
"Sepertinya kau sudah tidak sabar. Tapi baiklah, mari kita mulai sekarang," kata Lu Bai dengan tegas.
Dia segera memberikan kode isyarat kepada orang-orang untuk mundur ke belakang. Setelah mereka berada di tempat semula, Ketua Perguruan Harimau Utara itu kembali bicara.
"Dalam duel ini, siapa yang menang dan siapa yang kalah, baru bisa ditentukan setelah ada salah satu pihak yang mati ataupun menyerah. Jadi sebelum adanya hal seperti yang baru saja disebutkan, maka duel akan tetap berlangsung,"
Lu Bai berkata dengan suara keras. Sehingga semua orang yang hadir bisa mendengarnya dengan jelas.
"Baik, aku setuju," kata Zhang Fei. "Tapi, kalau aku menjadi pemenang, mungkinkah orang-orangmu itu akan membalaskan dendam kepadaku?"
"Tidak. Mereka sudah aku perintahkan supaya jangan mencampuri urusan ini. Duel ini hanya menyangkut antara kau dan aku. Siapa pun tidak boleh ikut terlibat. Termasuk juga anakku sendiri,"
"Baiklah. Aku mengerti,"
Zhang Fei merasa lega. Itu artinya, masalah hanya akan sampai di sini saja. Tidak akan sampai panjang dan berlarut-larut.
Sementara itu, jumlah pendekar yang hadir di halaman tersebut tampak semakin banyak lagi. Mereka semua sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan duel yang nampaknya akan berjalan seru itu.
Lu Bai segera mengambil sikap kuda-kuda. Golok tajam yang tersoren di pinggangnya segera dicabut keluar.
Senjata yang diberi nama Golok Raja Harimau itu diangkat ke atas. Batang golok yang tertimpa sinar matahari sore langsung mengeluarkan cahaya putih keperakan. Dari sini, siapa pun bisa menilai seberapa tajam senjata pusaka itu.
Melihat lawannya sudah siap, Zhang Fei juga segera melakukan hal yang sama. Dia mengambil pedang yang berada di punggungnya, lalu kemudian menyiapkan kuda-kuda.
"Kenapa kau tidak mencabut pedangmu dari sarungnya?" tanya Lu Bai sedikit merasa heran.
"Tidak perlu. Sebab pedangku hanya akan keluar apabila situasinya sudah benar-benar mendesak," jawab anak muda itu dengan santai.
"Kau serius?"
"Aku serius,"
"Baiklah," Lu Bai menurunkan kembali goloknya. Ia berkata kepada semua orang yang hadir di sana. "Saudara sekalian, aku rasa kalian sudah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pendekar ini. Jadi, tolong jangan sebut aku melakukan sebuah kecurangan apabila dia mati sebelum mencabut pedangnya,"
Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi dia bersikap sombong dan terlalu percaya diri.
Setelah mendengarkan ucapannya barusan, ada banyak orang yang menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa mereka percaya. Tapi di satu sisi, tidak sedikit pula para pendekar yang justru malah mencacinya diam-diam.
"Anak muda, bersiaplah!" katanya sambil menyiapkan kuda-kuda kembali.
Wushh!!!
Sesaat kemudian, dia langsung turun tangan. Tusukan golok datang dari depan. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki olehnya ternyata cukup lumayan.
Wutt!!!
Dengan gerakan santai dan sederhana, Zhang Fei telah berhasil menghindari serangan lawan yang pertama.
Lu Bai tidak berhenti begitu saja. Golo Raja Harimau kembali berkelebat ketika serangan pertama tadi gagal. Kali ini, dia langsung mengeluarkan jurus golok andalan dari Perguruan Harimau Utara.
"Golok Harimau Melayang Bebas!"
Wutt!! Wutt!!!
Bayangan golok berkelebat dengan cepat. Hawa golok terasa begitu pekat. Sebelum serangannya benar-benar tiba, deru angin tajam yang dapat merobek kulit sudah dirasakan lebih dulu.
