Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiba di Kuil Kehidupan


"Aku akan membawa sepuluh orang anggota pilihan. Apakah ini sudah cukup?" tanya Yin Yin setelah tiba di sisi Zhang Fei.


"Ya, bahkan sudah lebih dari cukup,"


"Baiklah. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga,"


"Kau saja yang memimpin perjalanan ini, Yin Yin. Aku tidak tahu di mana Kuil Kehidupan," kata Zhang Fei sambil tersenyum.


"Baik. Mari kita berangkat!"


Wushh!!! Wushh!!!


Tiga belas bayangan manusia melesat bagaikan kilat. Masing-masing dari mereka sudah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Karena jarak dari Partai Pengemis ke Kuil Kehidupan itu tidak terlalu jauh, maka Zhang Fei memutuskan untuk tidak menaiki kuda.


Hal itu bertujuan supaya mereka bisa bergerak lebih leluasa lagi.


Menurut apa yang telah dikatakan oleh Yin Yin, siang hari nanti, mereka pasti akan berhasil tiba di sana.


Supaya mempercepat waktu yang ada, maka para pendekar itu tidak banyak bicara selama perjalanan berlangsung.


###


Saat ini sudah masuk siang hari. Yin Yin tiba-tiba berhenti di sebuah tempat yang sepi. Orang-orang di belakangnya pun segera melakukan hal yang serupa.


"Zhang Fei, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya gadis itu kembali.


"Kita langsung masuk ke bagian dalam. Kalau ada anggota mereka yang mencari mampus, berikan pelajaran saja. Tapi kalau tidak ada, biarkan mereka pergi,"


"Baik, kami mengerti,"


Selesai memberikan instruksi, mereka segera kembali melanjutkan langkah yang berikutnya.


Tidak lama kemudian, mereka segera melihat adanya sebuah kuil yang berdiri megah dan kokoh. Dari kejauhan, kuil tersebut terlihat cukup besar.


"Itulah Kuil Kehidupan," ujar Yin Yin sambil menunjuk ke depan sana.


"Baiklah. Mari kita percepat langkah," kata Zhang Fei penuh semangat.


Wushh!!! Wushh!!!


Mereka langsung meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, para pendekar tersebut sudah berhasil tiba di depan kuil.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera menyerbu ke dalam. Dua orang penjaga yang ada di kanan kiri gerbang tampak tergeletak di atas tanah.


Zhang Fei tidak terlalu menghiraukan mereka. Sebab dia sudah tahu apa yang telah terjadi kepadanya.


Para pendekar itu kemudian berhenti tepat di tengah-tengah halaman depan. Keadaan di sana masih sepi. Anggota yang ada pun tidak begitu banyak.


"Siapa Ketua di Partai Pengemis Hitam ini? Keluarlah sekarang juga! Kalau tidak, jangan salahkan aku jika markas rampasan kalian ini akan hancur," kata Zhang Fei sambil berteriak keras.


Suaranya menggelegar. Dalam radius belasan meter, suara itu rasanya bisa didengar dengan jelas.


Baru saja gema suaranya selesai, mendadak dari dalam kuil ada lima orang yang berjalan keluar. Mereka langsung menatap Zhang Fei dan yang lainnya dengan tatapan marah.


"Siapa yang barusan berteriak?" tanya seorang tua yang berdiri di posisi paling tengah.


"Aku," jawab Zhang Fei dengan cepat. "Kenapa? Kau tidak suka?"


"Hemm ... bocah dari mana yang berani membuat masalah denganku?" orang tua itu semakin marah. Apalagi setelah mengetahui bahwa orang yang berteriak itu adalah pemuda.


Tetapi, kemarahannya tersebut tiba-tiba sirna setelah seorang di sisinya berbisik di telinga. Sesaat kemudian, dia malah terlihat kaget. Namun kekagetan itu pun langsung hilang dan digantikan dengan anggukan kepala beberapa kali.


"Ya, memang aku," jawab Zhang Fei dengan jujur.


"Bagus. Bagus sekali. Kabarnya, kau mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Aku jadi penasaran ingin mencobanya,"


"Boleh saja. Aku siap untuk melayanimu, tua bangka," katanya seraya tersenyum sinis.


Suasana di sana langsung tegang. Para tokoh kelas atas yang sudah berhadapan itu, saat ini sedang saling pandang satu sama lain.


