masuk. Kebetulan masih ada banyak arak yang tersisa," ujarnya mempersilahkan.
"Terimakasih, Jenderal Guan. Kau memang selalu tahu kebiasaan kami," Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara sambil tertawa. Tanpa malu-malu, ia langsung masuk lebih dulu dan membuka guci arak yang masih tersegel.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan terdengar memenuhi seisi tenda. Orang-orang itu bersulang arak untuk beberapa waktu lamanya.
Setelah puas minum arak, terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan mulai berbicara serius.
"Jenderal, berapa banyak pasukan kita yang tersisa?" tanyanya sambil memandang ke arah Jenderal Guan.
"Kurang lebih ada seratus orang, Tuan Kai," kata Jenderal Guan menjawab cepat. "Setelah mendapat perawatan dan istirahat selama beberapa waktu, keadaan mereka sekarang sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya,"
"Lalu, bagaiamana dengan pasukan musuh?"
"Pasukan musuh hampir semuanya tewas di tangan prajurit kita,"
"Hampir semuanya? Lalu, ke mana sisanya?"
"Sisanya telah melarikan diri. Termasuk juga orang-orang dunia persilatan dari Kekaisaran Zhou yang hadir dalam peperangan,"
"Lantas, Jenderal tidak mengejarnya?"
"Tidak,"
"Kenapa?"
"Karena pada saat itu prajurit di bawah pimpinanku sudah kelelahan. Lagi pula, menurutku lebih baik mengurusi yang sudah pasti, daripada yang belum pasti,"
Orang Tua Aneh Tionggoan menganggukkan kepala beberapa kali. Menurutnya, keputusan yang telah diambil oleh Jenderal Guan memang tidak salah.
Sementara itu, setelah dirinya diam, terdengar Dewa Arak Tanpa Bayangan juga mengajukan pertanyaan kepada dirinya.
"Jenderal, menurutmu, apakah pihak musuh akan melakukan penyerangan lagi?"
Orang tua itu bertanya dengan wajah serius. Dia khawatir Kekaisaran Zhou akan datang dengan jumlah pasukan yang lebih banyak dan membalaskan kekalahannya.
Menurut Dewa Arak Tanpa Bayangan, hal seperti ini sangat mungkin sekali terjadi. Apalagi, jumlah kerugian yang mereka tanggung tidaklah sedikit.
Empat orang lainnya juga menganggukkan kepala. Mereka pun setuju dengan kekhawatiran Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Sebenarnya hal seperti itu sangat mungkin sekali terjadi, Tuan Kiang," ujarnya membenarkan. "Tapi dalam hal ini, kita tenang saja, aku sangat yakin Kekaisaran Zhou tidak akan melakukan penyerangan. Setidaknya, mereka membutuhkan waktu tidak sebentar apabila ingin mengambil langkah yang sama,"
Jenderal Guan percaya bahwa ucapannya itu tidak akan salah. Apalagi dia sudah sering terlibat dalam sebuah peperangan.
Sebelum melakukan penyerangan susulan, pihak Kekaisaran Zhou pasti akan berpikir berulang kali.
Setidaknya, para prajurit yang berhasil kembali ke Istana Kekaisarannya pasti akan menceritakan bagaimana keadaan di medan peperangan.
"Baguslah kalau begitu. Kita juga bisa punya waktu untuk mempersiapkan langkah selanjutnya," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ya, benar, Tuan Kiang. Aku juga sudah mengirimkan surat kabar kemenangan ini ke Istana Kekaisaran Song. Selain itu, aku pun telah meminta Kaisar untuk mengirimkan prajurit guna membereskan bekas-bekas peperangan di tempat ini,"