
Zhang Fei menjawab dengan ekspresi wajah serius. Setelah mendengar penjelasan Yin Yin, timbul dalam hatinya niat ingin membantu masalah gadis itu.
Apalagi kalau dijelaskan lebih jauh, masalah ini bukan hanya menyangkut Partai Pengemis, namun juga menyangkut orang banyak.
Sementara itu, Yin Yin terlihat sangat bahagia setelah mendengar persetujuan dari Zhang Fei. Sepasang bola matanya tiba-tiba bersinar terang.
"Zhang Fei, kau ... kau serius?" tanyanya memastikan.
"Ya, aku serius, Yin Yin. Aku bersedia membantumu,"
"Terimakasih ... aku benar-benar berterimakasih kepadamu," Yin Yin bangkit berdiri. Ia kemudian membungkukkan badan ke arah Zhang Fei.
"Aih, sudahlah. Tidak perlu berlebihan seperti ini," pinta Zhang Fei supaya gadis itu tidak bersikap berlebihan. "Ngomong-ngomong, aku masih ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan,"
"Apa itu? Tanyakan saja,"
Zhang Fei tersenyum. Kemudian dia langsung bertanya. "Kalau boleh tahu, siapa yang menyuruhmu kemari? Apakah Tuan Mu Bai?"
Ia curiga. Zhang Fei menduga bahwa kedatangan Yin Yin pasti karena perintah dari kakeknya, Pengemis Tongkat Sakti. Apalagi, ia tahu betul bahwa orang tua tersebut menjabat sebagai ketuanya.
Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba Zhang Fei kaget saat melihat gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan, sama sekali bukan," jawabnya menegaskan. "Aku kemari karena keinginanku sendiri. Sejak satu tahun yang lalu, Kakek tidak pernah banyak ikut campur lagi terkait hal-hal yang berhubungan dengan Partai Pengemis. Sebelum jatuh sakit, dia lebih suka duduk diam sambil memberikan pelajaran kepadaku,"
"Eh, kenapa? Kalau seperti itu, lalu siapa yang mengurus Partai Pengemis?" tanya Zhang Fei semakin heran.
"Aku," jawab Yin Yin sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kau?" Zhang Fei terlihat seperti orang bingung. Agaknya ia masih belum mengerti maksud perkataan gadis itu.
"Ya, aku," katanya mengangguk. "Kenapa? Kau seperti terlihat tidak percaya,"
"Bukan begitu maksudku, Yin Yin. Aku hanya heran saja, bukankah Tuan Bai adalah Ketua Partai Pengemis? Lalu mengapa dia malah menyuruhmu untuk mengurus semua persoalan di sana? Harusnya kan dia sendiri yang mengurusnya,"
"Hihihi ..." gadis itu tertawa manja. Suara tawanya masih menggoda. Masih terdengar polos seperti layaknya anak-anak. "Itu kan dulu, sejak satu setengah tahun yang lalu, Kakek telah memutuskan untuk berhenti sebagai Ketua. Dan aku menggantikan posisinya itu,"
"Hah?" Zhang Fei langsung bengong. Dia benar-benar kaget dengan pengakuan Yin Yin. "Kau ... kau tidak bercanda, bukan?"
Yin Yin tersenyum puas melihat keterkejutan Zhang Fei. Sebagai jawabannya, gadis cantik itu langsung mengeluarkan sebuah lencana dari balik saku bajunya.
Ia meletakkan lencana tersebut di atas meja. Sehingga Zhang Fei bisa melihatnya secara jelas.
"Apakah kau masih belum percaya?" tanyanya sambil mendekatkan wajah.
Zhang Fei tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih memandangi kencana yang kini sudah berada di atas meja.
Lencana itu benar-benar merupakan lencana seorang Ketua Partai Pengemis. Zhang Fei bisa melihat tulisannya dengan jelas.
Sekarang, kalau bukti sudah ada di depan mata, bagaiamana mungkin dia masih tidak percaya?
"Hebat ... benar-benar hebat," kata Zhang Fei memujinya dengan tulus.
"Apa? Siapa yang hebat?" tanya balik Yin Yin.
"Tentu saja kau, Yin Yin,"
"Hemm ... mengapa bisa kau sebut hebat?"
"Bayangkan saja, di usia yang begitu muda, kau bahkan sudah berhasil menjabat sebagai Partai Pengemis. Bukankah ini pencapaian yang sangat hebat?"