"Aku rasa, kau sudah tahu apa tujuanku kemari. Jadi menurutku, kita tidak perlu lagi basa-basi," lanjut Zhang Fei.


"Tentu saja. Lagi pula, aku bukan orang yang suka basa-basi,"


Orang tua itu lalu menengok ke kanan kiri. Tadinya, dia berniat untuk memberikan perintah kepada para anggotanya.


Sayang sekali, dia langsung terlihat kecewa sekaligus merasa aneh setelah melihat semua anggota Partai Pengemis Hitam menampilkan ekspresi wajah lesu bercampur pucat.


Dalam waktu yang bersamaan, tanpa sengaja Zhang Fei telah memandang ke atas atap. Siapa sangka, di sana pun terlihat ada tiga orang misterius dengan pakaian serba hitam sekaligus cadar penutup wajah.


Orang yang di tengah-tengah tampak menganggukkan kepalanya ke arah Zhang Fei.


Melihat itu, dia pun segera membalas anggukan tersebut. Tidak lupa, Zhang Fei langsung memberikan isyarat supaya mereka pergi dari sana.


"Siapa dia, Zhang Fei?" tanya Yao Mei tepat setelah kepergian ketiganya.


"Mereka adalah mata-mata. Mereka lah yang telah membuat anggota Partai Pengemis Hitam menjadi seperti sekarang ini," katanya menjawab pertanyaan itu.


Yao Mei langsung tersenyum. Sekarang dia tahu alasan mengapa para anggota itu terlibat lesu dan pucat.


"Ada apa dengan kalian? Mengapa terlihat lesu seperti itu?" orang tua yang diduga menjabat sebagai Ketua Partai Pengemis Hitam langsung marah besar kepada para anggotanya.


Ia memandangi mereka secara bergantian. Biasanya, orang-orang itu akan langsung bertindak setelah melihatnya marah besar.


Tapi sekarang kejadiannya lain. Walaupun sudah memelototkan kedua mata, orang-orang itu tetap tampil seperti sebelumnya.


Karena merasa penasaran, akhirnya ia pun menghampiri salah satu anggotanya. Orang tua itu melayangkan tamparan keras. Tetapi belum sempat tamparan itu menyentuh pipi, tiba-tiba orang yang dituju langsung ambruk ke tanah.


"Sudahlah, semua anggotamu mungkin merasa lelah karena terus dipaksa bekerja. Biarkan saja mereka beristirahat," ucap Zhang Fei sambil tersenyum mengejek.


"Hemm ... apa yang telah kau lakukan kepada mereka?" tanyanya sambil menatap tajam.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Lagi pula, bagiamana mungkin aku bisa melakukan sesuatu? Sedangkan sejak awal saja, aku sudah berhadapan denganmu,"


"Omong omong!" dia membentak marah kepada Zhang Fei. "Serang mereka!" katanya memberi perintah.


Empat orang di sisinya langsung mengambil tindakan. Mereka menerjang ke depan dengan kecepatan tinggi.


Sebelum orang-orang itu berhasil menyentuh tubuh Zhang Fei, enam orang anggota Partai Pengemis tampak maju ke depan. Mereka segera menghadang kedatangan musuh-musuhnya.


Dalam waktu yang bersamaan, Yao Mei dan Yin Yin pun ikut mengambil langkah serupa. Kedua gadis itu menyambut serangan yang dilancarkan oleh Wakil Ketua Partai Pengemis Hitam.


Pertarungan di halaman itu pun langsung terjadi. Mereka yang terlibat segera mencari tempat yang lebih leluasa.


Ketua Partai Pengemis Hitam menggertak giginya. Dia benar-benar kesal dengan kejadian ini.


"Orang tua, mengapa kau masih diam di tempatmu? Apakah kau takut bertarung denganku?" tanya Zhang Fei seraya tersenyum dingin.


"Tutup mulutmu, bocah ingusan!" bentaknya sambil menunjuk ke arah wajah Zhang Fei. "Tidak ada sejarahnya si Raja Pedang Langit takut kepada pemuda kemarin sore sepertimu!"


"Hahaha ... benarkah? Kalau begitu, lalu kenapa kau tidak segera memulainya? Bukankah kau ingin menguji sampai di mana kemampuanku?"