Zhang Fei tersenyum dingin dari balik cadarnya. Walaupun jurus golok itu cukup berbahaya, tapi rasanya masih belum cukup untuk membunuhnya.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Sepuluh jurus sudah berlalu kembali. Selama itu Lu Bai selalu berada di pihak yang melancarkan serangan. Sayangnya semua yang dia lakukan tidak memberikan hasil memuaskan.
Zhang Fei selalu saja berhasil menangkis setiap serangan goloknya. Malah hebatnya lagi, dia melakukannya dengan sangat tenang dan santai.
Hal ini bisa disaksikan dengan jelas oleh para pendekar kelas atas yang secara kebetulan hadir dan melihat jalannya duel tersebut.
"Siapa pendekar bercadar itu?" tanya salah satu 'penonton' kepada rekan di sisinya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia masih muda,"
"Benar. Dia memang pendekar muda," jawab yang lain.
"Tapi ternyata kemampuannya sudah cukup tinggi. Aku rasa, orang yang mengaku Ketua Perguruan Harimau Utara itu telah menemui kesialannya,"
"Itu sudah pasti. Lihat saja, selama sepuluh jurus ini, serangan mana yang berhasil membuat musuhnya terdesak? Bukankah semua usahanya sia-sia?"
Pembicaraan di antara mereka terus berlanjut. Sekarang, setelah duel itu berlangsung, kebanyakan dari orang-orang itu sudah bisa menilai siapa sebenarnya yang mempunyai kemampuan tinggi.
Ketika semua orang sedang fokus ke arena, tiba-tiba ada satu tokoh dunia persilatan yang berbicara lagi.
"Pendekar muda itu bukan orang sembarangan. Ilmu pedangnya sudah sangat tinggi. Aku sangat yakin bahwa dialah yang akan menang,"
"Ya, betul. Aku juga berpendapat demikian,"
"Rupanya orang bermarga Lu itu sudah menggali kuburannya sendiri,"
Sementara itu, bersamaan dengan pembicaraan tersebut, di arena pertarungan saat ini terlihat bahwa Lu Bai telah meningkatkan tenaganya.
Goloknya semakin menyambar-nyambar ke setiap sisi. Semua jalan keluar Zhang Fei sudah tertutup rapat. Biasanya, dengan situasi seperti itu, orang yang diserang akan terdesak hebat. Malah tidak mustahil pula dia akan kalah dalam waktu singkat.
Namun ternyata kejadian yang berlangsung selanjutnya sangat berbeda. Zhang Fei selalu berhasil keluar dari situasi terdesak.
Pendekar muda itu seperti angin yang bebas berhembus ke arah mana pun. Dia bisa bergerak dengan leluasa tanpa ada sesuatu yang mampu menghambatnya.
Dua puluh jurus sudah lewat. Orang-orangnya Perguruan Harimau Utara mulai merasakan firasat yang tidak enak.
Mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya saat ini. Semua yang terjadi seperti mimpi.
Bagaimana mungkin pendekar muda itu bisa meloloskan diri dari serangan golok yang sangat rapat?
Sungguh, hal ini benar-benar jauh diluar dugaan mereka.
Tidak hanya itu saja, Lu Bai pun merasakan hal yang serupa. Padahal dirinya sudah mengeluarkan rangkaian jurus pamungkas, tapi kenapa sampai sejauh ini dia masih belum mampu mengalahkannya?
Memang benar dia selalu berada di posisi menyerang. Tapi kalau serangannya itu tidak membuahkan hasil, bukankah itu sama saja bohong?
Dalam pada itu, Zhang Fei sebenarnya sudah mulai mengeluarkan salah satu ilmu andalannya.
Jurus Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan digelar tepat pada waktunya. Walaupun ia belum mencabut pedang, tapi tetap saja bahaya yang dihasilkan tidak bisa dipandang remeh.
Hal itu terbukti sekarang. Setiap terjadinya benturan nyaring, Lu Bai selalu merasakan tangannya pegal dan panas.
Ketika pertarungan di antara mereka mencapai jurus keempat puluh, pada saat itulah secara tiba-tiba Zhang Fei mencabut Pedang Raja Dewa.
Wutt!!!
Kilatan pedang melesat bagaikan meteor di tengah malam. Gerakannya sangat cepat. Bahkan yang mampu melihatnya dengan jelas, hanya segelintir orang saja.