Untuk bisa menjabat sebagai Ketua di sebuah partai besar itu tidaklah mudah. Apalagi dalam usia yang cukup muda.
Maka dari itu, rasanya tidak terlalu berlebihan kalau Zhang Fei benar-benar memuji gadis cantik tersebut.
"Ah, kau bisa saja. Lagi pula, semua ini adalah kemauan Kakek. Kalau dia tidak terus-menerus memaksa, aku lebih baik tidak menggantikan posisinya,"
"Mengapa, Yin Yin?"
"Karena ternyata menjadi Ketua itu tidaklah mudah. Setiap hari, aku selalu saja disibukkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan partai," Yin Yin mengeluh.
Terkadang dia merasa ingin mundur saja. Tapi ketika mengingat bahwa kakeknya menaruh harapan besar, sontak keinginan tadi langsung hilang tanpa bekas.
"Tapi, ada seseorang yang lagi yang bahkan jauh lebih hebat dariku," ucapnya setelah beberapa saat terdiam.
"Siapa orang itu?" tanya Zhang Fei dengan polos.
"Kau ... orang itu adalah kau, Zhang Fei," ujarnya sambil menunjuk. "Di usia muda, kau sudah menjadi seorang Ketua Dunia Persilatan. Kau menjadi orang pertama dalam rimba hijau. Bukankah itu artinya, kau jauh lebih hebat dariku?"
Seketika Zhang Fei langsung diam membisu. Dia tidak tahu harus berkata bagaimana lagi.
Untuk mencairkan suasana, Zhang Fei kemudian menuangkan arak ke dalam cawan. Ia menghabiskan dari cawan arak dalam satu lagi teguk.
Dua tokoh besar angkatan muda itu kembali melanjutkan pembicaraannya. Setelah selesai membahas hal-hal penting, masing-masing segera menceritakan pengalaman pribadinya.
Ternyata setelah kejadian di Rawa Iblis itu, Yin Yin tidak pernah lagi pergi mengembara. Pengemis Tongkat Sakti melarangnya untuk bepergian ke dunia luar.
Semenjak saat itu, Yin Yin terus berada di lingkungan markas Partai Pengemis. Setiap harinya, Pengemis Tongkat Sakti selalu mengajarkan berbagai macam hal kepada Yin Yin.
Mulai dari bangun sampai mau tidur lagi, ia terus disuruh untuk belajar. Mulai dari belajar ilmu pengetahuan, sampai belajar ilmu silat.
Semua itu diajarkan langsung oleh Pengemis Tongkat Sakti. Sehingga Yin Yin pun tidak bisa lagi memberi penolakan.
Sepanjang pertemuan tersebut, gadis cantik itu terus menceritakan pengalaman pribadinya sebelum diputuskan untuk menjabat sebagai Ketua.
Zhang Fei sendiri tidak terlalu banyak bicara. Dia lebih senang mendengarkan Yin Yin bercerita. Tanpa mereka sadari, arak yang tadi dipesan sudah mulai habis.
Tanpa mereka sadari pula, hubungan di antara keduanya menjadi lebih dekat lagi.
Beberapa waktu kemudian, Yin Yin meminta Zhang Fei untuk menceritakan pengalaman pribadinya. Ia pun setuju.
Ketua Dunia Persilatan akhirnya bercerita panjang lebar terkait pengalaman apa saja yang dia alami selama beberapa tahun belakangan.
Kini giliran Yin Yin yang menjadi pendengar. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak hanya itu saja, bahkan diam-diam gadis itu pun menikmati ketampanan pemuda di hadapannya.
Setelah hari mulai masuk sore, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.
"Mungkin dalam waktu tiga hari ke depan, aku akan langsung menuju ke markas Partai Pengemis," ucap Zhang Fei sungguh-sungguh.
"Baiklah. Aku akan menunggu kedatanganmu di sana,"
"Baik,"
"Kalau begitu, aku pergi dulu,"
Mereka sama-sama berdiri dan memberikan hormat. Setelah itu, keduanya langsung keluar dari Rumah Makan Kebahagiaan dan segera berpisah ketika tiba di perempatan jalan besar.
"Aku masih tidak menyangka, ternyata dia berhasil menduduki posisi Ketua," gumam Zhang Fei sambil memandangi kepergian mereka.